Saturday, November 29, 2008

Being a Housewife

I really wish I can be a full-time housewife. But nowadays being a full-time housewife is a luxury only several people can enjoy. Because in this modern world, kids need not only love to grow, but also enough money for proper education and nutrition. And to achieve that, they need both parents working.
We live in such a hectic world. In the past, women for centuries fight for their rights to be consider equal with men, to have jobs that usually only men can do, to have rights to vote, to have the right to determine having her baby or not, etc, etc. But these days, being a working mother is the hardest thing to do. Working mothers are the busiest person in the world. Being a working mother is almost imposible to be done. One should always need a hand, wheter from some relatives or a proffesional babysitter or housekeeper to get things done.
It is true that men and women are suppose to have equal rights. Because we're all have the same value in the eye of God. But it's different between having the same value and being the same in every ways. Men are men with their own special characteristics, so are women. God wouldn't create two kinds of gender if it is the same between male and female. There ought to be a purpose of being a man or a woman. Especially in the term of a family.It's been said that a man is the head of a family, but a woman is the heart of a family. Men directs the family in it's pilgrimage in this mortal world, but women sustain the family from within. If one fails to do his/her part, the whole building of a solid family shall crumble. It cannot maintain its balance.
It's true that God doesn't forbid women to work, He even encourage women to do so to help the economics of the family (Proverbs 31:13,16,18,24), but as also described in those passage in Proverbs, the role of a woman in a family is remarkable, almost unbeliveable! Besides working, the main tasks of a housewife has to be done! One cannot use her work as a reason to abandon family tasks. It has to be done equally neat! And in doing so, she mustn't whine, she has to stay happy and joyful all the time for the sake of her family being. Gosh. Can it really be done? Of course I believe in biblical term, mothers works as a side job. The main duty is to take care of the family.
I wish I can be a housewife that my family can be proud of.........

Saturday, November 8, 2008

The Saviour was a Baby!

Fakta bahwa Kristus menjadi manusia dengan lahir ke dunia sebagai seorang bayi laki-laki tidak pernah mengusik pikiranku selama ini. Kisah itu, mungkin karena saking seringnya dikisahkan berulang kali, terasa biasa dan kehilangan keagungannya. Sampai suatu waktu, tiba satu episode baru dalam kehidupanku, aku menjadi ibu dari seorang bayi!Begitu bayiku lahir, ia menangis begitu keras. Bidan mendekatkannya padaku dan ia belajar menyusu melalui nalurinya. Ia tampak begitu mungil, tak berdaya. Bagaimanakah Bayi Kristus belajar menyusui? Bagaimana mungkin TUHAN yang menciptakan payudara, harus menggantungkan hidupNya, perkembangan otak dan giziNya, pada susu yang dihasilkan payudara seorang Maria?
Ketika aku melalui sleepless nights, periode tidur tidak teratur karena menyusui dan mengganti popok, aku mengingat Maria yang harus mengganti popok Bayi Yesus, yang meski adalah TUHAN, tentu saja belum mampu mengganti popokNya sendiri!! Dan Yesus yang mungil harus menggunakan bahasa bayi untuk berkomunikasi, yaitu menangis, setiap merasa lapar, atau mulas, atau tidak nyaman, atau bahkan sakit. Ketika bayiku menatap wajahku, tersenyum dan tertawa, aku merasakan gelombang kebahagiaan menerpa diriku. Apakah yang dipikirkan bayi Kristus ketika digendong dan ditatap bundanya? Sukar untuk membayangkan Tuhan, Pemilik Semesta, menjadi suatu makhluk yang sungguh tidak berdaya dalam tanggung jawab ayah bundanya.
Merenungkan ini membuatku terhenyak dan tersadar akan betapa pentingnya peran orangtua. Kita takkan pernah tahu masa depan anak kita. Mungkinkah ia akan menjadi superhero yang menyelamatkan dunia? Maka itu tak mungkin terjadi bila kita tidak membesarkannya dengan baik. Yesus sendiri telah merasakan pendidikan dan asuhan dari orangtua, dan ia telah merasakan bagaimana menjadi seorang bayi. Maka di saat-saat tersukar dalam kehidupanku sebagai seorang ibu, aku beroleh kuat karena Yesus tahu pergumulanku, dan Ia pula tahu apa yang dirasakan anakku.
Yes! My Saviour was a Baby! And I'm glad that He was.

Tuesday, November 4, 2008

Hal Berdoa

Manakah yang tepat: mengimani doa atau mengimani Sang Penjawab Doa?

Mengapa kita harus berdoa padahal kita tahu bahwa TUHAN tahu apa yang kita inginkan dan bahwa TUHAN sudah punya rencana yang terbaik bagi kita?

Kontemplasiku, peran doa sebenarnya adalah sebagai alat untuk menunjukkan penyerahan diri, suatu total submission, yaitu bahwa hanya pada TUHANlah kita mencari pertolongan, BUKAN sebagai alat untuk memaksa TUHAN melakukan apa yg kita kehendaki. Kala kita berdoa, Tuhan mendengarkan dengan sabar setiap keluhan bahkan kecewa dan murka kita, sambil menyelidiki hati kita adakah satu noktah kecil kesombongan yang ingin membelokkan rencana kekalnya dibawah kehendak kita yang fana.
Tuhan memberkati doa--sebagaimanapun pahitnya doa kita, bahkan doa yang tak mampu terucapkan dalam kata--yang diserukan dalam ketidakberdayaan kita. Doa yang mampu 'menggerakkan' hati TUHAN adalah doa yang dipohonkan dengan sungguh dalam penyerahan diri total sebagai tanda bahwa sungguh-sungguh tidak ada yang sanggup menolong kita selain TUHAN, yang berarti kita beriman bahwa TUHAN adalah ALLAH yang memegang otoritas atas kehidupan kita, dan bukan doa yang didasarkan pada keyakinan tidak berdasar bahwa jika doa disampaikan berulangkali pasti kita mampu menundukkan kehendak Allah.
Lihat saja Musa dan Abraham yang dalam iman mampu "tawar menawar" dengan Tuhan. Sepertinya Tuhan menyerah dengan tuntutan mereka. Benarkah? Namun tdk ada yang dapat membelokkan rencana Allah. Meskipun jalan mesti berkelok, arah menuju tujuan yang telah ditetapkan Tuhan takkan pernah mungkin terganti. Musa tetap menjadi pemimpin bangsa
Israel meski ada Harun sebagai mulutnya, dan bukan kebetulan Harun menjadi cikal bakal kaum Lewi yang memiliki fungsi khusus di hadapan Tuhan. Di hadapan Tuhan, Musa merendahkan diri di bawah otoritas Tuhan. Abraham pun demikian ketika memohonkan keselamatan bagi Lot
dan keluarganya. Lalu bagaimana dengan Maria ibu Yesus yang harus menanggung malu,
hamil di luar nikah, namun dengan penuh kerendahan hati dan kebesaran iman sanggup berkata, "Sesungguhnya aku adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut kehendakMU." Apakah Tuhan tidak adil, sehingga keinginan terdalam dari Maria untuk hamil secara normal tak
dikabulkannya? Lalu bagaimana dengan Yesus sendiri? Kurang berkuasakah Dia untuk dapat "mengubah" kehendak Bapa?
Doa yang benar adalah doa yang dibawa dalam iman pada Sang Penjawab Doa. Doa yang benar adalah doa yang dipohonkan dengan keyakinan bahwa apapun jawaban Tuhan terhadap doa kita, di ujung penantian kita hanya kebaikanlah yang akan nyata, yang datang dari rencana Tuhan yang sempurna. Doa adalah pernyataan iman kita secara vertikal kepadaNYA.

Inilah kontemplasiku, karena sungguh Tuhan telah menjawab doaku dengan berbagai cara, yang mudah dan yang paling pahit, dan menunjukkan kasihNYA yang sempurna lewat rencanaNYA yang tak terduga namun indah tiada taranya.

Tuhan memberkati kita semua yang berdoa dengan kerendahan hati.

Wednesday, October 29, 2008

Welcome Our Baby Boy!

Chrysopras Tecza Elijah Rompas, lahir di Manado 29 Okt 2008 jam 04.22. BBL 3200 gram, PBL 49 cm. All praise be unto God!

Sunday, October 26, 2008

PERSONAL REVIEW ON “HIS DARK MATERIAL” TRILOGY

“Suatu upaya yang menyedihkan untuk meniadakan TUHAN.”
Suatu sensasi yang menegangkan akan menjalari tengkuk dan mengaduk-aduk nalar ketika membaca lembar-lembar awal The Golden Compass, buku yang mengawali trilogi ini. Bagaimana tidak? Ternyata hati nurani—jiwa—yang diperdebatkan oleh ribuan cendekiawan sepanjang masa di seluruh dunia adalah sesuatu yang nyata, bahkan sesuatu yang fisik di dunia Lyra. Semua istilah, penamaan, dan analogi dilahirkan dari pemikiran yang mendalam akan tujuan atau kesan yang ingin dicapai oleh pengarangnya.

Saya terutama merasa tertantang dengan ide brilian yang ditawarkan Phillip Pullman melalui penggambaran kondisi ‘manusia’ di dunia Lyra dan Pantalaimon. Lyra dan Pantalaimon adalah satu ‘manusia’ dengan dua eksistensi. Lyra adalah tubuh fisik manusia, dan Pantalaimon adalah jiwanya. Bayangkan bagaimana menggembirakannya dapat bercakap-cakap sambil bertatap muka dengan jiwamu! It’s all poets’ wildest dreams come true!

Dengan jenius Pullman menggambarkan bagaimana daemon—jiwa—seseorang mengambil wujud hewan yang menyerupai sifat manusianya, bagaimana wujud daemon anak-anak dapat berubah-ubah dan daemon orang dewasa telah mengambil wujud yang tetap, bagaimana tubuh dan jiwa akan saling merindukan dengan kerinduan yang hebat bila terentang oleh jarak, dan bagaimana tubuh tanpa jiwa—yang diceritakannya dengan sangat baik melalui analogi ‘pemotongan’ ikatan tak terlihat antara manusia dengan daemonnya—akan menjadi makhluk kosong tanpa motivasi yang hampir-hampir dapat disebut gila.

Itu barulah permulaannya. Dalam buku bagian pertama kita diantar melihat dari dekat dunia Lyra, dunia yang tidak pernah kita kenal, dan dipaksa untuk melihat di dalamnya banyak kemiripan dengan dunia yang kita tinggali ini. Namun disini saya harus mengatakan, kemiripannya menyimpang! Di dunia Lyra dan Pantalaimon, segala sendi kehidupan manusianya diatur dengan ketat oleh gereja. Bahkan cabang-cabang sainsnya pun dinamai dengan istilah ‘gerejawi’, misalnya saja ilmu ‘teologia percobaan’. Cabang teologia percobaan inilah yang kemudian meneliti sesuatu yang dianggap tabu oleh ‘gereja’ dan menjadi pusat segala kejadian yang berlangsung di sepanjang ketiga buku ini, sesuatu yang disebut sebagai ‘debu’.

Buku pertama saya tutup dengan puas, meskipun sedikit terusik dengan ide evil church-nya Pullman, dengan menyimpan rasa penasaran akan misteri yang dititipkan oleh penulis akan petualangan Lyra dan Pantalaimon selanjutnya ketika mereka memutuskan akan memasuki dunia lain yang dibuka oleh ayahnya, Lord Asriel. Di akhir buku satu, saya menyempatkan diri untuk merenungkan tentang ‘debu’ yang diajukan oleh Pullman. Menurut penuturan Lord Asriel, ‘debu’ adalah partikel dasar jenis baru yang diteliti oleh Rusakov yang banyak menempel pada orang dewasa namun sangat sedikit pada anak-anak. Rusakov kemudian membuat ‘gereja’ sangat ketakutan dengan penelitiannya dan melakukan upacara pengusiran setan terhadapnya. ‘Debu’ menurut Lord Asriel adalah bukti fisik dosa asal, bahwa menurut ‘alkitab’ versi dunia Lyra ketika Hawa memakan buah pohon di tengah-tengah taman, mereka melihat bentuk sejati daemon mereka, bahwa ketika Tuhan berkata pada Adam ia akan kembali menjadi debu yang dimaksud sesungguhnya adalah bahwa debu akan menguasainya dan bahwa secara tidak langsung Tuhan mengakui sendiri bahwa sifatNya sebagian mengandung dosa—yang mana saya rasa awal dari istilah His Dark Material atau Materi GelapNya. Inilah yang saya maksud dengan kemiripan yang menyimpang! Pullman melakukan analogi dengan menyimpangkannya menurut pemahamannya yang disini mulai saya lihat skeptis—kalau tidak bisa disebut membenci—terhadap gereja yang sejati.

