Meski aku sangat mencintai suamiku, dan menginginkannya selamanya
disisiku, namun justru besaran cintaku tak mengizinkan egoku mengikat
sayapnya.
Ku relakan ia terbang, mengepakkan sayapnya kuat-kuat, agar ia
mengetahui sejauh mana langit biru dapat dijelajahinya, dan
menaklukkan dunia yang dicengkramnya. Karena sungguh kutahu, sayapnya
terlalu kuat untuk kuberangus dalam sangkar, karena Engkau yang menumbuhkannya.
Satu yang ku tahu, 'pabila sayapnya terluka, bahkan 'pabila patah,
hanya akulah yang mampu menyembuhkannya. Sebab ketika ENGKAU
menyatukan kami di hadapan altarMU, maka satu pula kekuatan kami, satulah tubuh kami.
Telah tertulis dalam telapakMu, ikrarnya untuk menjadi matahariku, dan
ikrarku menjadi hujan yang membasuh penatnya.
Kunanti kasihku disini. Kujagai permata-permata kami, harta kita
paling berharga. Kunanti datangnya disini, membawa jaya ataupun penat,
suka maupun kecewa. Kunanti dengan setia, rengkuhannya sekali lagi.
Saat ini ya Bapa, kuserahkan kasihku, separuh atmaku, dalam dekapmu.
Kutitipkan rinduku lewat doa dan percayaku.
Kaima, 18 Okt '08
(When Enda left for Palu on his first assignment at PT ASKES Kanca Palu)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment