Seorang sahabat yang sedang dirundung duka atas meninggalnya ayahnya beberapa minggu yang lalu masih berurai air mata menyalahkan diri atas kematian ayahnya. Dia menganggap dirinya bertanggungjawab dalam beberapa kesalahan pengambilan keputusan yang berujung pada kematian mendadak ayahnya akibat beberapa komplikasi penyakit: multiple myeloma yang sudah dikemoterapi, heart failure, DHF.
Rasa bersalah merupakan tanda peringatan emosional yang dipelajari kebanyakan orang melalui perkembangan sosial masa kanak yang normal. Tujuannya adalah agar kita tahu ketika kita telah melakukan sesuatu yang salah, untuk membantu kita mengembangkan kepekaan yang lebih baik terhadap perilaku kita dan bagaimana hal itu mempengaruhi diri kita sendiri dan orang lain. Ini mendorong kita untuk memeriksa kembali perilaku sehingga kita tidak berakhir membuat kesalahan yang sama dua kali.
Rasa bersalah pasti akan ada, karena itu adalah bagian dari natur kita sebagai manusia, sebagai salah satu komponen penting dalam struktur ego. Namun sungguh menakjubkan betapa rasa bersalah tersebut dapat timbul karena hal yang tidak rasional, sepele, bahkan sebenarnya tidak bermanfaat dalam hidup kita. Bagaimana kita dapat berdamai dengan perasaan bersalah kita, serta menerimanya ketika perasaan ini penting dan tidak boleh diabaikan, tapi membiarkannya pergi lebih mudah ketika perasaan ini tak lain sekedar monster dari neraka?
1. Kenali jenis rasa bersalah yang Anda miliki dan tujuannya
Rasa bersalah yang terbaik adalah yang mampu membantu kita tumbuh dan menjadi dewasa ketika terbukti ada perilaku kita telah menyinggung atau menyakiti orang lain atau diri kita sendiri. Jika kita merasa bersalah karena telah mengatakan sesuatu yang menyinggung orang lain, atau karena terlalu berfokus pada karir sehingga mengabaikan keluarga maupun interrelasi lainnya yang penting, maka itu adalah suatu tanda peringatan dengan tujuan agar kita mengubah perilaku jika tidak mau kehilangan teman atau keluarga. Hal ini dapat disebut sebagai rasa bersalah yang "sehat" atau "sesuai" karena memiliki tujuan dalam berusaha untuk membantu mengarahkan kompas moral atau perilaku kita.
Masalah muncul ketika rasa bersalah terjadi pada saat semestinya perilaku kita bukan sesuatu yang perlu dikaji kembali, juga bukan sesuatu yang perlu diubah. Sebagai contoh, banyak ibu pertama kali merasa bersalah tentang akan kembali bekerja dan meninggalkan anaknya pada pengasuhan orang lain, takut dapat menyebabkan kerenggangan dalam hubungan dengan anak mereka ataupun takut dianggap sebagai orangtua yang mengabaikan anaknya. Tentu saja dengan tindakan dan pola transaksi keluarga yang sepantasnya, hal ini tidak semestinya menimbulkan rasa bersalah. Sebagian besar anak-anak memiliki perkembangan yang sehat yang normal bahkan ketika kedua orangtuanya bekerja. Hal ini dikenal sebagai rasa bersalah yang "tidak sehat" atau "tidak pantas" karena tidak melayani tujuan yang rasional.
Jika Anda merasa bersalah karena makan lima batang coklat berturut-turut, itu cara otak Anda mencoba untuk mengirimkan pesan kepada Anda tentang perilaku Anda yang mungkin dikenali oleh otak sebagai tindakan yang sedikit ekstrim. Perilaku tersebut dapat merusak diri sendiri dan pada akhirnya berbahaya bagi kesehatan Anda. Jadi tujuan rasional rasa bersalah ini hanya untuk mencoba dan meyakinkan Anda untuk mengubah perilaku ini. Tentu saja kita masih bisa memilih untuk mengabaikan rasa bersalah tersebut, tapi tentu saja kita melakukannya dengan risiko kita sendiri yaitu timbulnya rasa bersalah yang lebih besar yang bersumber dari penyesalan karena kita menuai konsekuensi dari pola perilaku kita yang semestinya diubah.
2. Menebus kesalahan atau melakukan perubahan lebih awal
Jika rasa bersalah kita telah kita kaji dan ternyata memiliki tujuan tertentu dan rasional, maka perlu segera diambil tindakan untuk memperbaiki masalah perilaku. Kebanyakan kita secara tak sadar senang menghukum diri sendiri, padahal si monster terus menerus memegangi kaki kita saat kita mencoba bergerak maju dalam kehidupan.
Merupakan hal yang cukup mudah untuk meminta maaf kepada seseorang yang telah kita buat tersinggung oleh suatu pernyataan ceroboh, misalnya, ketimbang hidup dengan monster guilt yang menyeringai setiap kali kita berpapasan dengan orang tersebut. Rasa bersalah yang sehat mengatakan kepada kita bahwa kita perlu melakukan sesuatu yang berbeda dalam rangka untuk memperbaiki hubungan interrelasi manusiawi yang penting maupun untuk membawa kesejahteraan bagi diri kita sendiri. Di sisi lain, tujuan dari rasa bersalah yang tidak sehat itu hanya untuk membuat kita merasa buruk untuk sedikit alasan yang terkadang irasional, dan terpicu oleh pembenaran emosional semata.
Meskipun kadang-kadang kita sudah tahu rasa bersalah sedang mencoba untuk memberi kita pelajaran, rasa bersalah itu seringkali kita berusaha abaikan dan biasanya terjadi berulang kali waktu sampai kita menebusnya, atau hingga akhirnya kita mendapat pelajaran dari konsekuensinya, atau bahkan hingga kita mengkompensasinya dengan menganggap hal itu tidak menjadi masalah buat kita. Pada beberapa orang dengan respons mental yang masih baik, rasa bersalah sehat akan terus mengetuk hati nurani dan menggelisahkan jiwa. Semakin cepat kita "belajar pelajaran" – misalnya dengan menebus kesalahan, memodifikasi perilaku – semakin cepat rasa bersalah itu akan hilang. Jika berhasil, ia tidak akan pernah kembali untuk masalah itu lagi.
3. Menerima kenyataan bahwa kita telah melakukan sesuatu yang salah, dan melanjutkan hidup.
Jika kita melakukan kesalahan, kita harus bisa menerima bahwa kita tidak dapat mengubah masa lalu. Tapi yang bisa kita lakukan adalah menebus perilaku kita, pada saat dan metode yang tepat. Sahabat saya yang saya ceritakan di atas jelas tidak mungkin menghidupkan ayahnya kembali. Terlepas dari konteks apakah memang dia telah melakukan kesalahan dengan pilihan-pilihan yang salah, rasa bersalah yang dialaminya kini jika diuji dengan tujuan rasa bersalah tersebut adalah termasuk dalam jenis rasa bersalah yang tidak sehat. Rasa bersalah yang dimilikinya menjadi monster yang menggerayangi kehidupan kekiniannya yang semestinya harus dia tata sepeninggal ayahnya. Rasa bersalah itu juga bukannya mendewasakan dia tapi membuatnya menjadi ragu-ragu dalam mengambil keputusan.
Menebus kesalahan – jika memang telah terjadi suatu kesalahan – tidak selamanya ditujukan pada obyek yang bersangkutan. Dalam hal rasa bersalah yang diakibatkan oleh duka atas kehilangan seseorang yang disayangi, apalagi jika orang tersebut tak mungkin kembali, kompensasi rasa bersalah itu dapat kita salurkan dalam konsep hidup yang lebih dimatangkan oleh pengalaman, dan kita implementasikan kepada mereka yang ada dekat dengan kita dan layak untuk mendapat kasih sayang yang setara dengan dia yang telah pergi. Pengasuhan yang lebih baik, hubungan yang lebih intens, pencegahan dini tanda-tanda awal, dapat kita lakukan dalam kekinian tanpa melupakan pelajaran dari kesalahan di masa lampau, namun dengan meninggalkan beban rasa bersalah menjadi bagian kenangan masa lampau. Menerima dan mengakui kesalahan, menebusnya, dan kemudian melanjutkan.
