Tuesday, November 4, 2008

Hal Berdoa

Manakah yang tepat: mengimani doa atau mengimani Sang Penjawab Doa?

Mengapa kita harus berdoa padahal kita tahu bahwa TUHAN tahu apa yang kita inginkan dan bahwa TUHAN sudah punya rencana yang terbaik bagi kita?

Kontemplasiku, peran doa sebenarnya adalah sebagai alat untuk menunjukkan penyerahan diri, suatu total submission, yaitu bahwa hanya pada TUHANlah kita mencari pertolongan, BUKAN sebagai alat untuk memaksa TUHAN melakukan apa yg kita kehendaki. Kala kita berdoa, Tuhan mendengarkan dengan sabar setiap keluhan bahkan kecewa dan murka kita, sambil menyelidiki hati kita adakah satu noktah kecil kesombongan yang ingin membelokkan rencana kekalnya dibawah kehendak kita yang fana.
Tuhan memberkati doa--sebagaimanapun pahitnya doa kita, bahkan doa yang tak mampu terucapkan dalam kata--yang diserukan dalam ketidakberdayaan kita. Doa yang mampu 'menggerakkan' hati TUHAN adalah doa yang dipohonkan dengan sungguh dalam penyerahan diri total sebagai tanda bahwa sungguh-sungguh tidak ada yang sanggup menolong kita selain TUHAN, yang berarti kita beriman bahwa TUHAN adalah ALLAH yang memegang otoritas atas kehidupan kita, dan bukan doa yang didasarkan pada keyakinan tidak berdasar bahwa jika doa disampaikan berulangkali pasti kita mampu menundukkan kehendak Allah.
Lihat saja Musa dan Abraham yang dalam iman mampu "tawar menawar" dengan Tuhan. Sepertinya Tuhan menyerah dengan tuntutan mereka. Benarkah? Namun tdk ada yang dapat membelokkan rencana Allah. Meskipun jalan mesti berkelok, arah menuju tujuan yang telah ditetapkan Tuhan takkan pernah mungkin terganti. Musa tetap menjadi pemimpin bangsa
Israel meski ada Harun sebagai mulutnya, dan bukan kebetulan Harun menjadi cikal bakal kaum Lewi yang memiliki fungsi khusus di hadapan Tuhan. Di hadapan Tuhan, Musa merendahkan diri di bawah otoritas Tuhan. Abraham pun demikian ketika memohonkan keselamatan bagi Lot
dan keluarganya. Lalu bagaimana dengan Maria ibu Yesus yang harus menanggung malu,
hamil di luar nikah, namun dengan penuh kerendahan hati dan kebesaran iman sanggup berkata, "Sesungguhnya aku adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut kehendakMU." Apakah Tuhan tidak adil, sehingga keinginan terdalam dari Maria untuk hamil secara normal tak
dikabulkannya? Lalu bagaimana dengan Yesus sendiri? Kurang berkuasakah Dia untuk dapat "mengubah" kehendak Bapa?
Doa yang benar adalah doa yang dibawa dalam iman pada Sang Penjawab Doa. Doa yang benar adalah doa yang dipohonkan dengan keyakinan bahwa apapun jawaban Tuhan terhadap doa kita, di ujung penantian kita hanya kebaikanlah yang akan nyata, yang datang dari rencana Tuhan yang sempurna. Doa adalah pernyataan iman kita secara vertikal kepadaNYA.

Inilah kontemplasiku, karena sungguh Tuhan telah menjawab doaku dengan berbagai cara, yang mudah dan yang paling pahit, dan menunjukkan kasihNYA yang sempurna lewat rencanaNYA yang tak terduga namun indah tiada taranya.

Tuhan memberkati kita semua yang berdoa dengan kerendahan hati.

No comments: