Sunday, December 14, 2025

Menjadi Saksi



Mengabarkan Injil berarti menempatkan diri kita sebagai SAKSI. Seorang saksi adalah orang yang dipercaya memiliki informasi yang benar untuk membuktikan suatu fakta. Bersaksi tentang Kabar Baik berarti kita HARUS sudah mengalami Anugerah yang dikabarkan melalui Injil tersebut, agar orang yang mendengar kesaksian kita yakin akan kebenaran dalam berita kemenangan Kristus.

Memahami ini mestinya membuat kita tidak lagi bingung dengan metode pekabaran injil, karena memberitakan Kabar Baik sesungguhnya adalah seperti menceritakan apa adanya realita keseharian kita bersama Kristus Yang Hidup, sama halnya seperti kita menceritakan keseharian kita dengan keluarga dan pekerjaan kepada teman dan pengikut media sosial kita. Sejauh mana Kristus telah mengubah dan memelihara iman kita, sejauh itulah kesaksian kita kepada orang lain akan dipakai Roh Kudus untuk menanam benih iman di dalam hatinya. Bagian kita bukan untuk menceritakan hal yang di luar pemahaman dan pengalaman kita, tetapi menyaksikan karya unik Allah dalam hidup pribadi kita, karena ketulusan dan kejujuranlah yang akan membuka kunci hati mereka yang terluka dan membutuhkan anugerah.

Persoalannya, apakah kita memberi kesaksian yang benar untuk kemuliaan Allah, ataukah kesaksian yang tidak berdasar yang dibangun atas pemikiran dan ego pribadi?

Markus 14:56 (TB) Banyak juga orang yang mengucapkan kesaksian palsu terhadap Dia, tetapi kesaksian-kesaksian itu tidak sesuai yang satu dengan yang lain.

Sudahkah Anda mengalami Kristus?
Ayo, mari bersaksi dengan jujur dan rendah hati. Izinkan Roh Kudus yang bekerja dan bukan kepintaran metode kita.

Sunday, March 2, 2025

Biblical Psychoanalysis 1: Humanity vs Godliness


Manusia melakukan pemberontakan yang masif dalam kisah menara Babel, hanya beberapa saat setelah kejahatan di bumi dilenyapkan dengan air bah. Secara psikoanalisis bisa dikatakan bahkan pemberontakan itu terjadi secara eksistensial dalam ketiga aspek:

Posisi: #Superego ==> Ingin menjadi setara dengan Tuhan baik secara tempat [Genesis 11:4 (NET) ...a city and a tower with its top IN the heavens > shamayim, God's dwelling place],  maupun secara peran [Genesis 11:3-4 (NET)  Then they said to one another, “Come, let’s make bricks and bake them thoroughly.” (They had brick instead of stone and tar instead of mortar.) Then they said, “Come, let’s build ourselves a city and a tower...]. 
Mereka menolak bahan baku alamiah dari alam ciptaan Tuhan dan menciptakan bahan yang lebih baik daripada batu dan tanah liat. Dari sekedar sebagai ciptaan, mereka ingin menunjukkan diri sebagai pencipta, dan ingin bersemayam di langit. Mereka yakin akan kemampuan sendiri untuk dapat memasuki teritori Tuhan.

Jati diri: #Ego ==> Menolak esensi yang diberikan Tuhan [Genesis 11:4 (KJV) ...and let us make us a name]. Tuhan TIDAK MEMBERIKAN KITA NAMA. [Kejadian 1:26 (TB)  Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." > adamah berarti tanah]. 
Dalam Kej 1:5-10 Allah memberi nama pada alam yang dikuasainya, dalam Kej 2:19 Allah memberi mandat pemberian nama kepada manusia, untuk menamai makhluk hidup lainnya, proses pemberian nama pun diawasi langsung oleh Tuhan. Nama adalah simbol esensi. Nama adalah identitas yang bersifat mengikat dan memiliki batas. Karena itu Tuhan pun tidak punya NAMA, karena Ia adalah dirinya sendiri. Tuhan menyebut kita secara lengkap sebagai [tanah yang dijadikan menurut gambar dan rupa Pencipta untuk berkuasa atas makhluk di bumi] dan tidak pernah menamai spesies kita, tujuannya adalah untuk kita memahami esensi bukan mencitrakan identitas.

Hasrat: #Id ==> Nyata-nyata menginginkan sebaliknya dari yang diperintahkan Tuhan pada Adam dan diteguhkan kembali kepada Nuh, [Kejadian 1:28 Allah memberkati mereka, ... "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu..."] dan [Kejadian 9:1 Lalu Allah memberkati Nuh... "Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi."], bandingkan dengan [Kejadian 11:4 Juga kata mereka: "... supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi."]. 
Dorongan hati yang berkontradiksi dengan maksud dan tujuan penciptaan Tuhan jelas-jelas menunjukkan kerusakan yang sangat luas dan mendasar akibat dosa. Dengan gamblang mereka bukan hanya menyimpang dari jalan yang ditetapkan Tuhan tapi berjalan ke arah yang sebaliknya.


Manusia sejak dulu sudah memiliki konsep humanitarian. Persatuan dan perdamaian membuat manusia menjadi lebih kreatif dan praktis. Ini bukanlah hal yang buruk, bagaimanapun Tuhan memang menciptakan kita segambar dan serupa dengan Allah Trinitas, dan bahkan disenangkan oleh kerukunan dan kreativitas kita. Peristiwa Menara Babel adalah peringatan bagi kita bahwa sometimes humanity is not godliness. Konsep kemanusiaan kita sudah seharusnya bersumber dari konsep Allah tentang manusia, God-centered dan bukan human-centered. 

Remember, human without God's breath is nothing but dirt, so true humanity should be a true humility.


#godlyhumanitarian #biblicalpsychoanalysis


- IR, 2025

Sunday, August 7, 2022

Merdeka dari Tanya


Sepanjang sejarah manusia selalu mencari "makna kehidupan". Para filsuf dan ilmuwan selama berabad-abad berusaha memaknai "manusia" dan "kemanusiaan" dengan berbagai definisi dan pendekatan. Dalam pencarian itu konsep "Tuhan" selalu lekat dengan pemaknaan "manusia". 

Apakah manusia diciptakan? Apakah manusia merupakan produk kebetulan dari alam yang berevolusi? Mengapa manusia berbeda dari makhluk bumi lainnya? Mengapa manusia memiliki kesadaran? Apa itu penderitaan? Apa itu kebahagiaan? Bagaimana menjalani waktu di antara kelahiran dan kematian? Apakah Tuhan mengatur kita? Ataukah kita semua adalah Tuhan? Dan... Mengapa kita selalu gelisah dan bertanya?

Kita terbelenggu.

Dengan tanya dan logika.

Menjawab berbagai tanya kita mulai melahirkan berbagai konsep dan teori, memberi label terhadap berbagai hal, bahkan terhadap peran yang kita mainkan dalam hidup sehari-hari. "Orang baik" "pengkhianat" "ibu kandung" "orang cacat" "penderita sakit jiwa" "ketua perkumpulan" dan lain sebagainya. Kita menyebut orang dengan labelnya yang kita buat berdasarkan konsep kita terhadap peran.

Bagi manusia, Tuhan adalah konsep. Yang lahir dari tanya dan logika. Tapi kita sesungguhnya mencoba lupa, bahwa konsep terhebat kita tentang Tuhan tak dapat menjawab seluruh tanya kita tentang semesta. Maka satu-satunya jawaban adalah ya, Tuhan bukan ide, bukan konsep, bukan objek, namun adalah realita itu sendiri. Realita tak dapat dikonsepkan, hanya dialami dan diterima. Konsep tak dapat mengubah realita karena konsep hanya cara pandang kita terhadap realita. Kita tak bisa mengubah realita, hanya bisa mengubah perspektif kita terhadapnya. 

Realita-lah yang mengubah kita. 

Perspektif melahirkan konsep dan konsep melahirkan respon. Kita merespon realita dan tanpa sadar beradaptasi dengannya. Jika kenyataan hidup kita pandang buruk, maka buruk pulalah konsep kita tentang Tuhan bukan? Bukankah itu berarti kita yang secara sepihak memaknai Tuhan dan lupa bahwa realita yang kita pandang buruk sesungguhnya adalah baik dari perspektif semesta?

Definisi ini menjawab segalanya:

Keluaran 3:13-14 (TB) Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? — apakah yang harus kujawab kepada mereka?" 

Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." 

AKU ADALAH AKU - merupakan definisi Tuhan tentang dirinya, sebagai realita yang ada, yang dahulu ada, sekarang ada, dan tetap ada sampai akhir masa.

Bebaskanlah diri dari belenggu cemas dan depresi karena berbagai tanya, dan terimalah realita. Terimalah Tuhan sebagaimana adanya, yaitu yang SATU-SATUNYA bisa menjawab pertanyaan semesta: semua karena kehendakNya, dan rancanganNya baik adanya.

Merdeka!


Menyambut kemerdekaan RI - August 2022, eRain@

Saturday, November 30, 2019

Membangun dan Merenovasi

Ground Zero Hiroshima Atomic Bomb, Japan, October 2019


Gedung yang megah tidak mungkin berdiri tegak tanpa fondasi yang kokoh.
Jangan menilai hasil kerja seseorang berdasar apa yang tampak, karena mungkin saja itu dibangun di atas keringat lelah bergenerasi2 pendahulunya yang membangun fondasi namun tak pernah tampak di permukaan.
Gedung yang indah bisa hancur dalam sekejap mata, tapi mudah dibangun lebih indah lagi jika fondasinya tak turut lenyap. Sebaliknya fondasi yang lemah akan membuat bangunan yang megah sekalipun runtuh dengan sendirinya.

It's far more harder to create from zero than to modify and build from what already exist. But it's far more proud to have people notice on the hard work we've done on developing what's already established.

Both are good.

Me myself prefer to work as foundation setter, it's more challenging to me. But above all, it prevents me to fall being arrogant upon people's praises, and so all glory shall really be unto God. Tapi adakalanya Tuhan menyiapkan misi di tempat yang pernah digarap namun kini penuh belukar, disitulah tantangannya menjadi berbeda. Sebuah bangunan sudah berdiri namun tidak dirawat dan dibiarkan terbengkalai? Butuh effort lebih untuk merenovasi, atau jika Tuhan berkenan menghancurkan bangunan lama dan membangun yang baru, itupun butuh kerelaan dan ketaatan tinggi untuk bisa memahami rencana dan kehendak Tuhan.

Apapun itu Pengkhotbah 9:10 mengingatkan "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi." 

#blessed #content #fulllife

Thursday, July 18, 2019

Parenting and Discipleship

Dear parents,
Kenalkah anda siapa diri anda sebagai pribadi? Bukan sebagai istri/suami si X, atau mama/papanya A B C. Tapi sebagai kamu, ya kamu.
Puaskah anda mengenai siapa diri anda sebagai pribadi? Merasa banyak kekurangan? Wajar. Bukankah ada banyak juga kelebihan?
Dear parents,
Kenalkah anda siapa anak anda sebagai pribadi? Bukan sebagai anak anda atau adik/kakak anak anda yang lain, tapi sebagai dia, ya dia.
Tidak perlu rasanya bertanya apa anda puas dengan apa yang anda kenal tentang siapa anak anda, karena naturnya rasa cinta kita akan menutupi segala kekurangannya.
Dear parents,
Tahukah anda bahwa dalam parenting sangat sering kita lupa bahwa ada 2 pribadi yang terlibat di sini, anda sebagai orangtua yang adalah satu pribadi unik dan anak anda sebagai satu pribadi unik lainnya. Sebagai orangtua kita cenderung menganggap anak kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari diri kita. Sehingga seringkali kelemahan kita yang tampak (atau baru berpotensi dimiliki) pada anak kita, kita kalang kabut berusaha memperbaikinya, dengan menghukum atau menutupinya, tanpa sadar bahwa yang berusaha kita perbaiki sebenarnya adalah kelemahan kita sendiri dan bukan milik anak kita. Kita cenderung paranoid menganggap anak-anak kita akan mewarisi kelemahan kita, dan dengan dalih "ingin anak kita menjadi lebih baik dari kita" malahan kita menutup potensinya untuk berkembang menjadi pribadinya sendiri yang unik. Terlalu sering kita berusaha mencetak "mini-me" versi 2.0 ketimbang menikmati proses indah yang Tuhan sudah siapkan untuk ditapaki oleh kaki-kaki kecil anak kita bersama Tuhan.
Dear parents,
Anda dan anak anda adalah pribadi-pribadi yang masing2 sedang menapaki jalan Tuhan. Di titik awal perjalanan sang anak dia butuh anda sebagai pribadi yang sudah lebih dahulu mengenal diri, karena ia belum kenal siapa dirinya. Pribadi anak butuh patron dan bimbingan untuk memunculkan kesadaran akan "pribadi". Kesadaran itu akan perlahan terbentuk seiring perkembangan psikologisnya. Jika kesadaran itu bertumbuh di tengah dinding batasan yang terlalu rapat, dihiasi dengan mural2 kesuksesan orangtua dan pathway baku yang sudah digariskan ayah bunda, maka pribadi anak akan sulit menggali potensi dirinya. Kesadaran akan pribadi yang baik membutuhkan bimbingan, bukan tuntutan. Dan terutama, kesadaran akan pribadi yang baik membutuhkan patron/contoh dari pribadi yang sudah memiliki kesadaran diri seutuh, yaitu anda sebagai orangtua, bukan sekedar nasehat dan jargon2 tentang kehidupan yang baik saja.
Dear parents,
Sudah kenalkah anda siapa diri anda sebagai pribadi? Sudahkah anda mencintai pribadi unik anda sendiri?
John Calvin pernah berkata, “Wisdom lies in knowing God and knowing oneself.” Mengenal diri kita melalui mata Allah, akan memberi kita hikmat untuk menuntun anak2 kita mengenal dirinya dan menemukan Tuhan yang mengasihi dirinya sebagai pribadi yang unik di mata Tuhan.
Dear parents,
I urge you to no longer making "mini-me ver 2.0" project with your child, instead do discipleship by first being a committed disciple of Christ. ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™
--- IR, 19072019


Wednesday, April 17, 2019

Damai Sejahtera Allah

Matius 26:51-52, 55-56 (TB)  
Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya. Maka kata Yesus kepadanya: "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.
Pada saat itu Yesus berkata kepada orang banyak: "Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi." Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri. 


Ancaman membuat otak kita bereaksi dengan dua macam pilihan: fight or flight.

Reaksi pengikut Yesus untuk menghunus pedang saat melihat Guru-nya hendak diperlakukan dengan tidak adil adalah respon sistem saraf otonom yang normal. Reaksi semua murid yang mendadak melarikan diri saat melihat Sang Guru tidak berniat mempertahankan diri juga adalah reaksi sistem saraf otonom yang sangat normal.

Menghadapi ancaman, sangat wajar melakukan salah satu di antara kedua hal tersebut. Tapi, mengapa Yesus bisa bereaksi berbeda? Yesus pun merasa gentar, bahkan sebelumnya Ia berdoa dengan peluh yang bercampur darah, menunjukkan sistem saraf otonom bekerja hingga titik maksimal. Tapi Ia tidak lari, tidak pula melawan, namun maju terus menuju salib dengan pikiran jernih dan emosi yang terkendali.

Kondisi ini hanya bisa tercapai oleh keselarasan yang bersumber dari damai sejahtera Allah, suatu damai sejahtera yang melampaui segala akal, dan hanya bisa kita alami apabila kita berfokus hanya kepada Allah saja sebagai Yang Awal dan Yang Akhir, percaya dan mempercayakan diri pada kedaulatan-Nya sebagai Sang Khalik.

Sering dalam kehidupan kita, banyak hal yang membuat kita cemas dan takut sehingga merampas damai sejahtera yang sejatinya adalah hak kita sebagai anak-anak Allah. Kekuatiran tentang penghidupan maupun ketakutan akan bahaya membuat kita tidak dapat berpikir dengan jernih dan mencoba melawan dengan segala cara, atau berpura-pura masalah itu tidak ada dan mengabaikannya, sampai akhirnya sistem saraf kita mengalami disfungsi akibat ketegangan terus menerus yang tidak mencapai resolusinya.

Sesungguhnya kita bisa belajar dari cara Yesus menghadapi rasa takut yang timbul dari ancaman akan sesuatu yg buruk. Sebagai manusia Yesus merasa takut, dan ketakutanNya bukan hanya sesuatu yang terjadi di alam pikiranNya saja, namun bermanifestasi secara fisik. Sebagai Tuhan, Yesus memiliki Roh Hikmat yang luar biasa yang menuntun Dia melewati ketakutanNya, dan Roh yang sama sesungguhnya telah Ia berikan juga bagi kita.


Metode Yesus Menghadapi Rasa Takut

Matius 26:36-40, 42, 44-46 (TB)  
Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa."
Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, 
lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku."
Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?
Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"
Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga.
Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.
Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat."
Aku pergi ke sana untuk berdoa

Yesus pergi ke tempat sunyi untuk berdoa. Langkah pertamanya menghadapi rasa takut adalah [1] berdoa. Ketika kita terlalu dikuasai oleh rasa takut sehingga emosi kita meninggi dan marah, doa adalah hal yang paling tidak mungkin dilakukan. Ketika rasa takut menimbulkan perasaan tertekan dan sedih, kita sering berdoa namun doa kita sering tanpa iman dan pasrah begitu saja. Yesus memberi contoh bahwa respon pertama terhadap suatu masalah yang menimbulkan rasa takut haruslah "doa di tempat sunyi". Di manakah tempat yang sunyi itu? Tempat yang sunyi, Getsemani kita, adalah momen sejenak ketika kita memutuskan diri dari semua input indera yang dapat memberi tambahan tekanan kepada sistem saraf kita: mata yang melihat persoalan, telinga yang mendengar komentar negatif, kulit yang berkeringat dingin, dan setiap hal yang bisa menambah kecemasan. Hentikan semua itu sejenak dari sistem kita agar otak kita bisa fokus menaikkan doa yang benar. Tempat yang sunyi tidak selalu harus merupakan tempat khusus, dalam berdiri diam dan tenang kita sudah bisa berada di sana.

Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya

Yesus membawa sahabat-sahabatNya menemani. Hal yang kedua setelah doa adalah [2] melibatkan teman. Teman adalah orang yang kita sayangi, dan kita percaya mereka pun menyayangi kita. Tidak ada alasan persis mengapa kita dan teman kita bisa saling menyayangi, namun rasa sayang itu mampu memberi kita kekuatan dan dukungan secara moril. Dalam keadaan yang menakutkan, kehadiran teman sangatlah berharga. Teman yang seperti itu hanya bisa kita miliki jika kita pernah tulus menyayangi orang lain, sehingga rasa sayang dan percaya akan saling mengalir timbal balik memberi kekuatan.

lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih

Langkah Yesus selanjutnya adalah [3] membuka hati. Yesus tidak ragu menyatakan perasaannya yang gundah gulana. Sebagai Guru mereka Ia bisa saja merasa superior dan gengsi, tidak mau dianggap lemah oleh orang lain. Kita seringkali ragu berbagi perasaan dengan teman karena takut dicap lemah, takut menyusahkan orang lain, takut dicerca balik, takut dikhianati. Tapi Yesus mempercayai sahabatNya, dan Yesus tahu bahwa dengan melakukan ventilasi, ketegangan yang Ia rasakan dapat sedikit mereda, hanya dengan membuka hati kepada sahabat yang Ia percaya.

Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku

Ini hal yang sangat menarik. Yesus mengajak sahabat-sahabatNya terlibat dalam peperangan batinNya, ia dengan jelas mengatakan apa yang Ia rasakan, namun Ia juga [4] dengan spesifik mengatakan apa yang Dia harapkan dilakukan oleh teman-temanNya. Yesus meminta agar mereka "tinggal dan berjaga-jaga". Seringkali ketika kita "curhat" ke sahabat-sahabat kita, mereka dibuat bingung oleh kondisi kita, karena jika mereka memberi nasihat kadang kita terlalu galau untuk mendengarkan, namun jika mereka diam kita kecewa karena merasa kurang diperhatikan. Yesus memberi permintaan spesifik kepada sahabat-sahabatNya. Ia meminta mereka berjaga-jaga, yang dalam ayat lain dikaitkanNya dengan "berdoa". Yesus dengan jelas meminta mereka secara fisik hadir (tinggallah di sini) dan secara rohani menopang pelayananNya (berjaga-jagalah dengan Aku), dengan jelas Yesus mengutarakan permintaanNya kepada sahabatNya agar mereka tahu bagaimana harus membantu.

Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa

Yesus tidak cengeng, Ia mengajak sahabat-sahabatNya mendukung Dia, namun Yesus tahu masalah ini adalah masalahNya sendiri, dan hanya [5] Dia sendiri yang harus meminta pertolongan langsung dari Bapa di Sorga. Seringkali kita terjebak dalam dukungan sahabat, dan bantuan mereka justru menjadi bumerang yang mematikan kerohanian kita. Kita menganggap bahwa ketika kita melibatkan teman dan meminta mereka untuk menemani secara fisik dan mendoakan kita, itu sudah cukup. Kita lupa bahwa persoalan kita masing-masing merupakan cara Tuhan yang spesifik untuk mendidik kita, untuk dekat dengan kita secara pribadi. Dukungan teman bukanlah solusi utama, tapi hanya dengan sujud menghadap Tuhan secara pribadi, mengambil jarak dari sahabat dan menghadap langsung muka dengan muka dengan Tuhan, dari situlah terletak kekuatan kita.

Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, 

Yesus tahu kepada siapa Ia berdoa, dan Ia [6] memposisikan diri secara pantas kepada siapa Ia berdoa. Ia menyebut Tuhan sebagai Bapa-Nya. Sebagai seorang anak, kita dimungkinkan untuk mendekati bapa kita dan meminta. Permintaan seorang anak kepada bapanya adalah sesuatu yang wajar, namun pula harus dilakukan dengan sikap hormat, dengan menghargai otoritas seorang bapa yang berhak memutuskan apa yang dianggapnya baik bagi anaknya. Lebih-lebih lagi Bapa kita di Sorga. Saat kita menghadapi masalah, janganlah kita lupa kepada siapa kita berdoa, janganlah menganggap Tuhan seperti tiran yang kejam atau seperti jin botol Aladin yang akan mengabulkan apa saja. Posisikan diri secara benar saat menghadap hadiratNya.

biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki

Yesus [7] meminta dengan jelas apa yang Ia harapkan, namun dengan mengingat posisinya sebagai Anak yang berada di bawah otoritas Bapa. Ketika kita kuatir, sebutkan dengan jelas apa pokok kekuatiran kita. Meminta dengan jelas bukan berarti kita meminta sesuatu secara harafiah seperti mobil, hujan, uang sejumlah sekian, bukan. Meminta dengan jelas adalah dengan mengidentifikasi persoalan kita dengan jelas, karena solusi dari persoalan itu hanyalah milik Tuhan, karena itu Yesus berdoa, agar kehendak Bapa-lah yang jadi.

mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga

Adakalanya sahabat-sahabat kita sibuk pula dengan hidup dan persoalannya sendiri sehingga mereka lupa untuk mendoakan kita. Yesus tidak ragu untuk [8] mengingatkan teman-temanNya untuk terus mendukung Dia. Tidak ada salahnya kita kembali menceritakan perkembangan masalah kita dan kembali meminta agar sahabat-sahabat kita tetap mendukung dalam doa.

Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa

Yesus tidak putus asa dan [9] terus berdoa. Meskipun kita melihat bahwa orang lain tidak terlalu peduli dengan masalah kita, dan kadang kita merasa sendirian, kita tidak boleh berhenti berharap hanya kepada Tuhan dan terus berdoa.

Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!

Doa Yesus yang kedua dan sama pada kali ketiga telah mengandung makna [10] pemahaman dan tekad. Ketika kita berulang kali berdoa dan masalah kita tak juga kunjung selesai atau menghilang, Yesus memberi teladan untuk berdoa dengan mengucapkan dengan jelas pemahaman kita akan apa yang Tuhan izinkan untuk terjadi, dan dengan berani mengucapkan tekad kita untuk menghadapinya bersama dengan Tuhan. Frasa "jadilah kehendakMu!" bukanlah ucapan orang yang pasrah tak berdaya, tapi suatu seruan iman bahwa "dalam kedaulatan Tuhan kuserahkan masa depanku!"

Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa

Kali kedua Yesus kembali, murid-muridNya tertidur, namun [11] Ia tidak lagi membangunkan mereka saat pergi lagi untuk berdoa. Betapa sering kita merasa kecewa karena setelah beberapa kali dimintai dukungan, sahabat-sahabat kita tetap abai dengan kondisi kita atau tak berdaya melakukan yang kita harapkan. Yesus tidak kecewa, karena Ia tahu dengan kehadiran mereka di situ saja mereka sudah memberi topangan moral kepadaNya. Ia memahami natur dari manusia yang mudah berubah setia, namun itu tidak mengurangi sedikitpun rasa persahabatannya kepada mereka. Meski kita merasa kecewa jika sahabat kurang mendukung kita, namun mengucap syukurlah karena dengan merekapun masih menganggap diri sebagai sahabat kita, kita sungguh diberkati.

Tidurlah sekarang dan istirahatlah.

Setelah segala upaya dan doa telah maksimal dilakukan, tips Yesus yang luar biasa bagi kita yang cemas dan berbeban berat: [11] tidur dan beristirahat. Secara fisiologis tidur akan mengembalikan kekuatan kita, tidur akan menormalkan fungsi-fungsi otak, tidur akan memulihkan hormon dan neurotransmitter otak yang bermasalah.

Bangunlah, marilah kita pergi

Langkah terakhir Yesus adalah [12] bangun dan pergi. Setelah berdoa, meminta dukungan sahabat, beristirahat, saatnya untuk menghadapi persoalan dengan berani. Tidak lari dan tidak menyerang, tapi berjalan maju dengan Hikmat Tuhan dalam damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal.


Selamat merayakan hari raya Paskah.

Yesus sudah menang di atas kekuatiran, mari ambil bagian dalam kemenanganNya.


[IR 18042019]

Friday, April 12, 2019

Why Does God Allows So Much Suffering and Evil

In the beginning the heaven and earth God created were so perfect and flawless. He made man to His image, and that includes our free will. He was aware of the danger lurking from giving man freedom to choose his acts, but He has created man so perfect that without giving man His free will God would deny Himself from perfection. But he knew that man will fall into evil having their free will attempted by evil. He can prevent it because He is almighty, but He didn't! He allow evil to exist, He didn't create it. Evil gained its power by the means of how it became possible, the free will, but not by the creation nor commanded by the Holy God. Within God there is no evil. He took full responsibility on why evil exist, but He never created it nor having evil intention within Him on letting evil seduced man to sin.

Why??????
Is He toying with us? He love seeing us struggle and enjoy looking down at us fervently pleading for His deliverance? And in many parts of the Bible he was just telling us to shut up and trust Him, shut up because He is God and He can do whatever best he wants? Most christians would find that answer satisfying, because being His children we were convinced of His kindness and providence. But as our fellow atheists asked us this troubling question, they wouldn't understand our proclamation of faith about letting God do what He wants because He's God, and even worse when in the end we end up doubting His virtues as God! What kind of God would let bad things happens while He can prevent them from happening? Or is He not as almighty as He claimed to be? That there's this good and evil equilibrium that had to happen?

But here is (what the scriptures revealed to me) why :
God have to allow evil exist so He can display the fullness of His glory.

Wait, that's standard biblical answer. So God let evil be so He can let the world see that He's victorious over evil. Nothing new in that. Still we have this tingling feelings at the back of our mind that question the intention of God wanting to look majestic over making us look miserable!

Now here's the thing.
The story goes back to the creation of the world.

Part 1. Evil Emerged

Genesis 1:1-4 (UKJV)  In the beginning God created the heaven and the earth. And the earth was without form, and void; and darkness was upon the face of the deep. And the Spirit of God moved upon the face of the waters. And God said, Let there be light: and there was light. And God saw the light, that it was good: and God divided the light from the darkness.

In the beginning: GOD. 
Only God alone at the very most beginning. So lesson 1: God wasn't accompanied by evil, only God and God alone, no sort of other entity of any kind at the beginning of everything, only God. He is the only being, the entire universe, the source of all things created. And He is Holy, so pure, and filled with so much energy of Love, that He cannot contain Himself from radiating His Love and Glory that He have to create an object for His affection.

God created. 
Lesson number 2:  God is not in equal power to evil, He is the Only One that is Almighty, the most powerful ultimate entity. The power of creation is in His hands and in Him only, making something out of nothing, that's the signifier of Godly power. Evil can only replicate, move, or transform materials, but only God can bring such materials to exist out of nothingness. Evil power were no match to God's power, not even close.

God created the heaven and the earth. 
Now here we see that God starting to allow contrast to exist. What was above and what was below. Lesson 3: God created contrast as means to reveal Himself, and not a contradictive state between good and evil. Contradiction means things that's an opposite to another, but contrast that one object would stand to exist in comparison to other. How can we know we're on earth? Because we can see heaven above us. With this God created the seed of self-consciousness, the ability to know the difference. No contradiction in God because He's whole, but to make Himself known as He is, He have to create contrast to distinguish His being from other being. So at this point we can see that He didn't created evil.

And the earth was without form, and void.
After the creation of materials, God's first focus was on the earth! He didn't go on and beautify His throne in the heavens, or maybe it was already beautiful from the beginning since He created this contrast between heaven and earth, and heaven might already created with heavenly materials radiating His Glory. But He fixed His eyes upon the earth! Which is formless and void in His eyes. Here's lesson number 4: He always look upon us in the most loving way, He will never settle with imperfections. In His eyes, the earth wasn't bad or evil, it just need more loving touches. God looked upon the earth in loving eyes, looking at its shortcomings, and in great desire to furnished the earth to greater condition. Numerous times during the creation He saw that "it was good", and never he said it was bad at the first place. God cannot make those good creations if He hadn't started it with looking at the earth's imperfections with loving eyes! As beautiful as heaven could be, the earth has to be wonderful as well. The earth was good and wasn't evil in His sight, it was just formless (which means it have to be formed) and empty (which means it have to be filled).

Darkness was upon the face of the deep.
What is this darkness? God only created the heaven and the earth at the beginning, two major objects (nouns), not in contradiction to one another, but in contrast to each other. And the earth was described with two adjective words, meaning it was formless and totally empty, and then suddenly came the noun "darkness"? Is it another creation we don't know about? Now here comes the lesson number 5: by making contrast to reveal His Glory, God allowed darkness to emerge, not created it but allowing it. Because darkness formed itself as the consequence of making contrast to what is not dark. What is not dark was the heaven, and in contrast to heaven there's this layer of darkness upon the deep waters to define earth. This is the beginning of how evil lurks in every good creations God made. Darkness is not evil itself, because its a creation and God creates no evil. God is Holy and nothing evil comes out of Him, but as the fourth noun emerged in the story of creation, darkness has become the earliest symbol of evil being contrasted to God. Does God not know about this? Or being ignorant about this? Is this so called darkness jeopardising His sovereignty like some future threats He wouldn't know about?No. It's just how God intended it to be, and since God is Holy so He can never have evil intention resides in His doings, including in allowing darkness to emerged.

And the Spirit of God moved upon the face of the waters.
Darkness was said to reside upon the face of the deep. Darkness is part of the creation, all creations are tools for Him to reveal His glory, and because that He can choose to reveal himself also in darkness. Abraham met Him in trembling darkness: [Genesis 15:12 (UKJV)  And when the sun was going down, a deep sleep fell upon Abram; and, lo, an horror of great darkness fell upon him.] Nothing is beyond His control, including darkness. No. He is still the One and Only above all, in charge of everything, and everything in all. The lesson from this is the 6th, that is:
God allows darkness, but still He's above it and controls it. In spite of all the darkness, the Spirit of God moved freely upon the earth, the darkness didn't consume Him, it showed distinction between God and creation and it confirmed God's sovereignty over creations. He never created something He cannot control, because He's above all things, and within His control everything will ends up Good and Perfect.

And God said, Let there be light: and there was light.
After we came across the darkness which was not created but there was due to contrasting nature between heaven and earth, here we witnessed the wisdom of God. Instead of wiping out problems miraculously, He offered a way out! That's your 7th lesson. He's powerful beyond our imaginations, He could've just say the word: Let there be no darkness! And there goes the darkness without ruining His heaven and earth scheme. But He didn't! Instead He provide a worthy opponent to 
darkness that can symbolise His goodness while keeping Himself above all as sole creator that none to compare with. 

And God saw the light, that it was good.
This is the first time God indicated that there was something other than good. Before the two adjectives used formless and void, weren't the condition of something not good, it just need improvement to be better. But now, God saw something good. This can only be after the full recognition that something evil might have exist. It's no longer only a concept about being in contrast, but already form the contradictive state which opposing to each other. As darkness cannot exist when light is, so is the state of evil and goodness.
But Light was created! God is not the light. Light is creation, material, a tool. Darkness is not evil itself, but as it went further contradicting with Light, God has allowed the two nouns we can use to symbolise what's good and what's evil. So 8th lesson: what is revealed under the light is good, and what's hidden mischievously under darkness is evil.

God divided the light from the darkness.
God went all the way by setting these two conditions apart. Good and evil could never co-exist.

Now that's just the story about how evil emerged. We still have the question asked about why should God allows evil and sufferings to happen? He could've prevent Eve from falling in into temptation, couldn't He? How can He let evil gain power and prevail over man who He had created so dearly?

Part 2. God's Revelation

Genesis 1:27-29,31; 2:1 (UKJV)  So God created man in his own image, in the image of God created he him; male and female created he them.And God blessed them, and God said unto them, Be fruitful, and multiply, and replenish the earth, and subdue it: and have dominion over the fish of the sea, and over the fowl of the air, and over every living thing that moves upon the earth.And God said, Behold, I have given you every herb bearing seed, which is upon the face of all the earth, and every tree, in the which is the fruit of a tree yielding seed; to you it shall be for food.And God saw every thing that he had made, and, behold, it was very good. And the evening and the morning were the sixth day.Thus the heavens and the earth were finished, and all the host of them.

So God created man in his own image.
Man was created in his most esteemed state, in God's own image. Perfect in every way. Man can move, feel, think, just as similar to how God does. No other creation received such honour. But still, a creation. No matter how perfect a creation is, it will never be at the same level of perfection as the Almighty Creator. The Creator, God, was never created, He always was, and is, and will be. He's the Ultimate Being, that's why His Holiness is original, because it came from within. In the other hand, the holiness of man was bestowed upon by the breathing in of His Pneuma. It's something external, it can be taken away or corrupted.

And God blessed them.
Blessings from God means approval. Having blessed by God means God was pleased and had made a covenant to Himself that He will provide all that is necessary for man to live his life in the earth He had created. This blessing includes fertility, health and stamina, protection, food, joy, power over other creation, and every good things one could ever need to feel contentment. God showed His abundant and overflowing love within His blessing.

And God said, Behold, I have given you.
Here God established His position as their God, their Creator, and Ruler. They might rule over other creations, but God was above them, above everything else, and only God's Words must they listen attentively and obey. These Words were given, not offered. It have to be received, not considered.

And God saw every thing that he had made, and, behold, it was very good.
After God created all things, pour out His blessings, and set His boundaries, He saw that it was all very good. There's this one step higher than just being good as it being compared to evil, here God compare this perfected earth to its early state of being formless. It has grow from good to very good!

Thus the heavens and the earth were finished, and all the host of them.
It's all completed. Now God rested and dwell in His Glory, glorified by all creations, on heaven and earth, and pouring out His blessings and love, just as He intended at the beginning of the creation.


But one thing is lacking.

What? One thing is still lacking in this completed creation??? God never make any mistake, nor miscalculated something. He was aware of it since the beginning of creation, and He's the one who planned it since the beginning of everything.
Remember, God is eager to reveal Himself, to make Himself known and praised for His Being, the fullness of His Glory.
Providing a danger-free environment for man can never do the job for that as it's intended to be. Man will only know that He is the Kind God, Holy God, Righteous God, Powerful God, but will never understand Him fully as a Loving God. With the contrast He created, man can differ what's kind and what's not so kind (fellow man can express kindness, animals cannot express it), what's holy and what isn't (everything within God's boundaries holy), what is right and what is wrong (you can see that when Eve argued with the devil), what is powerful and what is weak, but in this wonderful garden of Eden there's love everywhere and there was nothing radiates less love, because less love is not love at all.
This is the one thing that's lacking.
God knew, and He already have a predestined plan for it.

Now do you see where this stories leads you to?

God wants to be worshipped in the fullness of His Glory. And that have to include all of His Divine Virtues. Not only that He's Kind, Righteous, Powerful, Holy, Just, but also He is the God that can Love to the maximum extent without contradicting His other virtues. This kind of love is the one that can only be shown by forgiveness. The ultimate love, the Agape love.
God also want to settle things with evil, once and for all. He cannot allow evil lurking forever by the contrast He has created. He have to make whole what He has intentionally set apart. So He have to momentarily allow evil gain its power, so He can complete his creation finally in ultimate perfection, by overcoming evil with Love.

As painful as it could be, God must be willing to let His beloved creation, us, to taste evil and rejection. It's hard on us, but it's waaayyyy harder for a pure and sinless God to see His beloved creation dipped deeply in unholiness. His loving heart torn apart upon sufferings, and the sight of unholiness despised Him, provoked Him. By allowing evil to work freely among men and entrusted men's conscience to guide their free will, God has shown His great confidence in us, despite of being mere creations, but considered worthy to bear the divine image of God in the way of being wise. But conscience alone is not enough, men's deeds alone cannot atone sin, because the pneuma, the free will He has given, was already corrupted and stained by sin.

Nevertheless, over the centuries He had shown Love by His Patience and Providence, while He wait for the right time to send His Son to display this Ultimate Love of Agape to be openly seen by the whole world over the ages. He cannot miraculously wiped out sin and forgave men, because it will violate His virtue of being Just and Holy. So He has planned the total redemption over sin and deliverance over evil, only by Himself and done only by His Power.

Coming to this world in flesh and blood yet sinless, Christ God has became the perfect sacrifice to receive the full wrath of God's condemnation upon evil. Being risen and ascended to heaven completed it all. Christ's atonement for sin gave way for redemption, the wage has been fully paid for men willing to be purified. God can finally purified His chosen people who have been made new, a new creation in Christ. [2 Corinthians 5:17 (UKJV)  Therefore if any man be in Christ, he is a new creature: old things are passed away; behold, all things are become new.]

These newly made men, have the full understanding of God's Divine Virtues, including His Ultimate Love, in which all creations has made perfect.
God is pleased in the worship of His new creature, because the free will has been purified. No longer it became the tool for evil to gain it's power, nor under captivation of sinful intentions, but made free to express gratitude and pure Love. Because once men exposed to the full understanding of Agape, their free will would never want to flee from God anymore, because the Agape Love is just too hard to resist, it is perfect in every way.

Now, should we really questioned or whining over evil and sufferings in this world? Now that we know that God allows it to happen to attain greater virtue within you and me? That is the capability to love to the maximum extent, as He has displayed on the cross thousands of years ago.

Praise God!!!!

-- IR 12042019

---++++-----++++---





Notes:

I watched this wonderful sermon by Rev. John MacArthur and found this personal revelation about evil and sufferings. Watch the full sermon and be blessed too
https://youtu.be/6LFzk1afiD8

Wednesday, April 10, 2019

Spiritualitas Kristen

Matius 25:40-43 (TB)  Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.

Sangatlah mudah sebenarnya untuk mengukur tingkat spiritualitas kita. Sebagian besar orang yang mengaku relijius atau orang dermawan akan mengatakan "Saya sudah membantu orang miskin, orang yang membutuhkan, bahkan di saat saya pun sedang berkekurangan." Ada yang melakukannya karena kewajiban agama, ada pula yang demi mengekspresikan syukur kepada Allah. Oke, anda baik dan saleh. Tentu Tuhan takkan menutup mata terhadap perbuatan baik anda. Tuhan yang Maha Adil tentu akan memberikan ganjaran yang setimpal dengan perbuatan kita.
Tapi tunggu dulu, apakah berdiakonia atau bersedekah atau membantu teman/kenalan yang membutuhkan telah membuktikan kedalaman spiritualitas? Dalam Firman Tuhan, tingkat spiritualitas tertinggi adalah "kasih Agape". Mayoritas perbuatan baik belum mencerminkan AGAPE, namun hanya di tingkat FILIA. Kita kebanyakan melakukan kebaikan atas dasar KASIHAN dan bukan KASIH. Semua jenis kasih di bawah kasih Agape mengandung makna subyektif, perbuatan baik yang kita lakukan pasti mengandung manfaat bagi diri kita sendiri. Entah itu suatu rasa puas karena telah mampu membantu orang lain yang membutuhkan bantuan, atau bahkan rasa bangga saat menerima ucapan terima kasih. Maaf, jika demikian halnya, maka perbuatan baik anda belum di tingkat spiritualitas yang Tuhan Yesus harapkan.
Kematian Kristus membuktikan suatu kasih dalam suatu perbuatan baik yang diekspresikan kepada manusia yang TIDAK SADAR BAHWA MEREKA (KITA) BUTUH BANTUAN, dan lebih daripada itu, setelah mereka dikasihi MEREKA (KITA) TIDAK BERTERIMAKASIH. Sederhananya, demikianlah suatu kasih yang sejati, tingkat spiritualitas tertinggi.
Sebagai psikiater, saya memandang cukup mudah untuk menguji di mana tingkat spiritualitas kita. Orang-orang di sekeliling kita saat ini yang memenuhi dua syarat tadi adalah "para penderita psikotik". Mereka kehilangan kemampuan untuk memahami konsep bantuan dan mereka jarang mampu mengekspresikan terimakasih.
Saat anda melihat "orang gila" (ODGJ berat) berkeliaran setengah telanjang di jalanan, tak terurus, kehilangan arah dan pemahaman diri, apa yang tercetus dalam pikiran dan emosi anda? Apa anda peduli, atau berpaling, atau tertawa, atau jijik, atau ketakutan? 
Bagaimana anda cukup peduli terhadap masalah gangguan mental, sedikit banyak akan dapat mengusik barometer spiritualitas anda. 
Mengekspresikan kasih kepada orang-orang yang tidak mampu mengasihi anda adalah tanda spiritualitas yang sehat dan bertumbuh.

