Markus 14:56 (TB) Banyak juga orang yang mengucapkan kesaksian palsu terhadap Dia, tetapi kesaksian-kesaksian itu tidak sesuai yang satu dengan yang lain.
Sunday, December 14, 2025
Menjadi Saksi
Sunday, March 2, 2025
Biblical Psychoanalysis 1: Humanity vs Godliness
Manusia melakukan pemberontakan yang masif dalam kisah menara Babel, hanya beberapa saat setelah kejahatan di bumi dilenyapkan dengan air bah. Secara psikoanalisis bisa dikatakan bahkan pemberontakan itu terjadi secara eksistensial dalam ketiga aspek:Posisi: #Superego ==> Ingin menjadi setara dengan Tuhan baik secara tempat [Genesis 11:4 (NET) ...a city and a tower with its top IN the heavens > shamayim, God's dwelling place], maupun secara peran [Genesis 11:3-4 (NET) Then they said to one another, “Come, let’s make bricks and bake them thoroughly.” (They had brick instead of stone and tar instead of mortar.) Then they said, “Come, let’s build ourselves a city and a tower...].
Manusia sejak dulu sudah memiliki konsep humanitarian. Persatuan dan perdamaian membuat manusia menjadi lebih kreatif dan praktis. Ini bukanlah hal yang buruk, bagaimanapun Tuhan memang menciptakan kita segambar dan serupa dengan Allah Trinitas, dan bahkan disenangkan oleh kerukunan dan kreativitas kita. Peristiwa Menara Babel adalah peringatan bagi kita bahwa sometimes humanity is not godliness. Konsep kemanusiaan kita sudah seharusnya bersumber dari konsep Allah tentang manusia, God-centered dan bukan human-centered.
Remember, human without God's breath is nothing but dirt, so true humanity should be a true humility.
#godlyhumanitarian #biblicalpsychoanalysis
- IR, 2025
Sunday, August 7, 2022
Merdeka dari Tanya
Sepanjang sejarah manusia selalu mencari "makna kehidupan". Para filsuf dan ilmuwan selama berabad-abad berusaha memaknai "manusia" dan "kemanusiaan" dengan berbagai definisi dan pendekatan. Dalam pencarian itu konsep "Tuhan" selalu lekat dengan pemaknaan "manusia".
Apakah manusia diciptakan? Apakah manusia merupakan produk kebetulan dari alam yang berevolusi? Mengapa manusia berbeda dari makhluk bumi lainnya? Mengapa manusia memiliki kesadaran? Apa itu penderitaan? Apa itu kebahagiaan? Bagaimana menjalani waktu di antara kelahiran dan kematian? Apakah Tuhan mengatur kita? Ataukah kita semua adalah Tuhan? Dan... Mengapa kita selalu gelisah dan bertanya?
Kita terbelenggu.
Dengan tanya dan logika.
Menjawab berbagai tanya kita mulai melahirkan berbagai konsep dan teori, memberi label terhadap berbagai hal, bahkan terhadap peran yang kita mainkan dalam hidup sehari-hari. "Orang baik" "pengkhianat" "ibu kandung" "orang cacat" "penderita sakit jiwa" "ketua perkumpulan" dan lain sebagainya. Kita menyebut orang dengan labelnya yang kita buat berdasarkan konsep kita terhadap peran.
Bagi manusia, Tuhan adalah konsep. Yang lahir dari tanya dan logika. Tapi kita sesungguhnya mencoba lupa, bahwa konsep terhebat kita tentang Tuhan tak dapat menjawab seluruh tanya kita tentang semesta. Maka satu-satunya jawaban adalah ya, Tuhan bukan ide, bukan konsep, bukan objek, namun adalah realita itu sendiri. Realita tak dapat dikonsepkan, hanya dialami dan diterima. Konsep tak dapat mengubah realita karena konsep hanya cara pandang kita terhadap realita. Kita tak bisa mengubah realita, hanya bisa mengubah perspektif kita terhadapnya.
Realita-lah yang mengubah kita.
Perspektif melahirkan konsep dan konsep melahirkan respon. Kita merespon realita dan tanpa sadar beradaptasi dengannya. Jika kenyataan hidup kita pandang buruk, maka buruk pulalah konsep kita tentang Tuhan bukan? Bukankah itu berarti kita yang secara sepihak memaknai Tuhan dan lupa bahwa realita yang kita pandang buruk sesungguhnya adalah baik dari perspektif semesta?
Definisi ini menjawab segalanya:
Keluaran 3:13-14 (TB) Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? — apakah yang harus kujawab kepada mereka?"
Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu."
AKU ADALAH AKU - merupakan definisi Tuhan tentang dirinya, sebagai realita yang ada, yang dahulu ada, sekarang ada, dan tetap ada sampai akhir masa.
Bebaskanlah diri dari belenggu cemas dan depresi karena berbagai tanya, dan terimalah realita. Terimalah Tuhan sebagaimana adanya, yaitu yang SATU-SATUNYA bisa menjawab pertanyaan semesta: semua karena kehendakNya, dan rancanganNya baik adanya.
Merdeka!
