Sunday, December 14, 2025

Menjadi Saksi



Mengabarkan Injil berarti menempatkan diri kita sebagai SAKSI. Seorang saksi adalah orang yang dipercaya memiliki informasi yang benar untuk membuktikan suatu fakta. Bersaksi tentang Kabar Baik berarti kita HARUS sudah mengalami Anugerah yang dikabarkan melalui Injil tersebut, agar orang yang mendengar kesaksian kita yakin akan kebenaran dalam berita kemenangan Kristus.

Memahami ini mestinya membuat kita tidak lagi bingung dengan metode pekabaran injil, karena memberitakan Kabar Baik sesungguhnya adalah seperti menceritakan apa adanya realita keseharian kita bersama Kristus Yang Hidup, sama halnya seperti kita menceritakan keseharian kita dengan keluarga dan pekerjaan kepada teman dan pengikut media sosial kita. Sejauh mana Kristus telah mengubah dan memelihara iman kita, sejauh itulah kesaksian kita kepada orang lain akan dipakai Roh Kudus untuk menanam benih iman di dalam hatinya. Bagian kita bukan untuk menceritakan hal yang di luar pemahaman dan pengalaman kita, tetapi menyaksikan karya unik Allah dalam hidup pribadi kita, karena ketulusan dan kejujuranlah yang akan membuka kunci hati mereka yang terluka dan membutuhkan anugerah.

Persoalannya, apakah kita memberi kesaksian yang benar untuk kemuliaan Allah, ataukah kesaksian yang tidak berdasar yang dibangun atas pemikiran dan ego pribadi?

Markus 14:56 (TB) Banyak juga orang yang mengucapkan kesaksian palsu terhadap Dia, tetapi kesaksian-kesaksian itu tidak sesuai yang satu dengan yang lain.

Sudahkah Anda mengalami Kristus?
Ayo, mari bersaksi dengan jujur dan rendah hati. Izinkan Roh Kudus yang bekerja dan bukan kepintaran metode kita.

Sunday, March 2, 2025

Biblical Psychoanalysis 1: Humanity vs Godliness


Manusia melakukan pemberontakan yang masif dalam kisah menara Babel, hanya beberapa saat setelah kejahatan di bumi dilenyapkan dengan air bah. Secara psikoanalisis bisa dikatakan bahkan pemberontakan itu terjadi secara eksistensial dalam ketiga aspek:

Posisi: #Superego ==> Ingin menjadi setara dengan Tuhan baik secara tempat [Genesis 11:4 (NET) ...a city and a tower with its top IN the heavens > shamayim, God's dwelling place],  maupun secara peran [Genesis 11:3-4 (NET)  Then they said to one another, “Come, let’s make bricks and bake them thoroughly.” (They had brick instead of stone and tar instead of mortar.) Then they said, “Come, let’s build ourselves a city and a tower...]. 
Mereka menolak bahan baku alamiah dari alam ciptaan Tuhan dan menciptakan bahan yang lebih baik daripada batu dan tanah liat. Dari sekedar sebagai ciptaan, mereka ingin menunjukkan diri sebagai pencipta, dan ingin bersemayam di langit. Mereka yakin akan kemampuan sendiri untuk dapat memasuki teritori Tuhan.

Jati diri: #Ego ==> Menolak esensi yang diberikan Tuhan [Genesis 11:4 (KJV) ...and let us make us a name]. Tuhan TIDAK MEMBERIKAN KITA NAMA. [Kejadian 1:26 (TB)  Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." > adamah berarti tanah]. 
Dalam Kej 1:5-10 Allah memberi nama pada alam yang dikuasainya, dalam Kej 2:19 Allah memberi mandat pemberian nama kepada manusia, untuk menamai makhluk hidup lainnya, proses pemberian nama pun diawasi langsung oleh Tuhan. Nama adalah simbol esensi. Nama adalah identitas yang bersifat mengikat dan memiliki batas. Karena itu Tuhan pun tidak punya NAMA, karena Ia adalah dirinya sendiri. Tuhan menyebut kita secara lengkap sebagai [tanah yang dijadikan menurut gambar dan rupa Pencipta untuk berkuasa atas makhluk di bumi] dan tidak pernah menamai spesies kita, tujuannya adalah untuk kita memahami esensi bukan mencitrakan identitas.

Hasrat: #Id ==> Nyata-nyata menginginkan sebaliknya dari yang diperintahkan Tuhan pada Adam dan diteguhkan kembali kepada Nuh, [Kejadian 1:28 Allah memberkati mereka, ... "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu..."] dan [Kejadian 9:1 Lalu Allah memberkati Nuh... "Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi."], bandingkan dengan [Kejadian 11:4 Juga kata mereka: "... supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi."]. 
Dorongan hati yang berkontradiksi dengan maksud dan tujuan penciptaan Tuhan jelas-jelas menunjukkan kerusakan yang sangat luas dan mendasar akibat dosa. Dengan gamblang mereka bukan hanya menyimpang dari jalan yang ditetapkan Tuhan tapi berjalan ke arah yang sebaliknya.


Manusia sejak dulu sudah memiliki konsep humanitarian. Persatuan dan perdamaian membuat manusia menjadi lebih kreatif dan praktis. Ini bukanlah hal yang buruk, bagaimanapun Tuhan memang menciptakan kita segambar dan serupa dengan Allah Trinitas, dan bahkan disenangkan oleh kerukunan dan kreativitas kita. Peristiwa Menara Babel adalah peringatan bagi kita bahwa sometimes humanity is not godliness. Konsep kemanusiaan kita sudah seharusnya bersumber dari konsep Allah tentang manusia, God-centered dan bukan human-centered. 

Remember, human without God's breath is nothing but dirt, so true humanity should be a true humility.


#godlyhumanitarian #biblicalpsychoanalysis


- IR, 2025