-- IR, 2019

Wednesday, March 27, 2019

Jaminan Keselamatan Bukan Cheap Grace

Markus 16:15-16 (TB)  Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.


Yohanes 1:12-13 (TB)  

Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;
orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

Yohanes 3:3 (TB)  

Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah."

1 Yohanes 3:9 (TB)  

Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.

1 Petrus 1:3-5 (TB)  

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,
untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.
Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.

Roma 5:1-2 (TB)  

Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.
Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.

Ibrani 9:27-28 (TB)  

Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,
demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.  

1 Petrus 2:1-3 (TB)  

Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.
Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan,
jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.  

Roma 6:3-6 (TB)  

Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?
Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. 
Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.
Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.

2 Petrus 1:9-11 (TB)  

Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan.
Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.
Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.

Efesus 1:14 (TB)  

Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

2 Korintus 7:1 (TB)  

Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah. 

Kolose 3:12, 16-17 (TB)  

Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.
Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. 
Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

Filipi 2:12 (TB)  

Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, 

1 Petrus 1:5 (TB)  

Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.

Wahyu 12:10 (TB)  

Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. 

Sunday, February 10, 2019

Kaya dan Miskin

Lukas 16:19-23 (TB)  "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.  Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.
Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.  Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.

Seorang sahabat saya pernah bertanya, mengapa Tuhan mengizinkan penderitaan, jika Tuhan Maha Kuasa mengapa dia seperti kurang berkuasa mengatur dunia yang penuh dengan penderitaan di mana2.
Jika kita membaca perumpamaan ini dan merenungkan penderitaan Lazarus, ya, mengapa Tuhan mengizinkan Lazarus mengalami kemiskinan, sakit parah, dan kelaparan? Lebih daripada itu, Tuhan entah kenapa dalam perumpamaan ini menaruh Lazarus telantar di depan rumah orang kaya yang jahat! Orang kaya yang kaya raya, suka pamer, dan sama sekali tidak punya kebaikan hati untuk berbagi meskipun melihat penderitaan sesamanya tepat di depan matanya. Mengapa Tuhan tidak membimbing Lazarus duduk di depan rumah orang kaya yang baik hati? Atau mengapa Tuhan tidak segera saja mengakhiri penderitaan Lazarus dengan segera mengambil nyawanya? Apa Tuhan tidak mampu mengubah hati si orang kaya? Apa Tuhan tidak mampu menyembuhkan Lazarus atau segera mengakhiri penderitannya dengan kematian? Apa Tuhan tidak mampu melakukannya?

Yesaya 55:9 (TB)  Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

Keterbatasan otak manusia sebagai ciptaan takkan pernah mampu mencapai pemikiran Sang Pencipta.
Banyak hal yang Tuhan ingin ajarkan kepada kita melalui perumpamaan ini. Namun dalam hal memahami penderitaan Lazarus, ada satu hal yang bisa kita maknai. Lazarus mendapat kehormatan untuk membuka pintu kasih karunia bagi si orang kaya. Tuhan mau menunjukkan kasihNya kepada si orang kaya dengan memberinya kesempatan untuk bertobat dan mendapat keselamatan melalui perbuatan yang sesuai dengan Taurat. Kitab-kitab para nabi yang dipegang oleh orang Yahudi telah memiliki petunjuk keselamatan, janji akan berkat dan kutuk, di antaranya adalah kewajiban terhadap orang miskin.
Imamat 25:35 (TB)  "Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang, supaya ia dapat hidup di antaramu.
Namun sayang, si orang kaya tidak merespon kesempatan yang diberikan Tuhan.
Hingga terlambat.

Di sini tampak perbedaan kualitas antara Lazarus dan si orang kaya. Lazarus dalam kemiskinan dan penderitaannya tidak kehilangan pengharapan dan tekad, ia ingin menghilangkan lapar dan tetap berharap bisa mendapat remah2 dari meja orang kaya tersebut sebagai wujud akan janji pemeliharaan Tuhan. Lazarus mungkin terlalu lemah untuk pindah ke tempat lain, sehingga dalam hati kecilnya Lazarus tampaknya mengerti pula hati Tuhan untuk mengizinkan dirinya menderita dan mendapat bantuan dari orang kaya tersebut agar orang kaya itu menunjukkan buah ketaatan. 

Seperti halnya yang diistilahkan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus bersedia menerima bantuan dari jemaat agar kebaikan jemaat tersebut dapat diperhitungkan sebagai suatu buah yang memperbesar keuntungan mereka (Filipi 4:17. Orang2 yang miskin dan menderita terkadang Tuhan tempatkan di sekeliling kita untuk kebaikan kita sendiri, memberi kita kesempatan untuk menunjukkan buah2 pertobatan dengan melakukan perbuatan baik. Pada waktu Tuhan Ia pun akan menjadikan semua indah pada waktunya bagi mereka yang menderita, meskipun itu tidak dinikmati di dalam dunia melainkan dalam kekekalan, yaitu bagi mereka yang senantiasa berharap dan percaya akan providensia Allah.


- IR, 10022019

Wednesday, January 9, 2019

Harta

Matius 6:21 (TB)  "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."

Harta bukanlah selalu berupa uang atau benda. Harta adalah sesuatu yang berharga. Sesuatu yang kita rawat dan lindungi. Sesuatu yang tanpanya kita akan merasa tiada, rentan, kehilangan makna.
Teori2 psikologi mengenai "attachment" dan "cathexis" pada dasarnya merujuk pada kelekatan dan penggunaan energi mental yang besar terhadap hal yang disebut "harta" ini. Respon mental seseorang terhadap kegagalan proses ini berupa cikal bakal terjadinya neurosis.
Firman Tuhan mengingatkan kita untuk melekatkan diri pada "harta" yang sejati, agar kita terhindar dari emosi negatif. Fokus cinta kepada kefanaan tak ayal akan menyimpan ancaman internal akan potensi suatu kehilangan. Fokus cinta pada yang kekal akan senantiasa mengalirkan damai sejahtera yang datang dari iman dan pengharapan akan sesuatu yang takkan binasa.
Rumah, jabatan, pekerjaan, suami, orangtua, anak, kecantikan, kesehatan, semua adalah kesementaraan, sementara pengenalan akan Allah dan ketaatan pada FirmanNya memiliki buah kekekalan.
Sebagai manusia aktualisasi diri merupakan hal yang sangat penting. Jika dilakukan dengan benar akan membentuk kepribadian yang matang, namun jika tidak, maka akan berbalik menyerang diri sendiri. Kebutuhan aktualisasi diri ini terkadang menjadi "harta" yang salah ketika telah dilakukan secara berlebihan dan tidak pada tempatnya. Firman Tuhan juga menegur ini sebagai suatu wujud dosa kesombongan yang tidak disukai Tuhan.
Amsal 8:13 (TB)  "Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat." 
Saat kita mengejar aktualisasi diri, kita bukan saja merugikan diri sendiri karena melekatkan diri pada kebanggaan yang fana, namun juga berdosa terhadap Tuhan, bahkan berlaku tidak taat pada ketetapan Kristus akan syarat menjadi muridNya, yaitu "menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti jejakNya" (bdk Matius 6:24)!
Aktualisasi diri selalu bersumber dari gambar diri dan konsep diri. Gambar diri dan konsep diri yang benar pasti akan menuntun pada aktualisasi diri yang benar. Sebagai ciptaan yang baru, gambar diri dan konsep diri kita telah diperbaharui seutuhnya, maka sikap aktualisasi diri yang akan muncul pastilah berupa buah Roh (bdk Galatia 5:22-23 kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri) dan bukanlah kebencian, kedengkian, kekuatiran, ketamakan, dan lain sebagainya yang adalah buah kedagingan.
Apabila perilaku kita mulai menampakkan  kedagingan, penting untuk menguji hati apakah kita sedang memelihara "harta" yang salah? Terlebih lagi apabila kita mulai merasa tertekan, kuatir dan sedih, periksa kembali hati kita ke "harta" yang mana kita sedang melekatkan hati kita? Dan segeralah kembalikan segala kemuliaan bagi Allah Bapa di Sorga.

Matius 6:19-20, 25, 27, 31-34 (TB)  
"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.
"Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."
--------

I learned the hard way. The world is really not an easy place to learn and practice humility. So help me Lord.๐Ÿ™

Thursday, November 1, 2018

Menghormati Orangtua

Efesus 6:2-3 (TB)  Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. 

Ayat ini menegaskan bahwa menghormati ayah dan ibu adalah suatu "perintah yang penting". Di dalam perintah yg lain tidak ada janji, hanya di dalam perintah ke-5: Keluaran 20:12 (TB)  "Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu" ditemukan sebuah janji suatu upah dari ketaatan pada perintah tersebut.

Terkadang kita yang beranjak dewasa atau telah dewasa mulai  menyadari bahwa banyak sekali kekurangan orangtua kita, bahkan tindak tanduknya yang tidak sesuai dengan tuntunan Firman  Allah. Hal ini tidak semestinya menjadi alasan untuk tidak menghormati orangtua kita. Karena kita menghormati orangtua atas status mereka sebagai orangtua kita, orang-orang yang secara khusus dipilih oleh Allah untuk menghadirkan kita ke dunia. Kita bukan diwajibkan menghormati orangtua karena kualitas mereka sebagai orangtua, karena itu adalah bagian Allah untuk menilainya. 

"Respect our parents for their status as parents not by their parenting qualities."

Tuhan yg menetapkan kita menjadi anak dari orangtua kita, maka sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita utk melawan ketetapan Tuhan.

How to respect your parents?

1. Listen

Amsal 1:8 (TB)  Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu 

Amsal 4:1 (TB)  Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, 

2. Appreciate

Amsal 23:22 (TB)  Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua. 

Tidak ada orangtua yang sempurna, tapi kasih sayang orangtua selalu sempurna.

3. Hidup dalam kebenaran

3 Yohanes 1:3-4 (TB)  Sebab aku sangat bersukacita, ketika beberapa saudara datang dan memberi kesaksian tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran. Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran. 

Sunday, May 13, 2018

Ibadah

(Personal Resume dari Khotbah Pdt.Yakobus Tjanu,S.Si.,M.Si.; GMIH Eben Haezar Ternate, Kebaktian Pagi May 13th 2018)


Abodah (Ibr) = berasal dari kata dasar ืขָื‘ַื“ - 'ABAD, 'mengabdi' --> ketundukan seorang budak
Latreia (Yun) = ฮปฮฑฯ„ฯฮตฮนฮฑ - latreia berarti 'pengabdian', cinta yang mendalam


Ibadah itu tuntunan
Film bioskop itu tontonan
Jangan dibalik ๐Ÿ˜


⭐4 manfaat ibadah⭐

1. Memberi pergaulan yang baik
1 Korintus 15:33 "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik."

2. Memelihara iman, memberi makanan rohani
Titus 1:1 "Dari Paulus, hamba Allah dan rasul Yesus Kristus untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah dan pengetahuan akan kebenaran seperti yang nampak dalam ibadah kita"

3. Memberi sukacita sejati dari rasa syukur
1 Timotius 6:6-8  "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.
Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.
Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah."

4. Memberi kedewasaan rohani
Yakobus 1:26 "Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya."


Ibadah yang dibenci Tuhan:

  1. Ibadah tanpa pengertian
  2. Ibadah tanpa pertobatan
  3. Ibadah sebagai topeng
  4. Ibadah dengan motivasi daging


Kisah Para Rasul 1:14 (TB)  "Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus."

Saat menantikan janji Tuhan untuk mencurahkan Roh Kudus, murid2 senantiasa berkumpul, bertekun sehati dalam doa. Saat menantikan kita dipanggil pulang ke surga, tetaplah setia beribadah.

================================

Sepulang gereja setelah mendengarkan khotbah ini, saya menuju late brunch tinutuan (bubur Manado) di sebuah warung makan di dekat Stadion Kie Raha. Sambil menunggu pesanan dibuat, saya mengeluarkan tab untuk mengetik resume khotbah untuk dibagikan. Televisi sedang menyala, dan ternyata media massa dipenuhi berita tentang pengeboman gereja-gereja di Surabaya. Berita resmi dari kepolisian saat itu pukul 11.00 WIT mengumumkan kepastian 3 gereja yang dibom dan 3 korban meninggal serta belasan luka-luka.
Hati saya bergejolak, sulit mendeskripsikannya dengan kata2... Sedih luar biasa namun juga terkagum dengan akurasi Firman Tuhan tentang persekusi terhadap umatNya di akhir zaman. Saya hanya bisa diam... Mencoba untuk menyelesaikan makanan di depan saya, berdoa agar umat Tuhan di Surabaya diberikan kekuatan untuk teguh dalam iman. Kemudian sy tersadar, di warung itu saya tidak sendiri. Ada seorang bapak di meja belakang saya yang memperhatikan berita dengan saksama. Namun ada pula satu keluarga di meja dekat pintu masuk, seorang bapak, istrinya, dan 2 anak laki-laki.
Naluri saya sebagai psikiater yang gemar mengamati dan membaca bahasa non verbal membuat saya diam-diam mengamati ekspresi mereka.
Bapak di belakang saya menunjukkan ekspresi keras, bahasa tubuhnya mengisyaratkan adanya pertentangan batin dalam dirinya mengenai makna dari peristiwa pengeboman tersebut. Wajar. Sangat wajar. Saya tidak akan membahasnya, karena jelas apa yang mungkin bergelora dalam pikirannya adalah sistem keyakinan baik itu mungkin terkait agama ataukah politik dalam konteks kemanusiaan.
Yang menarik perhatian saya justru adalah respon keluarga 4 orang tersebut. Semuanya tak peduli! Mereka makan dengan lahap, dalam diam, seolah-olah suara televisi tak mencapai meja mereka. Berulang kali saya melirik, dengan harapan ada sepercik respon mereka terhadap berita tersebut, namun tak ada. Saya terkejut. Heran. Sedih.
Apakah kematian dengan kekerasan telah begitu lazim di negara kita sehingga tak lagi mencetuskan reaksi normatif seorang manusia sosial ketika mengetahui ada peristiwa mengerikan yang terjadi di sekitar kita? Ataukah... --pikiran yang mengerikan merasuki otak saya--- ... benar-benar mereka yang di luar lingkaran sosial mereka nyawanya tak lebih berharga dari ayam yang disembelih untuk dimakan?
Segera saya berdoa mohon Tuhan mengampuni saya. Saya berdosa telah berpikiran buruk mengenai orang lain, dan terlebih dari itu saya memberi celah kepada iblis untuk menitipkan benih kepahitan dalam hati saya.

Saya kembali melihat ke tab yang masih menyala di tangan saya. Di sana jelas tertulis resume saya dari khotbah yang saya dengar tadi pagi. Dan bagian penutup yang saya tuliskan seperti membesar di hadapan saya, seolah-olah Yesus berbicara kepada saya melalui Roh-Nya... dan saya menitikkan air mata haru dalam diam...

"Kisah Para Rasul 1:14 (TB)  Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.
Saat menantikan janji Tuhan untuk mencurahkan Roh Kudus, murid2 senantiasa berkumpul, bertekun sehati dalam doa. Saat menantikan kita dipanggil pulang ke surga, tetaplah setia beribadah."

Saudaraku...
Marilah tetap setia beribadah... Nantikanlah Tuhan, nantikanlah Yerusalem Baru, nantikanlah Kerajaan Sorga tanpa ratap tangis dan air mata... dalam persekutuan dan ketaatan.

Tuhan Yesus memberkati.

----
In fervent prayer to us all warriors of the Gospel, keep strong!
Ternate, 13 Mei 2018

Tuesday, March 6, 2018

Word of God

Deuteronomy 4:7,11-12

"What other nation is so great as to have their gods near them the way the Lord our God is near us whenever we pray to him?
You came near and stood at the foot of the mountain while it blazed with fire to the very heavens, with black clouds and deep darkness. Then the Lord spoke to you out of the fire. You heard the sound of words but saw no form; there was only a voice."

Ponder...
Why is our Lord God is so near whenever we pray to Him? Because He reveals no form, but only the sound of WORDS.
We cannot have carved or moulded gods everywhere, but the sound of words are part of our lives. We have it since we were born and to the graves, we have it with our friends and within ourselves. We cannot see or touch words, but we know and live with it. Human made idols, but words are from God, we simply use it.

That's why the Lord God never wanted us to worship any man-made image of Him, because it will limit His omnipresence and divine manifestation. Jesus Christ is the WORD became flesh, and that's the only physical manifestation of God that necessarily to be done for the sake of our atonement.

John 1:14 "And the Word became flesh and lived among us, and we have seen his glory, the glory as of a father's only son, full of grace and truth."

But after the fulfilment of the prophecy, and men had seen the glory of the Father through His Son, He dwells among us forevermore in WORDS that's the manifestation of the Holy Spirit.

John 6:63 "It is the spirit that gives life; the flesh is useless. The words that I have spoken to you are spirit and life."
1 Corinthians 2:13 "And we speak of these things in words not taught by human wisdom but taught by the Spirit, interpreting spiritual things to those who are spiritual."

Praise God for His wonders! His Words are true and may we forever worship Him in His Truth.
- IR

Wednesday, February 21, 2018

Shadow


Sometimes you only see a glimpse of a person and you thought you knew them whole. Sometimes the parts one would want you to see are the parts allowed to be exposed to light. Unknowingly to you there are large portion of a person that stayed under the shades of denial or ignorance or simply chronic repression. Embracing the facts that we shall never comprehend a man wholly would be a beginning of better understanding and acceptance. 

God is the one who can see us through, for He owns us whole, the umbra and penumbra, and there's no shadow of turning with Him. For the ones who accepted the Truth, He shall expose us to light for the world to see. So it must begin from oneself to love the worst part that we despise about ourselves but God would eagerly mend. Accept our weaknesses and seek strength in His Truth.

Sunday, September 17, 2017

In His Ideal Image

Manusia senang menciptakan ideal image mengenai dirinya dan cenderung hidup dalam ilusi tersebut. Namun dalam kacamata sempurna tentang dirinya yang ia bangun, seseorang cenderung mempersepsikan orang lain dan dunia di sekitarnya melalui standar ilusif itu. Akibatnya kita secara nirsadar mengkotak-kotakkan orang lain menurut standar tersebut. Ego boundaries memang mampu melindungi kita dari cidera ego, tetapi ketika batasan itu kehilangan sifatnya yang semi permeabel, rigiditas ego akan merusak tatanan dalam relasi objek dan pada akhirnya merusak diri kita sendiri.

Seyogyanyalah ego boundaries kita bersifat semi permeabel, untuk mengizinkan beberapa materi id lolos demi mempertahankan integritas diri yang alamiah, tentu saja di bawah pengawasan superego yang matur.

Keinginan akan suatu kesempurnaan hendaknya diletakkan pada kerinduan pada Sang Sempurna, karena dengan mendapat perkenananNyalah kita beroleh Mata Air Hikmat yang mampu menyempurnakan kita dalam ketidaksempurnaan kita. Ego ideal yang diletakkan dalam kesadaran tersebut akan mampu menghalau frustasi maupun konflik apapun yang menyerang ego. Izinkanlah diri kita untuk merasa inferior, terutamanya di bawah Tangan Tuhan Yang Kuat.

Think broadly, do humbly, feel grateful for His infinite providence.
Happy Sunday

#learntobehumble

Sunday, August 13, 2017

How to Live in Plurality

1 Korintus 9:19-23 (TB) 
Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.
Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.
Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.
Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.
Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.

Menjadi seperti ---> Berarti tidak menghakimi mereka, tidak risih untuk duduk/bergaul dengan mereka, berusaha memahami mereka menurut pandangan Kristus

Siapa mereka?
1 Korintus 9:20-22 (TB) 
1. menjadi seperti orang Yahudi
--> satu bangsa/warganegara; Paulus adalah seorang Yahudi, tapi ia tidak menganggap lagi silsilah kebangsaan dan hak kewarganegaraannya di dunia tersebut sebagai hal yang berarti, Paulus telah menjadi warga Kerajaan Sorga
2. menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat
--> satu pandangan; Paulus menghafal dan menjalankan hukum Taurat lebih dari siapapun, tapi ia tidak lagi mengelompokkan dirinya sebagai orang yang hidup di bawah hukum Taurat
3. menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat
--> sesama manusia yang memiliki pandangan lain; Paulus memandang semua manusia adalah sama naturnya dengan dirinya, sama2 berdosa dan kehilangan kemuliaan sebagai ciptaan Allah yang paling mulia, tapi ia yakin bahwa ia tidak lagi termasuk dalam golongan orang yang dimurkai Tuhan oleh karena kuasa darah Kristus
4. menjadi seperti orang yang lemah
--> sesama pengikut Kristus; Paulus mengidentifikasi kelemahan dalam diri semua pengikut Kristus, karena roh memang penurut tapi daging lemah, namun Paulus tidak lagi menjadi orang yang lemah karena ia memahami bahwa di dalam kelemahanlah Kuasa Kristus menjadi nyata dan ia menjadi kuat di dalamnya.

Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka --> Paulus mengidentifikasikan dirinya dengan berbagai jenis kelompok manusia, ia bisa menerima keragaman itu dan bersedia hidup di tengah2 mereka.

Bagaimana caranya?
1 Korintus 9:20-21 (TB) 
"aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, ... karena aku hidup di bawah hukum Kristus"

Paulus berbeda meski ia mau "menjadi seperti". Ia tidak berdosa meski berada di tengah2 kaum berdosa.

Mengapa?

Karena ia hidup di bawah hukum Kristus.

Dan hukum Kristus adalah:
Matius 22:37-40 (TB)  Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Apa tujuan hidup Paulus di tengah2 pluralitas dunia?

1 Korintus 9:22-23 (TB)
supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.  ... Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.

Fokus hidup Paulus jelas, segala sesuatu dilakukan demi kemuliaan nama Tuhan. Pekabaran injil tidak bertujuan untuk menyeragamkan orang (conformity) tapi memperbaharui orang (reformity) dalam segala keragamannya (plurality).

#personalSundayReflection
#toGodbetheGlory

Tuesday, October 25, 2016

Merespon Jawaban Doa

Kita sering berdoa kepada Tuhan meminta Dia membuka jalan bagi sesuatu yang kita inginkan. Tapi ketika Tuhan akhirnya menjawab doa kita, seringkali kita tidak siap untuk menanggapinya dengan tindakan, apakah karena kurangnya keterampilan atau bahkan yang lebih buruk, karena kemalasan kita memupuk khayalan semu bahwa Allah selalu menjawab doa-doa secara instan dengan suatu keajaiban mujizat sehingga gagal untuk mengenali bahwa jawaban doa kita telah dibentangkanNya tepat di depan mata kita untuk kita meraihnya.

Sering kita berdoa untuk kesuksesan, namun mengabaikan ketika peluang itu datang atau kita tidak mampu melakukan tantangan dari peluang untuk sukses semata-mata karena kita malas memotivasi dan mengasah ketrampilan diri.

Kita berdoa untuk pemulihan kesehatan, namun menyerah pada tantangan mengubah pola hidup dan mengabaikan bantuan profesional medis yang Tuhan kirimkan untuk membantu kita.

Kita berdoa untuk dipakai Tuhan membawa jiwa-jiwa, namun tidak sanggup mempertanggungjawabkan iman di depan orang yang menuntut jawab dan haus akan kebenaran, bahkan melemparkan tanggungjawab pekabaran injil pada Tuhan yang tidak membuat perkara ajaib untuk mempermudah kesaksian kita.

Kita berdoa bagi keselamatan bangsa dan negara kita namun bersikap tertutup bahkan bermusuhan dengan mereka yang menuntut kesaksian iman kita dalam hidup bernegara terutama saat kita diberi Tuhan kesempatan untuk menunjukkannya di tengah-tengah kekacauan politik dan ketidakstabilan sosial, kita menolak menjadi injil yang terbuka dan dengan bebal menunggu Allah turun tangan langsung menjaga kedamaian bangsa kita.

Syafaat dan doa-doa kita sedang dijawab olehNya, adakah kita menyadarinya? Mampukah kita meresponinya?

IR, 26102016