Ketika membaca The Subtle Knife, ke-absurd-an ide anti gereja Pullman makin membengkak, dan meledak menjadi ide anti eksistensi Tuhan pada momen kematian Tuhan—yang disebutnya sebagai Otoritas—dan kroni-kroninya dalam buku ketiga, The Amber Spyglass. Anti klimaks kekonyolan ateistik ini mencapai simpulannya pada saat Lyra, yang ternyata merupakan Hawa kedua, kembali ‘jatuh dalam dosa’ ketika jatuh cinta pada Roger dan melewati masa akil baliq sehingga Pantalaimon secara tetap mengambil wujud burung, simbol kebebasan.

Upaya Pullman lewat trilogi ini untuk membunuh Tuhan yang tidak dipercayainya sepintas tampak berhasil. Idenya bahwa ‘kalaupun Tuhan ada Ia pasti telah sangat uzur sehingga tidak lagi mampu mengurusi dunia’ adalah ide tipikal kaum ateis. Tokoh Mary Malone, si ‘ular’ yang menggoda Lyra dengan kisah tentang daya tarik seksual, seorang ilmuwan dari dunia kita yang adalah seorang mantan biarawati, mengungkapkan buah pikiran Pullman tentang Tuhan yang berhenti dipercayainya namun hidupnya tetap bertujuan karena adanya ‘debu’. Di akhir trilogi ini tersingkap ide yang disamar-samarkan Pullman bahwa kemanusiaan itu ada karena ‘debu’, ‘debu’ itu seks. Adam dan Hawa tidak menyadari mereka telanjang sampai mereka memakan buah pohon pengetahuan baik dan buruk, ketelanjangan yang dipahami Pullman sebagai kesadaran akan adanya daya tarik seksual—hal yang tidak dimiliki oleh anak-anak namun sangat banyak melekat pada orang dewasa, ‘debu’.

Sayangnya ide-ide sesat ini terbungkus dengan manis oleh gula-gula petualangan yang seru dan permainan kata-kata yang menjungkirbalikkan fakta kekristenan, sehingga oleh pihak yang entah sengaja atau karena ketidaktahuannya mengkategorikan edisi terjemahan bahasa Indonesia sebagai Novel Remaja! Bayangkan kerusakan yang akan ditimbulkan apabila novel ini dibaca oleh remaja kristen, yang bahkan saya rasa orang dewasa yang masih remaja rohani-pun akan sedikit goyah oleh ide-ide menyimpang Pullman. Buku ini justru dapat menimbulkan kerusakan yang lebih besar dibandingkan dengan yang dapat ataupun telah ditimbulkan oleh The Da Vinci Code milik Dan Brown, sebab Dan Brown memaksakan ‘fakta’ yang dapat diuji melalui pembuktian ilmiah dan penggalian fakta, namun Pullman menyajikan fiksi yang melambungkan imaji pembaca ke tingkat yang tidak dapat diuji melalui pembuktian ilmiah, hanya dengan nurani.

Awaskah kita menghadapi penyusup-penyusup iman yang halus seperti ini?

ORGANISASI DIRI

What ?
Organisasi adalah "pengaturan" (Ing. "to organize" = mengatur, menyusun)

Why ?
Pengaturan itu penting. Take example from how God works :

KETERATURAN
Ketika Allah menciptakan langit dan bumi, bumi masih belum berbentuk dan kosong, dan Allah memulai “proyek” raksasa untuk mengatur bumi. Allah memisahkan terang dari gelap, Ia menempatkan cakrawala di atas bumi, Ia membuat daratan dan lautan. Kemudian Ia menciptakan benda-benda penerang yang dengan keteraturan yang sempurna menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap (Kej 1:14).Allah menyukai keteraturan! Kita dapat menelusuri seluruh kitab perjanjian lama dan baru, dan kita akan menemukan betapa teratur, rapih, dan tertibnya Allah kita bekerja. Allah kita adalah Arsitek Agung. Ibrani 3:4 berkata “Sebab setiap rumah dibangun oleh seorang ahli bangunan, tetapi ahli bangunan segala sesuatu ialah Allah”. Dialah yang telah mengatur segala sesuatu dengan sempurna dan tepat. Tubuh kita adalah Bait Allah. Maka bila kita ingin diri kita dibangun menjadi sempurna oleh Dia, maka kita harus bekerja sama dengan Dia, Sang Arsitek Agung, dalam ritme keteraturanNya, sebab Allah menginginkan agar dalam tubuh yang dibangunNya terdapat keteraturan. Efesus 2:21 berkata “Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan”. Kita dapat menyenangkan hati Allah yang menyukai keteraturan dengan mengatur hidup kita sesuai dengan kehendak Allah.

SCHEDULING
Allah tidak segera mengirimkan Yesus Kristus untuk menebus manusia setelah dilihatnya bahwa bumi penuh dengan kejahatan (Kejadian 6), mengapa? Karena Allah punya RENCANA. Allah menyusun schedule yang tepat. Yesus Kristus lahir untuk membawa penebusan pada waktu yang tepat. Tepat secara Sosial, Budaya, dan Politik. Ia lahir setelah mind revolution oleh para filsuf yang membuat manusia saat itu telah lebih siap dan terbuka dengan gaya hidup yang menelaah segala sesuatu. Ia lahir saat bahasa Yunani digunakan sebagai bahasa pengantar di seluruh dunia. Ia lahir ketika dunia bersatu di bawah pemerintahan Romawi yang memudahkanNya dalam hal transportasi dalam pelayananNya. Semua kepingan jatuh di tempat yang tepat, karena Allah membuat perencanaan dengan melakukan hal yang tepat pada saat yang tepat.Dalam organisasi diri, kita perlu melakukan hal yang tepat pada saat yang tepat pula seperti Allah. Tapi terkadang kita tidak tahu hal mana yang tepat untuk dilakukan kapan, maka dalam melakukan scheduling, kita perlu mencari kehendak Allah, agar rencana kita dapat sinkron dengan rencana Allah bagi kita. Yesaya 55:8-9 "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu."

How ?
Agar sebuah pengorganisasian berjalan dengan baik, yang terutama dibutuhkan adalah VISI, MISI, dan MOTIVASI. Masing-masing kita perlu menetapkan VMM pribadi. Hal ini tidak mudah dilakukan. Hanya dengan pertolongan Tuhan baru kita bisa sungguh-sungguh menemukan apa sebenarnya maksud Tuhan memungkinkan kita menjalani hidup ini. Visi adalah apa yang kita harapkan untuk kita wujudkan dalam hidup ini. Visi adalah impian, cita-cita, kerinduan, panggilan. Visi adalah apa yang kita lihat sebagai wallpaper maya ketika kita melihat orang sakit, teman-teman, dosen, orang-orang yang tidak kita kenal. Visi menjadi dasar bagi kita dalam menetapkan Misi hidup ini. Misi untuk membawa kemuliaan bagi nama Tuhan lewat hal spesifik yang kita tahu Tuhan bebankan bagi kita. Misi membawa kita menyusun poin-poin tindakan yang harus kita kerjakan dan tidak boleh lalukan. Dalam Misi kita menerapkan prinsip keteraturan dan scheduling dalam mengatur kerja dan tanggung jawab sehari-hari. Dan kita butuh Motivasi iman yang tepat untuk menjalankan semuanya itu.

So, perlukah kita berorganisasi? Perlu! Terutama dengan organisasi kecil : ORGANISASI DIRI.

Sun-JESUS-Rain

Meski aku sangat mencintai suamiku, dan menginginkannya selamanya
disisiku, namun justru besaran cintaku tak mengizinkan egoku mengikat
sayapnya.
Ku relakan ia terbang, mengepakkan sayapnya kuat-kuat, agar ia
mengetahui sejauh mana langit biru dapat dijelajahinya, dan
menaklukkan dunia yang dicengkramnya. Karena sungguh kutahu, sayapnya
terlalu kuat untuk kuberangus dalam sangkar, karena Engkau yang menumbuhkannya.
Satu yang ku tahu, 'pabila sayapnya terluka, bahkan 'pabila patah,
hanya akulah yang mampu menyembuhkannya. Sebab ketika ENGKAU
menyatukan kami di hadapan altarMU, maka satu pula kekuatan kami, satulah tubuh kami.
Telah tertulis dalam telapakMu, ikrarnya untuk menjadi matahariku, dan
ikrarku menjadi hujan yang membasuh penatnya.
Kunanti kasihku disini. Kujagai permata-permata kami, harta kita
paling berharga. Kunanti datangnya disini, membawa jaya ataupun penat,
suka maupun kecewa. Kunanti dengan setia, rengkuhannya sekali lagi.
Saat ini ya Bapa, kuserahkan kasihku, separuh atmaku, dalam dekapmu.
Kutitipkan rinduku lewat doa dan percayaku.
Kaima, 18 Okt '08
(When Enda left for Palu on his first assignment at PT ASKES Kanca Palu)