Sunday, October 26, 2008

PERSONAL REVIEW ON “HIS DARK MATERIAL” TRILOGY

“Suatu upaya yang menyedihkan untuk meniadakan TUHAN.”
Suatu sensasi yang menegangkan akan menjalari tengkuk dan mengaduk-aduk nalar ketika membaca lembar-lembar awal The Golden Compass, buku yang mengawali trilogi ini. Bagaimana tidak? Ternyata hati nurani—jiwa—yang diperdebatkan oleh ribuan cendekiawan sepanjang masa di seluruh dunia adalah sesuatu yang nyata, bahkan sesuatu yang fisik di dunia Lyra. Semua istilah, penamaan, dan analogi dilahirkan dari pemikiran yang mendalam akan tujuan atau kesan yang ingin dicapai oleh pengarangnya.

Saya terutama merasa tertantang dengan ide brilian yang ditawarkan Phillip Pullman melalui penggambaran kondisi ‘manusia’ di dunia Lyra dan Pantalaimon. Lyra dan Pantalaimon adalah satu ‘manusia’ dengan dua eksistensi. Lyra adalah tubuh fisik manusia, dan Pantalaimon adalah jiwanya. Bayangkan bagaimana menggembirakannya dapat bercakap-cakap sambil bertatap muka dengan jiwamu! It’s all poets’ wildest dreams come true!

Dengan jenius Pullman menggambarkan bagaimana daemon—jiwa—seseorang mengambil wujud hewan yang menyerupai sifat manusianya, bagaimana wujud daemon anak-anak dapat berubah-ubah dan daemon orang dewasa telah mengambil wujud yang tetap, bagaimana tubuh dan jiwa akan saling merindukan dengan kerinduan yang hebat bila terentang oleh jarak, dan bagaimana tubuh tanpa jiwa—yang diceritakannya dengan sangat baik melalui analogi ‘pemotongan’ ikatan tak terlihat antara manusia dengan daemonnya—akan menjadi makhluk kosong tanpa motivasi yang hampir-hampir dapat disebut gila.

Itu barulah permulaannya. Dalam buku bagian pertama kita diantar melihat dari dekat dunia Lyra, dunia yang tidak pernah kita kenal, dan dipaksa untuk melihat di dalamnya banyak kemiripan dengan dunia yang kita tinggali ini. Namun disini saya harus mengatakan, kemiripannya menyimpang! Di dunia Lyra dan Pantalaimon, segala sendi kehidupan manusianya diatur dengan ketat oleh gereja. Bahkan cabang-cabang sainsnya pun dinamai dengan istilah ‘gerejawi’, misalnya saja ilmu ‘teologia percobaan’. Cabang teologia percobaan inilah yang kemudian meneliti sesuatu yang dianggap tabu oleh ‘gereja’ dan menjadi pusat segala kejadian yang berlangsung di sepanjang ketiga buku ini, sesuatu yang disebut sebagai ‘debu’.

Buku pertama saya tutup dengan puas, meskipun sedikit terusik dengan ide evil church-nya Pullman, dengan menyimpan rasa penasaran akan misteri yang dititipkan oleh penulis akan petualangan Lyra dan Pantalaimon selanjutnya ketika mereka memutuskan akan memasuki dunia lain yang dibuka oleh ayahnya, Lord Asriel. Di akhir buku satu, saya menyempatkan diri untuk merenungkan tentang ‘debu’ yang diajukan oleh Pullman. Menurut penuturan Lord Asriel, ‘debu’ adalah partikel dasar jenis baru yang diteliti oleh Rusakov yang banyak menempel pada orang dewasa namun sangat sedikit pada anak-anak. Rusakov kemudian membuat ‘gereja’ sangat ketakutan dengan penelitiannya dan melakukan upacara pengusiran setan terhadapnya. ‘Debu’ menurut Lord Asriel adalah bukti fisik dosa asal, bahwa menurut ‘alkitab’ versi dunia Lyra ketika Hawa memakan buah pohon di tengah-tengah taman, mereka melihat bentuk sejati daemon mereka, bahwa ketika Tuhan berkata pada Adam ia akan kembali menjadi debu yang dimaksud sesungguhnya adalah bahwa debu akan menguasainya dan bahwa secara tidak langsung Tuhan mengakui sendiri bahwa sifatNya sebagian mengandung dosa—yang mana saya rasa awal dari istilah His Dark Material atau Materi GelapNya. Inilah yang saya maksud dengan kemiripan yang menyimpang! Pullman melakukan analogi dengan menyimpangkannya menurut pemahamannya yang disini mulai saya lihat skeptis—kalau tidak bisa disebut membenci—terhadap gereja yang sejati.