Menyambut kemerdekaan RI - August 2022, eRain@
Saturday, November 30, 2019
Membangun dan Merenovasi
| Ground Zero Hiroshima Atomic Bomb, Japan, October 2019 |
Jangan menilai hasil kerja seseorang berdasar apa yang tampak, karena mungkin saja itu dibangun di atas keringat lelah bergenerasi2 pendahulunya yang membangun fondasi namun tak pernah tampak di permukaan.
Gedung yang indah bisa hancur dalam sekejap mata, tapi mudah dibangun lebih indah lagi jika fondasinya tak turut lenyap. Sebaliknya fondasi yang lemah akan membuat bangunan yang megah sekalipun runtuh dengan sendirinya.
Thursday, July 18, 2019
Parenting and Discipleship
Puaskah anda mengenai siapa diri anda sebagai pribadi? Merasa banyak kekurangan? Wajar. Bukankah ada banyak juga kelebihan?
Dear parents,
Kenalkah anda siapa anak anda sebagai pribadi? Bukan sebagai anak anda atau adik/kakak anak anda yang lain, tapi sebagai dia, ya dia.
Tidak perlu rasanya bertanya apa anda puas dengan apa yang anda kenal tentang siapa anak anda, karena naturnya rasa cinta kita akan menutupi segala kekurangannya.
Dear parents,
Tahukah anda bahwa dalam parenting sangat sering kita lupa bahwa ada 2 pribadi yang terlibat di sini, anda sebagai orangtua yang adalah satu pribadi unik dan anak anda sebagai satu pribadi unik lainnya. Sebagai orangtua kita cenderung menganggap anak kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari diri kita. Sehingga seringkali kelemahan kita yang tampak (atau baru berpotensi dimiliki) pada anak kita, kita kalang kabut berusaha memperbaikinya, dengan menghukum atau menutupinya, tanpa sadar bahwa yang berusaha kita perbaiki sebenarnya adalah kelemahan kita sendiri dan bukan milik anak kita. Kita cenderung paranoid menganggap anak-anak kita akan mewarisi kelemahan kita, dan dengan dalih "ingin anak kita menjadi lebih baik dari kita" malahan kita menutup potensinya untuk berkembang menjadi pribadinya sendiri yang unik. Terlalu sering kita berusaha mencetak "mini-me" versi 2.0 ketimbang menikmati proses indah yang Tuhan sudah siapkan untuk ditapaki oleh kaki-kaki kecil anak kita bersama Tuhan.
Dear parents,
Anda dan anak anda adalah pribadi-pribadi yang masing2 sedang menapaki jalan Tuhan. Di titik awal perjalanan sang anak dia butuh anda sebagai pribadi yang sudah lebih dahulu mengenal diri, karena ia belum kenal siapa dirinya. Pribadi anak butuh patron dan bimbingan untuk memunculkan kesadaran akan "pribadi". Kesadaran itu akan perlahan terbentuk seiring perkembangan psikologisnya. Jika kesadaran itu bertumbuh di tengah dinding batasan yang terlalu rapat, dihiasi dengan mural2 kesuksesan orangtua dan pathway baku yang sudah digariskan ayah bunda, maka pribadi anak akan sulit menggali potensi dirinya. Kesadaran akan pribadi yang baik membutuhkan bimbingan, bukan tuntutan. Dan terutama, kesadaran akan pribadi yang baik membutuhkan patron/contoh dari pribadi yang sudah memiliki kesadaran diri seutuh, yaitu anda sebagai orangtua, bukan sekedar nasehat dan jargon2 tentang kehidupan yang baik saja.
Dear parents,
Sudah kenalkah anda siapa diri anda sebagai pribadi? Sudahkah anda mencintai pribadi unik anda sendiri?
John Calvin pernah berkata, “Wisdom lies in knowing God and knowing oneself.” Mengenal diri kita melalui mata Allah, akan memberi kita hikmat untuk menuntun anak2 kita mengenal dirinya dan menemukan Tuhan yang mengasihi dirinya sebagai pribadi yang unik di mata Tuhan.
Dear parents,
I urge you to no longer making "mini-me ver 2.0" project with your child, instead do discipleship by first being a committed disciple of Christ. ๐๐๐
--- IR, 19072019
Wednesday, April 17, 2019
Damai Sejahtera Allah
Matius 26:51-52, 55-56 (TB)
Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya. Maka kata Yesus kepadanya: "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.
Pada saat itu Yesus berkata kepada orang banyak: "Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi." Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.
Ancaman membuat otak kita bereaksi dengan dua macam pilihan: fight or flight.
Reaksi pengikut Yesus untuk menghunus pedang saat melihat Guru-nya hendak diperlakukan dengan tidak adil adalah respon sistem saraf otonom yang normal. Reaksi semua murid yang mendadak melarikan diri saat melihat Sang Guru tidak berniat mempertahankan diri juga adalah reaksi sistem saraf otonom yang sangat normal.
