Wednesday, January 9, 2019

Harta

Matius 6:21 (TB)  "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."

Harta bukanlah selalu berupa uang atau benda. Harta adalah sesuatu yang berharga. Sesuatu yang kita rawat dan lindungi. Sesuatu yang tanpanya kita akan merasa tiada, rentan, kehilangan makna.
Teori2 psikologi mengenai "attachment" dan "cathexis" pada dasarnya merujuk pada kelekatan dan penggunaan energi mental yang besar terhadap hal yang disebut "harta" ini. Respon mental seseorang terhadap kegagalan proses ini berupa cikal bakal terjadinya neurosis.
Firman Tuhan mengingatkan kita untuk melekatkan diri pada "harta" yang sejati, agar kita terhindar dari emosi negatif. Fokus cinta kepada kefanaan tak ayal akan menyimpan ancaman internal akan potensi suatu kehilangan. Fokus cinta pada yang kekal akan senantiasa mengalirkan damai sejahtera yang datang dari iman dan pengharapan akan sesuatu yang takkan binasa.
Rumah, jabatan, pekerjaan, suami, orangtua, anak, kecantikan, kesehatan, semua adalah kesementaraan, sementara pengenalan akan Allah dan ketaatan pada FirmanNya memiliki buah kekekalan.
Sebagai manusia aktualisasi diri merupakan hal yang sangat penting. Jika dilakukan dengan benar akan membentuk kepribadian yang matang, namun jika tidak, maka akan berbalik menyerang diri sendiri. Kebutuhan aktualisasi diri ini terkadang menjadi "harta" yang salah ketika telah dilakukan secara berlebihan dan tidak pada tempatnya. Firman Tuhan juga menegur ini sebagai suatu wujud dosa kesombongan yang tidak disukai Tuhan.
Amsal 8:13 (TB)  "Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat." 
Saat kita mengejar aktualisasi diri, kita bukan saja merugikan diri sendiri karena melekatkan diri pada kebanggaan yang fana, namun juga berdosa terhadap Tuhan, bahkan berlaku tidak taat pada ketetapan Kristus akan syarat menjadi muridNya, yaitu "menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti jejakNya" (bdk Matius 6:24)!
Aktualisasi diri selalu bersumber dari gambar diri dan konsep diri. Gambar diri dan konsep diri yang benar pasti akan menuntun pada aktualisasi diri yang benar. Sebagai ciptaan yang baru, gambar diri dan konsep diri kita telah diperbaharui seutuhnya, maka sikap aktualisasi diri yang akan muncul pastilah berupa buah Roh (bdk Galatia 5:22-23 kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri) dan bukanlah kebencian, kedengkian, kekuatiran, ketamakan, dan lain sebagainya yang adalah buah kedagingan.
Apabila perilaku kita mulai menampakkan  kedagingan, penting untuk menguji hati apakah kita sedang memelihara "harta" yang salah? Terlebih lagi apabila kita mulai merasa tertekan, kuatir dan sedih, periksa kembali hati kita ke "harta" yang mana kita sedang melekatkan hati kita? Dan segeralah kembalikan segala kemuliaan bagi Allah Bapa di Sorga.

Matius 6:19-20, 25, 27, 31-34 (TB)  
"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.
"Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."
--------

I learned the hard way. The world is really not an easy place to learn and practice humility. So help me Lord.🙏