Sepanjang sejarah manusia selalu mencari "makna kehidupan". Para filsuf dan ilmuwan selama berabad-abad berusaha memaknai "manusia" dan "kemanusiaan" dengan berbagai definisi dan pendekatan. Dalam pencarian itu konsep "Tuhan" selalu lekat dengan pemaknaan "manusia".
Apakah manusia diciptakan? Apakah manusia merupakan produk kebetulan dari alam yang berevolusi? Mengapa manusia berbeda dari makhluk bumi lainnya? Mengapa manusia memiliki kesadaran? Apa itu penderitaan? Apa itu kebahagiaan? Bagaimana menjalani waktu di antara kelahiran dan kematian? Apakah Tuhan mengatur kita? Ataukah kita semua adalah Tuhan? Dan... Mengapa kita selalu gelisah dan bertanya?
Kita terbelenggu.
Dengan tanya dan logika.
Menjawab berbagai tanya kita mulai melahirkan berbagai konsep dan teori, memberi label terhadap berbagai hal, bahkan terhadap peran yang kita mainkan dalam hidup sehari-hari. "Orang baik" "pengkhianat" "ibu kandung" "orang cacat" "penderita sakit jiwa" "ketua perkumpulan" dan lain sebagainya. Kita menyebut orang dengan labelnya yang kita buat berdasarkan konsep kita terhadap peran.
Bagi manusia, Tuhan adalah konsep. Yang lahir dari tanya dan logika. Tapi kita sesungguhnya mencoba lupa, bahwa konsep terhebat kita tentang Tuhan tak dapat menjawab seluruh tanya kita tentang semesta. Maka satu-satunya jawaban adalah ya, Tuhan bukan ide, bukan konsep, bukan objek, namun adalah realita itu sendiri. Realita tak dapat dikonsepkan, hanya dialami dan diterima. Konsep tak dapat mengubah realita karena konsep hanya cara pandang kita terhadap realita. Kita tak bisa mengubah realita, hanya bisa mengubah perspektif kita terhadapnya.
Realita-lah yang mengubah kita.
Perspektif melahirkan konsep dan konsep melahirkan respon. Kita merespon realita dan tanpa sadar beradaptasi dengannya. Jika kenyataan hidup kita pandang buruk, maka buruk pulalah konsep kita tentang Tuhan bukan? Bukankah itu berarti kita yang secara sepihak memaknai Tuhan dan lupa bahwa realita yang kita pandang buruk sesungguhnya adalah baik dari perspektif semesta?
Definisi ini menjawab segalanya:
Keluaran 3:13-14 (TB) Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? — apakah yang harus kujawab kepada mereka?"
Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu."
AKU ADALAH AKU - merupakan definisi Tuhan tentang dirinya, sebagai realita yang ada, yang dahulu ada, sekarang ada, dan tetap ada sampai akhir masa.
Bebaskanlah diri dari belenggu cemas dan depresi karena berbagai tanya, dan terimalah realita. Terimalah Tuhan sebagaimana adanya, yaitu yang SATU-SATUNYA bisa menjawab pertanyaan semesta: semua karena kehendakNya, dan rancanganNya baik adanya.
Merdeka!
Menyambut kemerdekaan RI - August 2022, eRain@

