Thursday, February 27, 2014

PADA AWALNYA — ALLAH

PENCIPTA KITA

Bacaan: Kejadian 1
NATS: Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (Kejadian 1:1)

Bab pertama Alkitab membahas tentang persoalan hidup yang paling mendasar. Bagian ini menyatakan bahwa Allah mengadakan segala sesuatu. Hal ini seharusnya memengaruhi cara kita menjalani hidup.

Penulis kitab Kejadian membuat pernyataan radikal bahwa ada satu Allah. Tentunya kebenaran ini bertentangan tajam dengan politeisme dan penyembahan berhala pada zaman kuno. Gambaran masing-masing hari penciptaan mencela berbagai dewa yang dipuja oleh para penyembah berhala di zaman Musa, dan menyatakan bahwa semua itu bukanlah allah sama sekali. Mereka hanyalah ciptaan satu-satunya Allah tunggal yang benar dan hidup.

Pada hari yang pertama, dewa terang dan kegelapan disingkirkan; hari kedua, dewa laut dan langit; hari ketiga, dewa bumi dan tumbuh- tumbuhan; pada hari keempat, dewa matahari, bulan, dan bintang; hari kelima dan keenam, dewa binatang. Dan kemudian akhirnya, manusia. Meskipun semua orang dikaruniai oleh citra ilahi, mereka sebenarnya hanyalah makhluk ciptaan dan tidak boleh dipuja.

Penjelasan ini kemudian mendasari perjanjian bangsa Israel dengan Allah. Misalnya, mengapa Sepuluh Perintah Allah melarang penyembahan terhadap allah-allah yang lain? Karena hanya Allah yang menciptakan langit dan bumi. Mengapa pembunuhan tidak dapat dibenarkan? Karena manusia telah diciptakan serupa dengan gambar Allah.

Marilah kita menjadikan pengenalan terhadap Allah yang benar dan hidup menjadi tujuan kita —Haddon Robinson

Tuesday, February 25, 2014

Membenci Diri Mencintai Kekasih?

Satu masalah besar yang dihadapi manusia adalah kecenderungan membenci diri sendiri. Oh, ya. We all hate ourselves! Yang membedakan kita (yang menyebut diri “normal”) dengan mereka yang menderita depresi atau menyalahgunakan narkoba adalah pengekspresian kebencian itu.

Siapakah manusia yang kita sebut berbahagia? Para artis? Bukankah justru mereka memiliki kecenderungan kebiasaan yang merusak diri sendiri? Kalau begitu siapa? Orang kaya? Dokter? Hah! Pada kenyataannya kekayaan tidak mampu membahagiakan seseorang atau mengisi relung kosong yang selalu terasa sepi dalam hati. Bahkan seseorang yang dianggap terpandang dan pekerjaannya dipandang mulia, sebut saja seperti seorang dokter, membenci diri mereka sendiri karena tak ada seorang dokterpun yang mampu mengatasi persoalan seorang pasien sampai benar-benar tuntas. Pengobatan dan penatalaksanaan yang diberikan bagaimanapun baiknya tak lain hanyalah screensaver, yang tatkala riuh kesibukannya mereda dan dia merenungkan pasien-pasiennya satu demi satu, dia akan membenci dirinya hingga taraf tertentu karena tidak mampu memberi apa yang sesungguhnya dibutuhkan pasien. Bahkan dokter-dokter yang materialistis pun sesungguhnya sedang menghukum diri mereka sendiri dengan cara meminta bayaran yang tidak wajar dan mengizinkan diri mereka dibenci oleh masyarakat—dia membenci diri tanpa disadari oleh dirinya yang puas hati dengan kefanaannya.

Manusia selalu tampak egois dan mau memuaskan diri. Apakah karena terlalu mencintai diri? Berhenti di sini. Tanyakan diri Anda. Apakah upaya kita memuaskan diri yang tiada puasnya--bagaikan melempar benda-benda ke lubang hitam galaksi--bukankah justru berasal dari perasaan rendah diri yang terselubung? Ya. Kita cenderung membenci diri kita yang tak berdaya ini, kita ingin menyangkali kenistaan diri kita, betapa kita tak ingin orang lain merendahkan diri kita, kita harus agung! Karena betapa bencinya kita akan keburukan diri kita yang sesungguhnya! Akibatnya kita menghalalkan berbagai cara untuk membuat diri kita terasa berharga, termasuk dengan membuat orang lain merasa tak berarti.

Kebencian terhadap diri sendiri ini sesungguhnya bersumber dari gambar Allah yang rusak saat kita jatuh ke dalam dosa. Tanpa kita sadari alam bawah sadar kita merindukan kedekatan kita dengan TUHAN. Beberapa peneliti bahkan dengan berani menyebut titik ini sebagai “the God Spot”. Kelekatan yang direnggut itulah yang menyisakan ruang kosong yang hanya bisa diisi oleh Dia. Selama Kristus belum menjembatani kita dengan Bapa, ruang kosong itu akan tetap terbuka, kosong, busuk, perih, dan sepi. Tanpa kita sadari kita membawa perasaan tak layak yang disebabkan oleh rusaknya gambar Allah yang sempurna dalam diri kita. Kita akan selalu merasa tidak layak, tidak berharga, tidak dicintai, meskipun kita di mata dunia sesungguhnya adalah seorang yang cantik/tampan, kaya, pintar, berkuasa, dicintai karena baik dan murah hati, bahkan dihargai karena taat beragama, karena yang kita rindukan cinta, pengakuan, dan penghargaannya, adalah yang datang dari TUHAN. Seperti dulu, ketika kita masih berjalan bersisian denganNYA di tamanNYA, bercakap-cakap dan merasakan sukacita dan bahagia sejati, perasaan eksaltasi yang murni.

Pergumulan inilah yang dibawa oleh keturunan Adam di segala tempat dan abad. Manusia mencari-cari dimana bisa menemukan rasa cinta dan penghargaan yang bisa membuatnya merasa “ada”.
Dalam sejarah gereja, Allah selalu rindu membuat jembatan itu. Namun Ia tak dapat menyangkali kekudusanNya. Kita telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah, kita telah rusak dan tidak kudus, dan betapapun besarnya cinta TUHAN pada kita, DIA adalah kudus, dan segala yang tidak kudus akan binasa jika mendekati kekudusanNya. TUHAN memilih bangsa Israel untuk dikuduskan bagi DIA, menjadi perantara untuk rencana pemulihan agung yang sudah dirancangnya sedemikian cermat. TUHAN menurunkan Taurat sebagai bayangan dari apa yang sesungguhnya merupakan kunci keselamatan, diberikanNya serangkaian aturan yang mengikat dan merinci apa yang dosa yang harus dihukum serta apa yang tidak kudus dan bagaimana menguduskannya. Namun dalam nubuat-nubuat melalui nabi-nabiNya TUHAN selalu menyuruh umatNya bersabar dan menantikan keselamatan yang sejati yang masih akan datang bagi seluruh umat manusia melalui bangsa Israel.

Dan ketika Yesus datang, haleluya, kita paham.

Roma 10:4 “Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.” Siapakah Yesus? Yesus adalah kegenapan hukum Taurat, dan Roma 13:10 mengatakan bahwa “kasih adalah kegenapan hukum Taurat”, jadi berarti Yesus = Kasih!

Yesus membuat Kesepuluh Hukum dan semua aturan dalam Taurat Musa menjadi demikian “sederhana” dengan berkata: (Matius 22:37-40) "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Kunci dari keselamatan, kunci dari keutuhan manusia seperti keadaan mula-mula, adalah menyatu kembali dengan TUHAN dengan cara menjadi kudus kembali. Jika Taurat Musa mengajarkan kekudusan, dan seluruh hukum Taurat berintikan KASIH, dan dalam KASIH Kristus telah mati menjadi penebusan bagi dosa-dosa kita, maka benarlah logika berputar bahwa hanya dengan PERCAYA saja dan MENERIMA Dia sebagai TUHAN dan Juruselamat akan membuat kita dikuduskan.

Melakukan hukum Taurat -- Kudus -- Layak diterima TUHAN
Inti dari Taurat = KASIH
KASIH = YESUS KRISTUS
Menerima Yesus (Melakukan ajaran Yesus) -- Kudus  -- Layak diterima TUHAN!!!
“Sesederhana” itulah logika kebenaran Kristus.

Dan Yesus mengajarkan kesimpulan dari hukum Taurat sebagai kunci kesempurnaan kita sebagai manusia baru yang telah dikuduskan olehnya:

  • Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
  • Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.


Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Bagaimana kita mengasihi Tuhan? Dengan TOTALITAS. Hati adalah segenap emosi, senang, sedih, marah, semuanya ditujukan untuk kemuliaan Tuhan. Jika kita senang, itu karena ada jiwa yang diselamatkan, ada firman yang menguatkan, ada sukacita persekutuan. Jika kita sedih, itu karena ada jiwa yang menolak Tuhan dan terhilang, ada kerinduan kepadaNya yang tak terpuaskan, ada perbuatan kita yang menyakiti hati Tuhan. Jika kita marah, itu karena kekudusan Allah kita dinodai, ada yang menyesatkan umat Tuhan, ada ketidakadilan bagi orang-orang yang haknya perlu kita bela. Jiwa yang dimaksud disini lebih tepat dalam terjemahan bahasa inggrisnya “soul”, yang berarti semangat atau niat atau inti dari suatu ekspresi. Kita perlu mengasihi Tuhan dari inti niat untuk mengekspresikannya dalam perbuatan, disini artinya segala dorongan hati kita dalam melakukan apapun harus berdasar dari cinta kita kepada Kristus.

Berbicara tentang emosi, dikaitkan dengan proses biologi otak, merupakan hal yang normal jika emosi akan mudah berubah. Proses emosi merupakan impuls sesaat yang melibatkan sebagian kecil saja bagian otak untuk memprosesnya. Penatalaksanaan pasien dengan gangguan ekspresi emosi cenderung lebih mudah ketimbang pasien dengan gangguan isi pikir yang kita sebut “waham”. Pengobatan secara kimia tidak dapat mengobati waham yang adalah keyakinan yang salah atau bahkan aneh mengenai sesuatu hal. Proses pembentukan isi pikir melibatkan seluruh bagian otak mulai dari bagian otak yang menerima impuls pancaindera, proses persepsi dan kognisi, respon emosi, hingga fungsi luhur yang lebih tinggi yang melibatkan pengambilan keputusan, eksekusi tindakan, dan fungsi memori. Karena itulah Tuhan tidak ingin kita mengasihi Dia hanya dengan emosi kita saja, tapi dengan segenap akal budi kita. Mindset kita harus diubahkan sedemikian rupa dalam pemahaman yang benar akan eksistensi Tuhan. Mengasihi Dia berarti kita berusaha mengenal Dia, mengetahui siapa Dia, sifat-sifatNya, dan mengerti isi hatiNya.

Mengasihi Tuhan, Allah kita, dengan segenap HATI, dan dengan segenap JIWA, dan dengan segenap AKAL BUDI, berarti kita mengasihi TUHAN dengan segenap totalitas eksistensi diri kita.

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Seringkali bagian ayat ini hanya kita fokuskan pada potongan awal kalimat ini, “kasihilah sesamamu manusia”. Padahal hal yang mendasarinya, yang jauh lebih penting yang ingin Yesus sampaikan pada kita sebelum kita mengasihi sesama adalah “mengasihi diri sendiri”. Kalimat “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” berarti kita harus mengasihi diri sendiri dulu barulah kita bisa memiliki standar dan perspektif yang benar dalam mengasihi sesama. Bagaimana mungkin kita mengatakan pada suami/istri kita, anak kita, kekasih kita, “Aku mencintaimu”, tanpa kita punya konsep yang jelas apa itu cinta sebenarnya? Bukankan itu sebenarnya hanya merupakan ungkapan egois semata yang didalamnya terkandung kehausan kita untuk dicintai kembali sebagai balasannnya, menerima perhatian, penghargaan, dan bahkan kekaguman dari obyek yang kita katakan kita cintai?

Yesus yang adalah perwujudan CINTA, menunjukkan ini kepada kita. Dia adalah manusia yang sempurna, karena hatinya melekat kepada Allah. Tidak ada lubang kosong dalam hatinya yang dipenuhi borok dan ulat dosa berkeriapan seperti hati kita. Yesus dalam kesempurnaanNya sanggup mengasihi diriNya dengan sempurna karena Dia merasa berharga, dengan bangga Dia menyatakan bahwa Dia dikasihi Allah dan karena itulah dia merasa sempurna. Dalam cintaNya yang sempurna terhadap diriNya, Dia sanggup mencintai kita yang berdosa ini tanpa mengharapkan imbal.

Disinilah terletak persoalan kita.

Jika tidak mungkin kita mencintai sesama sebelum mencintai diri kita, sanggupkah kita mengasihi diri kita tanpa sebelumnya merasakan kasih yang sejati dari Sang Sumber Cinta?
Membenci diri mencintai kekasih? Mustahil.

Sunday, February 23, 2014

ETIKA KABAR BAIK

ETIKA KABAR BAIK

Bacaan: 2 Raja-raja 7:3-9
NATS: Tidak patut yang kita lakukan ini. Hari ini ialah hari kabar baik, tetapi kita ini tinggal diam saja (2 Raja-raja 7:9)

Apabila seorang ilmuwan berhasil menemukan obat kanker, kita pasti mengharapkan obat tersebut disebarkan ke seluruh dunia. Etika dasar menuntut agar kabar baik tidak disimpan sebagai rahasia.

Ketika raja Siria mengepung kota Samaria, persediaan makanan dihentikan. Dan empat laki-laki penderita kusta memutuskan bahwa mereka lebih baik mati di tangan bangsa Siria daripada harus mati menahan lapar. Mereka pun akhirnya menyerahkan diri kepada musuh. Akan tetapi, ketika mereka tiba di perkemahan musuh, ternyata tidak ada orang di sana. Rupanya pasukan musuh sudah melarikan diri di malam hari.

Makanan tersebar di mana-mana. Keempat orang itu makan dan minum serta mengumpulkan barangbarang bagi diri mereka sendiri. Mereka sebenarnya tergoda untuk merahasiakan kabar baik ini. Tetapi kemudian mereka ingat terhadap penduduk Samaria yang kelaparan. Mereka berkata satu kepada yang lain, “Tidak patut yang kita lakukan ini” (2 Raja-raja 7:9). Maka mereka pun menjadi penginjil, yaitu pembawa kabar baik. Pada akhirnya, inti penginjilan adalah: satu orang yang kelaparan memberitahukan kepada orang kelaparan yang lain di mana dapat menemukan makanan.

Anda dan saya sudah menemukan bahwa keselamatan itu ada di dalam Yesus Kristus. Menyimpan kebenaran ini bagi diri sendiri merupakan pelanggaran terhadap integritas dasar. Jika kita sudah menemukan obat bagi hati nurani yang bersalah, jika kita telah menemukan makanan kehidupan, kita wajib membagikannya kepada orang lain —Haddon Robinson


PENGINJILAN BAGAIKAN SEORANG PENGEMIS YANG MEMBERI TAHU
PENGEMIS LAIN DI MANA ROTI DAPAT DITEMUKAN

Thursday, February 13, 2014

The Gate to Prophecy

The Gate to Prophecy
"Why is the Eastern Gate to the Old City of Jerusalem closed,
and what does it have to do with Bible prophecy?"
Pamela Edwards on Facebook

The Eastern Gate in the old walled city of Jerusalem has a very special place in my heart, for it was that gate which God used to open my eyes to His Prophetic Word.
The year was 1967. The occasion was the Six Day War. As the fate of the new state of Israel hung in the balance, I searched the newspapers daily for any information I could find about the war. The turning point came on June 7 when the Israeli army broke through the Lion's Gate and returned control of the ancient city of Jerusalem to the Jewish people for the first time in 1,897 years.

A Mysterious Remark

The next day I read a fascinating news account about one of the Jewish commando groups that had been involved in the assault on the city. The article stated that some members of the group had suggested catching the Jordanian defenders of the city off guard by blowing open the sealed Eastern Gate. But the leader of the group, an Orthodox Jew, had vehemently protested the idea, stating that "the Eastern Gate can be opened only when the Messiah comes."
That statement caught my eye. I wondered what the fellow was talking about. I knew nothing about the Eastern Gate except that it was the only gate of the city that led directly onto the Temple Mount. I was not aware that it was sealed, nor did I know that its opening was in any way biblically linked to the return of the Messiah.

A Remarkable Prophecy

I decided to do some research on the matter, and that decision initiated my study of Bible prophecy. I had been attending church for 30 years, but like most Christians, I knew nothing about Bible prophecy. The topic was generally ignored by the preachers in the church I grew up in.
My concordance quickly directed me to the passage that the Orthodox Jew had alluded to. I found it in Ezekiel 44. The context is a supernatural tour the Lord is giving Ezekiel of the future Millennial Temple (40:1-3).
In chapter 43 the Lord gives Ezekiel a vision of God's glory entering the Millennial Temple from the east, through the Eastern Gate. The Lord then says to Ezekiel: "Son of Man, this is the place of My throne and the place of the soles of my feet where I will dwell among the sons of Israel forever" (43:7).
The Lord then reveals to Ezekiel that the Eastern Gate will be closed and will not be reopened until the Messiah returns in glory (44:1-3).

A Momentous Decision

This prophecy was partially fulfilled more than 400 years ago in 1517 when the Turks conquered Jerusalem under the leadership of Suleiman the Magnificent. He commanded that the city's ancient walls be rebuilt, and in the midst of this rebuilding project, for some unknown reason, he ordered that the Eastern Gate be sealed up with stones.
Legends abound as to why Suleiman closed the Gate. The most believable one is that while the walls were being rebuilt, a rumor swept Jerusalem that the Messiah was coming. Suleiman called together some Jewish rabbis and asked them to tell him about the Messiah. They described the Messiah as a great military leader who would be sent by God from the east. He would enter the Eastern Gate and liberate the city from foreign control.
Suleiman then decided to put an end to Jewish hopes by ordering the Eastern Gate sealed. He also put a Muslim cemetery in front of the Gate, believing that no Jewish holy man would defile himself by walking through a Muslim cemetery.

A Prophetic Symbol

The Gate has remained sealed since that time. The Muslim cemetery still blocks the entrance. The old walled city has eight gates, and the Eastern Gate, and it alone, is sealed — just as prophesied in Ezekiel 44. The world would call that an "amazing coincidence." I call it a "God-incidence."
The Eastern Gate is proof positive that the Bible is the Word of God. Its sealing is clear evidence that we are living in the end times. The Gate awaits the return of the Messiah. Then and only then, will it be opened.