Ketika membaca The Subtle Knife, ke-absurd-an ide anti gereja Pullman makin membengkak, dan meledak menjadi ide anti eksistensi Tuhan pada momen kematian Tuhan—yang disebutnya sebagai Otoritas—dan kroni-kroninya dalam buku ketiga, The Amber Spyglass. Anti klimaks kekonyolan ateistik ini mencapai simpulannya pada saat Lyra, yang ternyata merupakan Hawa kedua, kembali ‘jatuh dalam dosa’ ketika jatuh cinta pada Roger dan melewati masa akil baliq sehingga Pantalaimon secara tetap mengambil wujud burung, simbol kebebasan.

Upaya Pullman lewat trilogi ini untuk membunuh Tuhan yang tidak dipercayainya sepintas tampak berhasil. Idenya bahwa ‘kalaupun Tuhan ada Ia pasti telah sangat uzur sehingga tidak lagi mampu mengurusi dunia’ adalah ide tipikal kaum ateis. Tokoh Mary Malone, si ‘ular’ yang menggoda Lyra dengan kisah tentang daya tarik seksual, seorang ilmuwan dari dunia kita yang adalah seorang mantan biarawati, mengungkapkan buah pikiran Pullman tentang Tuhan yang berhenti dipercayainya namun hidupnya tetap bertujuan karena adanya ‘debu’. Di akhir trilogi ini tersingkap ide yang disamar-samarkan Pullman bahwa kemanusiaan itu ada karena ‘debu’, ‘debu’ itu seks. Adam dan Hawa tidak menyadari mereka telanjang sampai mereka memakan buah pohon pengetahuan baik dan buruk, ketelanjangan yang dipahami Pullman sebagai kesadaran akan adanya daya tarik seksual—hal yang tidak dimiliki oleh anak-anak namun sangat banyak melekat pada orang dewasa, ‘debu’.

Sayangnya ide-ide sesat ini terbungkus dengan manis oleh gula-gula petualangan yang seru dan permainan kata-kata yang menjungkirbalikkan fakta kekristenan, sehingga oleh pihak yang entah sengaja atau karena ketidaktahuannya mengkategorikan edisi terjemahan bahasa Indonesia sebagai Novel Remaja! Bayangkan kerusakan yang akan ditimbulkan apabila novel ini dibaca oleh remaja kristen, yang bahkan saya rasa orang dewasa yang masih remaja rohani-pun akan sedikit goyah oleh ide-ide menyimpang Pullman. Buku ini justru dapat menimbulkan kerusakan yang lebih besar dibandingkan dengan yang dapat ataupun telah ditimbulkan oleh The Da Vinci Code milik Dan Brown, sebab Dan Brown memaksakan ‘fakta’ yang dapat diuji melalui pembuktian ilmiah dan penggalian fakta, namun Pullman menyajikan fiksi yang melambungkan imaji pembaca ke tingkat yang tidak dapat diuji melalui pembuktian ilmiah, hanya dengan nurani.

Awaskah kita menghadapi penyusup-penyusup iman yang halus seperti ini?

No comments: