I really wish I can be a full-time housewife. But nowadays being a full-time housewife is a luxury only several people can enjoy. Because in this modern world, kids need not only love to grow, but also enough money for proper education and nutrition. And to achieve that, they need both parents working.
We live in such a hectic world. In the past, women for centuries fight for their rights to be consider equal with men, to have jobs that usually only men can do, to have rights to vote, to have the right to determine having her baby or not, etc, etc. But these days, being a working mother is the hardest thing to do. Working mothers are the busiest person in the world. Being a working mother is almost imposible to be done. One should always need a hand, wheter from some relatives or a proffesional babysitter or housekeeper to get things done.
It is true that men and women are suppose to have equal rights. Because we're all have the same value in the eye of God. But it's different between having the same value and being the same in every ways. Men are men with their own special characteristics, so are women. God wouldn't create two kinds of gender if it is the same between male and female. There ought to be a purpose of being a man or a woman. Especially in the term of a family.It's been said that a man is the head of a family, but a woman is the heart of a family. Men directs the family in it's pilgrimage in this mortal world, but women sustain the family from within. If one fails to do his/her part, the whole building of a solid family shall crumble. It cannot maintain its balance.
It's true that God doesn't forbid women to work, He even encourage women to do so to help the economics of the family (Proverbs 31:13,16,18,24), but as also described in those passage in Proverbs, the role of a woman in a family is remarkable, almost unbeliveable! Besides working, the main tasks of a housewife has to be done! One cannot use her work as a reason to abandon family tasks. It has to be done equally neat! And in doing so, she mustn't whine, she has to stay happy and joyful all the time for the sake of her family being. Gosh. Can it really be done? Of course I believe in biblical term, mothers works as a side job. The main duty is to take care of the family.
I wish I can be a housewife that my family can be proud of.........
Saturday, November 29, 2008
Saturday, November 8, 2008
The Saviour was a Baby!
Fakta bahwa Kristus menjadi manusia dengan lahir ke dunia sebagai seorang bayi laki-laki tidak pernah mengusik pikiranku selama ini. Kisah itu, mungkin karena saking seringnya dikisahkan berulang kali, terasa biasa dan kehilangan keagungannya. Sampai suatu waktu, tiba satu episode baru dalam kehidupanku, aku menjadi ibu dari seorang bayi!Begitu bayiku lahir, ia menangis begitu keras. Bidan mendekatkannya padaku dan ia belajar menyusu melalui nalurinya. Ia tampak begitu mungil, tak berdaya. Bagaimanakah Bayi Kristus belajar menyusui? Bagaimana mungkin TUHAN yang menciptakan payudara, harus menggantungkan hidupNya, perkembangan otak dan giziNya, pada susu yang dihasilkan payudara seorang Maria?
Ketika aku melalui sleepless nights, periode tidur tidak teratur karena menyusui dan mengganti popok, aku mengingat Maria yang harus mengganti popok Bayi Yesus, yang meski adalah TUHAN, tentu saja belum mampu mengganti popokNya sendiri!! Dan Yesus yang mungil harus menggunakan bahasa bayi untuk berkomunikasi, yaitu menangis, setiap merasa lapar, atau mulas, atau tidak nyaman, atau bahkan sakit. Ketika bayiku menatap wajahku, tersenyum dan tertawa, aku merasakan gelombang kebahagiaan menerpa diriku. Apakah yang dipikirkan bayi Kristus ketika digendong dan ditatap bundanya? Sukar untuk membayangkan Tuhan, Pemilik Semesta, menjadi suatu makhluk yang sungguh tidak berdaya dalam tanggung jawab ayah bundanya.
Merenungkan ini membuatku terhenyak dan tersadar akan betapa pentingnya peran orangtua. Kita takkan pernah tahu masa depan anak kita. Mungkinkah ia akan menjadi superhero yang menyelamatkan dunia? Maka itu tak mungkin terjadi bila kita tidak membesarkannya dengan baik. Yesus sendiri telah merasakan pendidikan dan asuhan dari orangtua, dan ia telah merasakan bagaimana menjadi seorang bayi. Maka di saat-saat tersukar dalam kehidupanku sebagai seorang ibu, aku beroleh kuat karena Yesus tahu pergumulanku, dan Ia pula tahu apa yang dirasakan anakku.
Yes! My Saviour was a Baby! And I'm glad that He was.
Ketika aku melalui sleepless nights, periode tidur tidak teratur karena menyusui dan mengganti popok, aku mengingat Maria yang harus mengganti popok Bayi Yesus, yang meski adalah TUHAN, tentu saja belum mampu mengganti popokNya sendiri!! Dan Yesus yang mungil harus menggunakan bahasa bayi untuk berkomunikasi, yaitu menangis, setiap merasa lapar, atau mulas, atau tidak nyaman, atau bahkan sakit. Ketika bayiku menatap wajahku, tersenyum dan tertawa, aku merasakan gelombang kebahagiaan menerpa diriku. Apakah yang dipikirkan bayi Kristus ketika digendong dan ditatap bundanya? Sukar untuk membayangkan Tuhan, Pemilik Semesta, menjadi suatu makhluk yang sungguh tidak berdaya dalam tanggung jawab ayah bundanya.