An Exciting Vision

I have a vision of what that glorious day will be like. It is related to the Lord's First Coming. I believe Jesus is going to replay His triumphal entry into Jerusalem when He returns.
When He came the first time, Jesus rode a donkey from the Mount of Olives down into the Kidron Valley and up to the Eastern Gate where He entered the Temple Mount for His last days of teaching. As He made that ride, the Valley of Kidron was filled with thousands of admirers who had heard about the resurrection of Lazarus. They waved palm branches and chanted, "Hosanna to the Son of David!" Within a few days that same fickle crowd was shouting, "Crucify Him!"
We are told in Revelation 19 that when Jesus returns He will come as a victorious military conqueror, riding through the air on a supernatural white horse. In Isaiah 61 we are told that He will come from the east, and in Zechariah 14 we are told that he will touch ground on the Mount of Olives.
Revelation 19:14 says that all the Redeemed will come with the Lord. Think of it! You and I will be there to witness the Lord's return. Zechariah 14 says He will speak a word that will supernaturally destroy the Anti-Christ and his forces.
Then, I believe we will witness a replay of the Lord's triumphant entry into Jerusalem. With angels hovering above and millions of the Redeemed filling the Kidron Valley, Jesus will ride up to the Eastern Gate on His white horse, and as He approaches the Gate, it will blow open. He will then enter the City of David, and to the triumphant shouts of "Hosanna to the Son of David," He will be crowned the Kings of kings and the Lord of lords.
I believe that's what Psalm 24 is all about when it says:
Lift up your heads, O gates, and be lifted up, O ancient doors, that the King of glory may come in! Who is the King of glory? The Lord strong and mighty, The Lord mighty in battle . . . The Lord of hosts, He is the King of glory.

Copied words from - David Reagan

Wednesday, February 12, 2014

Monster itu Bernama : Guilt

Seorang sahabat yang sedang dirundung duka atas meninggalnya ayahnya beberapa minggu yang lalu masih berurai air mata menyalahkan diri atas kematian ayahnya. Dia menganggap dirinya bertanggungjawab dalam beberapa kesalahan pengambilan keputusan yang berujung pada kematian mendadak ayahnya akibat beberapa komplikasi penyakit: multiple myeloma yang sudah dikemoterapi, heart failure, DHF.

Rasa bersalah merupakan tanda peringatan emosional yang dipelajari kebanyakan orang melalui perkembangan sosial masa kanak yang normal. Tujuannya adalah agar kita tahu ketika kita telah melakukan sesuatu yang salah, untuk membantu kita mengembangkan kepekaan yang lebih baik terhadap perilaku kita dan bagaimana hal itu mempengaruhi diri kita sendiri dan orang lain. Ini mendorong kita untuk memeriksa kembali perilaku sehingga kita tidak berakhir membuat kesalahan yang sama dua kali.

Rasa bersalah pasti akan ada, karena itu adalah bagian dari natur kita sebagai manusia, sebagai salah satu komponen penting dalam struktur ego. Namun sungguh menakjubkan betapa rasa bersalah tersebut dapat timbul karena hal yang tidak rasional, sepele, bahkan sebenarnya tidak bermanfaat dalam hidup kita. Bagaimana kita dapat berdamai dengan perasaan bersalah kita, serta menerimanya ketika perasaan ini penting dan tidak boleh diabaikan, tapi membiarkannya pergi lebih mudah ketika perasaan ini tak lain sekedar monster dari neraka?

1.     Kenali jenis rasa bersalah yang Anda miliki dan tujuannya

Rasa bersalah yang terbaik adalah yang mampu membantu kita tumbuh dan menjadi dewasa ketika terbukti ada perilaku kita telah menyinggung atau menyakiti orang lain atau diri kita sendiri. Jika kita merasa bersalah karena telah mengatakan sesuatu yang menyinggung orang lain, atau karena terlalu berfokus pada karir sehingga mengabaikan keluarga maupun interrelasi lainnya yang penting, maka itu adalah suatu tanda peringatan dengan tujuan agar kita mengubah perilaku jika tidak mau kehilangan teman atau keluarga. Hal ini dapat disebut sebagai rasa bersalah yang "sehat" atau "sesuai" karena memiliki tujuan dalam berusaha untuk membantu mengarahkan kompas moral atau perilaku kita.
Masalah muncul ketika rasa bersalah terjadi pada saat semestinya perilaku kita bukan sesuatu yang perlu dikaji kembali, juga bukan sesuatu yang perlu diubah. Sebagai contoh, banyak ibu pertama kali merasa bersalah tentang akan kembali bekerja dan meninggalkan anaknya pada pengasuhan orang lain, takut dapat menyebabkan kerenggangan dalam hubungan dengan anak mereka ataupun takut dianggap sebagai orangtua yang mengabaikan anaknya. Tentu saja dengan tindakan dan pola transaksi keluarga yang sepantasnya, hal ini tidak semestinya menimbulkan rasa bersalah. Sebagian besar anak-anak memiliki perkembangan yang sehat yang normal bahkan ketika kedua orangtuanya bekerja. Hal ini dikenal sebagai rasa bersalah yang "tidak sehat" atau "tidak pantas" karena tidak melayani tujuan yang rasional.
Jika Anda merasa bersalah karena makan lima batang coklat berturut-turut, itu cara otak Anda mencoba untuk mengirimkan pesan kepada Anda tentang perilaku Anda yang mungkin dikenali oleh otak sebagai tindakan yang sedikit ekstrim. Perilaku tersebut dapat merusak diri sendiri dan pada akhirnya berbahaya bagi kesehatan Anda. Jadi tujuan rasional rasa bersalah ini hanya untuk mencoba dan meyakinkan Anda untuk mengubah perilaku ini. Tentu saja kita masih bisa memilih untuk mengabaikan rasa bersalah tersebut, tapi tentu saja kita melakukannya dengan risiko kita sendiri yaitu timbulnya rasa bersalah yang lebih besar yang bersumber dari penyesalan karena kita menuai konsekuensi dari pola perilaku kita yang semestinya diubah.

2.     Menebus kesalahan atau melakukan perubahan lebih awal

Jika rasa bersalah kita telah kita kaji dan ternyata memiliki tujuan tertentu dan rasional, maka perlu segera diambil tindakan untuk memperbaiki masalah perilaku. Kebanyakan kita secara tak sadar senang menghukum diri sendiri, padahal si monster terus menerus memegangi kaki kita saat kita mencoba bergerak maju dalam kehidupan.
Merupakan hal yang cukup mudah untuk meminta maaf kepada seseorang yang telah kita buat tersinggung oleh suatu pernyataan ceroboh, misalnya, ketimbang hidup dengan monster guilt yang menyeringai setiap kali kita berpapasan dengan orang tersebut. Rasa bersalah yang sehat mengatakan kepada kita bahwa kita perlu melakukan sesuatu yang berbeda dalam rangka untuk memperbaiki hubungan interrelasi manusiawi yang penting maupun untuk membawa kesejahteraan bagi diri kita sendiri. Di sisi lain, tujuan dari rasa bersalah yang tidak sehat itu hanya untuk membuat kita merasa buruk untuk sedikit alasan yang terkadang irasional, dan terpicu oleh pembenaran emosional semata.
Meskipun kadang-kadang kita sudah tahu rasa bersalah sedang mencoba untuk memberi kita pelajaran, rasa bersalah itu seringkali kita berusaha abaikan dan biasanya terjadi berulang kali waktu sampai kita menebusnya, atau hingga akhirnya kita mendapat pelajaran dari konsekuensinya, atau bahkan hingga kita mengkompensasinya dengan menganggap hal itu tidak menjadi masalah buat kita. Pada beberapa orang dengan respons mental yang masih baik, rasa bersalah sehat akan terus mengetuk hati nurani dan menggelisahkan jiwa. Semakin cepat kita "belajar pelajaran" – misalnya dengan menebus kesalahan, memodifikasi perilaku – semakin cepat rasa bersalah itu akan hilang. Jika berhasil, ia tidak akan pernah kembali untuk masalah itu lagi.

3.     Menerima kenyataan bahwa kita telah melakukan sesuatu yang salah, dan melanjutkan hidup.

Jika kita melakukan kesalahan, kita harus bisa menerima bahwa kita tidak dapat mengubah masa lalu. Tapi yang bisa kita lakukan adalah menebus perilaku kita, pada saat dan metode yang tepat. Sahabat saya yang saya ceritakan di atas jelas tidak mungkin menghidupkan ayahnya kembali. Terlepas dari konteks apakah memang dia telah melakukan kesalahan dengan pilihan-pilihan yang salah, rasa bersalah yang dialaminya kini jika diuji dengan tujuan rasa bersalah tersebut adalah termasuk dalam jenis rasa bersalah yang tidak sehat. Rasa bersalah yang dimilikinya menjadi monster yang menggerayangi kehidupan kekiniannya yang semestinya harus dia tata sepeninggal ayahnya. Rasa bersalah itu juga bukannya mendewasakan dia tapi membuatnya menjadi ragu-ragu dalam mengambil keputusan.
Menebus kesalahan – jika memang telah terjadi suatu kesalahan – tidak selamanya ditujukan pada obyek yang bersangkutan. Dalam hal rasa bersalah yang diakibatkan oleh duka atas kehilangan seseorang yang disayangi, apalagi jika orang tersebut tak mungkin kembali, kompensasi rasa bersalah itu dapat kita salurkan dalam konsep hidup yang lebih dimatangkan oleh pengalaman, dan kita implementasikan kepada mereka yang ada dekat dengan kita dan layak untuk mendapat kasih sayang yang setara dengan dia yang telah pergi. Pengasuhan yang lebih baik, hubungan yang lebih intens, pencegahan dini tanda-tanda awal, dapat kita lakukan dalam kekinian tanpa melupakan pelajaran dari kesalahan di masa lampau, namun dengan meninggalkan beban rasa bersalah menjadi bagian kenangan masa lampau. Menerima dan mengakui kesalahan, menebusnya, dan kemudian melanjutkan.

4.     Belajar dari perilaku kita.

Tujuan rasa bersalah yang sehat bukanlah untuk membuat kita merasa buruk hanya semata-mata karena perasaan itu sendiri. Perasaan bersalah sedang mencoba untuk mendapatkan perhatian kita sehingga kita bisa belajar sesuatu dari pengalaman. Jika kita belajar dari perilaku kita, kita akan cenderung tidak melakukannya lagi di masa depan. Jika saya sudah tidak sengaja mengatakan sesuatu yang menghina orang lain, rasa bersalah saya mengatakan bahwa saya harus (a) meminta maaf kepada orang tersebut dan (b) berpikir sedikit lebih sebelum saya membuka mulut saya.
Jika rasa bersalah kita tidak membuat kita mencoba untuk melakukan sesuatu yang lebih baik di masa depan, maka tidak ada yang kita pelajari dari pengalaman internal kita, dan proses menuju kedewasaan kita akan mandeg bahkan mundur.

5.     Kesempurnaan tidak ada pada siapa pun

Tidak ada manusia yang sempurna dan hidup bebas dari rasa bersalah. Rasa bersalah merupakan salah satu alarm alami yang Tuhan berikan bagi kita untuk dapat mempertahankan hubungan yang seimbang antar sesama manusia bahkan dengan Tuhan. Rasa bersalah menandakan kita berjuang untuk mencapai kesempurnaan, dan meskipun kesempurnaan itu tidak ada pada siapa pun, upaya untuk mencapainya itulah yang menandai eksistensi manusia dalam sejarah. Tanpa dorongan untuk mencapai kesempurnaan, orang tidak akan memiliki ambisi sehat yang membuat manusia mampu melakukan pencapain-pencapaian besar.
Meskipun demikian, dalam perjuangan mencapai kesempurnaan itulah kita menemui kegagalan demi kegagalan. Kita semua pernah membuat kesalahan dalam suatu waktu di perjalanan hidup kita yang kemudian membuat kita merasa bersalah dan akhirnya tersiksa olehnya. Kuncinya adalah untuk menyadari kesalahan dan menerima bahwa ada hal-hal yang di luar kontrol kita sebagai manusia. Jangan menghabiskan hari, minggu, bulan, bahkan tahun menyalahkan dan menghukum diri sendiri karena merasa bahwa semestinya Anda harus sudah tahu, Anda seharusnya bertindak secara berbeda, atau merasa harus menjadi orang yang ideal. Tidak demikian. Itulah hidup.

***
Rasa bersalah adalah salah satu emosi yang kita rasakan mengatakan kepada kita sesuatu yang penting. Sadarilah bahwa tidak setiap emosi, dan tentu saja tidak setiap perasaan bersalah, adalah sesuatu yang rasional yang memiliki tujuan. Fokus pada rasa bersalah akan membahayakan orang-orang tercinta atau teman-teman, bahkan kehidupan anda sendiri secara keseluruhan. Dan ingat untuk menjadi skeptis waktu berikutnya Anda merasa bersalah, apakah rasa bersalah itu mencoba untuk mengajarkan Anda sesuatu yang rasional dan membantu tentang perilaku Anda, atau itu hanya sebuah respon irasional emosional terhadap situasi? Jawaban atas pertanyaan itu akan menjadi langkah pertama Anda untuk membantu Anda lebih baik dalam menghadapi monster yang bernama : Guilt.


Inspired by GR's grief and guilt, and by JM Grohol's article on guilt.

Sunday, February 9, 2014

Sahabat Sejati, Siapakah Yang Memilikinya?

At times of turmoils we can see who really are true friends and who are the ones that always ready to spit and mock with accusation if they found the reason to.

Hidup hanya sementara. Pemerintah bangsa2 datang dan pergi bagai debu tertiup angin. Tapi Pemerintahan Tuhan kekal selama2nya. Bagi mereka yang berlindung di balik harta dan kekuasaan dunia, akan ada masanya semuanya tak akan lagi punya arti.
Cinta, persahabatan, dan kesetiaan, bukanlah jargon tanpa makna yang secara dungu membutakan nalar, namun hubungan yang terjalin atas dasar PERCAYA harus dibangun di atas pemahaman dan pemakluman. Jika kasih memicu keraguan, maka tanyakanlah hatimu benarkah kasih yang ada dalam hati dan bukan sekedar kebutuhan akan hubungan mutualisma.
Jika harta dan peristiwa mengubah pandanganmu akan seseorang, cobalah untuk kembali telanjang sebagaimana kita dihantar masuk ke dalam dunia. Tanpa apa2, tanpa sesiapa, tanpa prasangka.... Sebab dengan cara demikianlah pula kita akan meninggalkan kefanaan ini. Kita semua kaum papa di hadapanNya, telah kehilangan kemulian Allah, maka tak ada alasan yang cukup bagi kita untuk menunjuk pada sesama dengan curiga. Tidak ada apapun pada kita yang dapat kita klaim sebagai "Aku punya", baik itu kerja, materi, keluarga, bahkan waktu yang demikian berharga.

Semoga Tuhan mengampuni kita atas pikiran tamak kita yang penuh dosa.

Wednesday, February 5, 2014

milikMU

Bahagia
tak seindah lara yang tertahankan akibat cinta dari sesama
Bulir air mata lega
karena membuncah rasa berharga
sangat manis terasa terkecap di jiwa

Allah tak menjauhkan kita dari duka
malah diberikannya senantiasa
bahkan sesekali bencana dan petaka
Karena Dia ingin kita terus mendamba kehadiranNya
dan tak menafikan bahwa dia Sang ADA

Terima kasih ya Allah
Atas bulir-bulir air mata
Tanda aku manusia yang berharga
dalam rancanganMu yang semesta

Maha Besar Engkau
Maha Suci Engkau
Maha Kasih Engkau

Aku
Kau punya

Selamanya

Sunday, February 2, 2014

Iman Dalam Perpuluhan

Yohanes 6:9-11  "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?"
Kata Yesus: "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya.
Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.

Masalah perpuluhan selalu menjadi pergumulan buat saya. Namun kisah lama yang demikian seringnya kita ulang baca dan ceritakan tentang seorang anak yang merelakan bekal makan siangnya untuk Yesus pakai memberi makan lebih dari 5000 orang, ternyata hari ini mampu menohok ulu hati saya dan membuat saya malu...

Bagaimana mungkin seorang anak dalam kepolosannya dan iman yang sederhana mampu mempercayakan MAKANANnya (we're not talking about money here..! Uang memang penting, namun uang hanya sarana. Food is essential, without food we cannot live). Bahkan SELURUH bekal makan siangnya, tanpa mempertimbangkan sedikitpun risiko bahwa jika Yesus ini, Orang yang dia percayai untuk MENGELOLA makanannya demi membantu org banyak, mungkin saja tidak sanggup berbuat apa2 dengan makanan itu dan hanya akan memakannya sendiri, dan anak itu ditinggal dalam keadaan kelaparan seperti 5000 orang lainnya!
Jika anak itu sedikit saja memiliki sifat yang egois, dia pasti akan berpikir demikian. Karena toh dia pasti akan makan, salah sendiri orang2 banyak itu mengikut Yesus tanpa membawa bekal! Tapi anak itu.... MEMBERI SEMUANYA.

Betapa sering saya, dalam pemikiran manusiawi yang materialistis, mencemaskan apa yang akan saya makan jika saya memberikan sepersepuluh saja dari yang "sedikit" yang Tuhan berikan... Saya mencemaskan betapa makin sedikitnya yang tersisa dan harus saya kelola untuk kebutuhan hidup sehari2 yang pas2an saja.
Disitulah saya salah membuat konsep!
Konsep iman anak kecil itu membuka mata rohani saya yang buta oleh egoisme! Sikap hati yang benar bukanlah memberi sedikit pada Tuhan dan mengelola yang "kita punya", tapi memberikan apa yang "Dia punya" dan mempercayaiNya mengelola sisanya.
Duaratus limapuluhribu dari 2,5 juta bagi sebagian orang nilainya kecil, 700ribu dari 7 juta mungkin masih kecil pula, tapi sebagian besar orang akan merasa berat mengisi kantong perpuluhan dengan 1juta setiap bulannya karena mereka tidak memandang 9juta yang masih Tuhan percayakan untuk Dia kelola dan mencukupkan kebutuhan kita lebih dari yang kita bayangkan!

Dalam masa penuh bencana ini saya mendapat perspektif baru, adakah dengan memberikan segala yang saya punya untuk membantu saudara yang menderita Tuhan akan melipatkaligandakan apa yang saya berikan dan tetap mencukupkan kebutuhan saya pula?
Saya yakin demikian. Jika Dia sanggup melakukannya dulu hanya dengan 5 roti dan 2 ikan (segalanya yang dimiliki anak itu), maka mujizatNya pasti masih berlaku kini dengan uang yang "sedikit" yang saya miliki. Karena Dia tak berubah, dahulu, sekarang, sampai selama-lamanya.