4. Belajar dari perilaku kita.
Tujuan rasa bersalah yang sehat bukanlah untuk membuat kita merasa buruk hanya semata-mata karena perasaan itu sendiri. Perasaan bersalah sedang mencoba untuk mendapatkan perhatian kita sehingga kita bisa belajar sesuatu dari pengalaman. Jika kita belajar dari perilaku kita, kita akan cenderung tidak melakukannya lagi di masa depan. Jika saya sudah tidak sengaja mengatakan sesuatu yang menghina orang lain, rasa bersalah saya mengatakan bahwa saya harus (a) meminta maaf kepada orang tersebut dan (b) berpikir sedikit lebih sebelum saya membuka mulut saya.
Jika rasa bersalah kita tidak membuat kita mencoba untuk melakukan sesuatu yang lebih baik di masa depan, maka tidak ada yang kita pelajari dari pengalaman internal kita, dan proses menuju kedewasaan kita akan mandeg bahkan mundur.
5. Kesempurnaan tidak ada pada siapa pun
Tidak ada manusia yang sempurna dan hidup bebas dari rasa bersalah. Rasa bersalah merupakan salah satu alarm alami yang Tuhan berikan bagi kita untuk dapat mempertahankan hubungan yang seimbang antar sesama manusia bahkan dengan Tuhan. Rasa bersalah menandakan kita berjuang untuk mencapai kesempurnaan, dan meskipun kesempurnaan itu tidak ada pada siapa pun, upaya untuk mencapainya itulah yang menandai eksistensi manusia dalam sejarah. Tanpa dorongan untuk mencapai kesempurnaan, orang tidak akan memiliki ambisi sehat yang membuat manusia mampu melakukan pencapain-pencapaian besar.
Meskipun demikian, dalam perjuangan mencapai kesempurnaan itulah kita menemui kegagalan demi kegagalan. Kita semua pernah membuat kesalahan dalam suatu waktu di perjalanan hidup kita yang kemudian membuat kita merasa bersalah dan akhirnya tersiksa olehnya. Kuncinya adalah untuk menyadari kesalahan dan menerima bahwa ada hal-hal yang di luar kontrol kita sebagai manusia. Jangan menghabiskan hari, minggu, bulan, bahkan tahun menyalahkan dan menghukum diri sendiri karena merasa bahwa semestinya Anda harus sudah tahu, Anda seharusnya bertindak secara berbeda, atau merasa harus menjadi orang yang ideal. Tidak demikian. Itulah hidup.
***
Rasa bersalah adalah salah satu emosi yang kita rasakan mengatakan kepada kita sesuatu yang penting. Sadarilah bahwa tidak setiap emosi, dan tentu saja tidak setiap perasaan bersalah, adalah sesuatu yang rasional yang memiliki tujuan. Fokus pada rasa bersalah akan membahayakan orang-orang tercinta atau teman-teman, bahkan kehidupan anda sendiri secara keseluruhan. Dan ingat untuk menjadi skeptis waktu berikutnya Anda merasa bersalah, apakah rasa bersalah itu mencoba untuk mengajarkan Anda sesuatu yang rasional dan membantu tentang perilaku Anda, atau itu hanya sebuah respon irasional emosional terhadap situasi? Jawaban atas pertanyaan itu akan menjadi langkah pertama Anda untuk membantu Anda lebih baik dalam menghadapi monster yang bernama : Guilt.
Inspired by GR's grief and guilt, and by JM Grohol's article on guilt.


No comments:
Post a Comment