Merenungkan ini membuatku terhenyak dan tersadar akan betapa pentingnya peran orangtua. Kita takkan pernah tahu masa depan anak kita. Mungkinkah ia akan menjadi superhero yang menyelamatkan dunia? Maka itu tak mungkin terjadi bila kita tidak membesarkannya dengan baik. Yesus sendiri telah merasakan pendidikan dan asuhan dari orangtua, dan ia telah merasakan bagaimana menjadi seorang bayi. Maka di saat-saat tersukar dalam kehidupanku sebagai seorang ibu, aku beroleh kuat karena Yesus tahu pergumulanku, dan Ia pula tahu apa yang dirasakan anakku.
Yes! My Saviour was a Baby! And I'm glad that He was.
Tuesday, November 4, 2008
Hal Berdoa
Mengapa kita harus berdoa padahal kita tahu bahwa TUHAN tahu apa yang kita inginkan dan bahwa TUHAN sudah punya rencana yang terbaik bagi kita?Manakah yang tepat: mengimani doa atau mengimani Sang Penjawab Doa?
Kontemplasiku, peran doa sebenarnya adalah sebagai alat untuk menunjukkan penyerahan diri, suatu total submission, yaitu bahwa hanya pada TUHANlah kita mencari pertolongan, BUKAN sebagai alat untuk memaksa TUHAN melakukan apa yg kita kehendaki. Kala kita berdoa, Tuhan mendengarkan dengan sabar setiap keluhan bahkan kecewa dan murka kita, sambil menyelidiki hati kita adakah satu noktah kecil kesombongan yang ingin membelokkan rencana kekalnya dibawah kehendak kita yang fana.
Tuhan memberkati doa--sebagaimanapun pahitnya doa kita, bahkan doa yang tak mampu terucapkan dalam kata--yang diserukan dalam ketidakberdayaan kita. Doa yang mampu 'menggerakkan' hati TUHAN adalah doa yang dipohonkan dengan sungguh dalam penyerahan diri total sebagai tanda bahwa sungguh-sungguh tidak ada yang sanggup menolong kita selain TUHAN, yang berarti kita beriman bahwa TUHAN adalah ALLAH yang memegang otoritas atas kehidupan kita, dan bukan doa yang didasarkan pada keyakinan tidak berdasar bahwa jika doa disampaikan berulangkali pasti kita mampu menundukkan kehendak Allah.
Lihat saja Musa dan Abraham yang dalam iman mampu "tawar menawar" dengan Tuhan. Sepertinya Tuhan menyerah dengan tuntutan mereka. Benarkah? Namun tdk ada yang dapat membelokkan rencana Allah. Meskipun jalan mesti berkelok, arah menuju tujuan yang telah ditetapkan Tuhan takkan pernah mungkin terganti. Musa tetap menjadi pemimpin bangsa
Israel meski ada Harun sebagai mulutnya, dan bukan kebetulan Harun menjadi cikal bakal kaum Lewi yang memiliki fungsi khusus di hadapan Tuhan. Di hadapan Tuhan, Musa merendahkan diri di bawah otoritas Tuhan. Abraham pun demikian ketika memohonkan keselamatan bagi Lot
dan keluarganya. Lalu bagaimana dengan Maria ibu Yesus yang harus menanggung malu,
hamil di luar nikah, namun dengan penuh kerendahan hati dan kebesaran iman sanggup berkata, "Sesungguhnya aku adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut kehendakMU." Apakah Tuhan tidak adil, sehingga keinginan terdalam dari Maria untuk hamil secara normal tak
dikabulkannya? Lalu bagaimana dengan Yesus sendiri? Kurang berkuasakah Dia untuk dapat "mengubah" kehendak Bapa?
Doa yang benar adalah doa yang dibawa dalam iman pada Sang Penjawab Doa. Doa yang benar adalah doa yang dipohonkan dengan keyakinan bahwa apapun jawaban Tuhan terhadap doa kita, di ujung penantian kita hanya kebaikanlah yang akan nyata, yang datang dari rencana Tuhan yang sempurna. Doa adalah pernyataan iman kita secara vertikal kepadaNYA.
Inilah kontemplasiku, karena sungguh Tuhan telah menjawab doaku dengan berbagai cara, yang mudah dan yang paling pahit, dan menunjukkan kasihNYA yang sempurna lewat rencanaNYA yang tak terduga namun indah tiada taranya.
Tuhan memberkati kita semua yang berdoa dengan kerendahan hati.
Subscribe to:
Posts (Atom)