Menghadapi ancaman, sangat wajar melakukan salah satu di antara kedua hal tersebut. Tapi, mengapa Yesus bisa bereaksi berbeda? Yesus pun merasa gentar, bahkan sebelumnya Ia berdoa dengan peluh yang bercampur darah, menunjukkan sistem saraf otonom bekerja hingga titik maksimal. Tapi Ia tidak lari, tidak pula melawan, namun maju terus menuju salib dengan pikiran jernih dan emosi yang terkendali.
Kondisi ini hanya bisa tercapai oleh keselarasan yang bersumber dari damai sejahtera Allah, suatu damai sejahtera yang melampaui segala akal, dan hanya bisa kita alami apabila kita berfokus hanya kepada Allah saja sebagai Yang Awal dan Yang Akhir, percaya dan mempercayakan diri pada kedaulatan-Nya sebagai Sang Khalik.
Sering dalam kehidupan kita, banyak hal yang membuat kita cemas dan takut sehingga merampas damai sejahtera yang sejatinya adalah hak kita sebagai anak-anak Allah. Kekuatiran tentang penghidupan maupun ketakutan akan bahaya membuat kita tidak dapat berpikir dengan jernih dan mencoba melawan dengan segala cara, atau berpura-pura masalah itu tidak ada dan mengabaikannya, sampai akhirnya sistem saraf kita mengalami disfungsi akibat ketegangan terus menerus yang tidak mencapai resolusinya.
Sesungguhnya kita bisa belajar dari cara Yesus menghadapi rasa takut yang timbul dari ancaman akan sesuatu yg buruk. Sebagai manusia Yesus merasa takut, dan ketakutanNya bukan hanya sesuatu yang terjadi di alam pikiranNya saja, namun bermanifestasi secara fisik. Sebagai Tuhan, Yesus memiliki Roh Hikmat yang luar biasa yang menuntun Dia melewati ketakutanNya, dan Roh yang sama sesungguhnya telah Ia berikan juga bagi kita.
Metode Yesus Menghadapi Rasa Takut
Matius 26:36-40, 42, 44-46 (TB)Aku pergi ke sana untuk berdoa
Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa."
Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar,
lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku."
Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?
Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"
Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga.
Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.
Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat."
Yesus pergi ke tempat sunyi untuk berdoa. Langkah pertamanya menghadapi rasa takut adalah [1] berdoa. Ketika kita terlalu dikuasai oleh rasa takut sehingga emosi kita meninggi dan marah, doa adalah hal yang paling tidak mungkin dilakukan. Ketika rasa takut menimbulkan perasaan tertekan dan sedih, kita sering berdoa namun doa kita sering tanpa iman dan pasrah begitu saja. Yesus memberi contoh bahwa respon pertama terhadap suatu masalah yang menimbulkan rasa takut haruslah "doa di tempat sunyi". Di manakah tempat yang sunyi itu? Tempat yang sunyi, Getsemani kita, adalah momen sejenak ketika kita memutuskan diri dari semua input indera yang dapat memberi tambahan tekanan kepada sistem saraf kita: mata yang melihat persoalan, telinga yang mendengar komentar negatif, kulit yang berkeringat dingin, dan setiap hal yang bisa menambah kecemasan. Hentikan semua itu sejenak dari sistem kita agar otak kita bisa fokus menaikkan doa yang benar. Tempat yang sunyi tidak selalu harus merupakan tempat khusus, dalam berdiri diam dan tenang kita sudah bisa berada di sana.
Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya
Yesus membawa sahabat-sahabatNya menemani. Hal yang kedua setelah doa adalah [2] melibatkan teman. Teman adalah orang yang kita sayangi, dan kita percaya mereka pun menyayangi kita. Tidak ada alasan persis mengapa kita dan teman kita bisa saling menyayangi, namun rasa sayang itu mampu memberi kita kekuatan dan dukungan secara moril. Dalam keadaan yang menakutkan, kehadiran teman sangatlah berharga. Teman yang seperti itu hanya bisa kita miliki jika kita pernah tulus menyayangi orang lain, sehingga rasa sayang dan percaya akan saling mengalir timbal balik memberi kekuatan.
lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih
Langkah Yesus selanjutnya adalah [3] membuka hati. Yesus tidak ragu menyatakan perasaannya yang gundah gulana. Sebagai Guru mereka Ia bisa saja merasa superior dan gengsi, tidak mau dianggap lemah oleh orang lain. Kita seringkali ragu berbagi perasaan dengan teman karena takut dicap lemah, takut menyusahkan orang lain, takut dicerca balik, takut dikhianati. Tapi Yesus mempercayai sahabatNya, dan Yesus tahu bahwa dengan melakukan ventilasi, ketegangan yang Ia rasakan dapat sedikit mereda, hanya dengan membuka hati kepada sahabat yang Ia percaya.
Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku
Ini hal yang sangat menarik. Yesus mengajak sahabat-sahabatNya terlibat dalam peperangan batinNya, ia dengan jelas mengatakan apa yang Ia rasakan, namun Ia juga [4] dengan spesifik mengatakan apa yang Dia harapkan dilakukan oleh teman-temanNya. Yesus meminta agar mereka "tinggal dan berjaga-jaga". Seringkali ketika kita "curhat" ke sahabat-sahabat kita, mereka dibuat bingung oleh kondisi kita, karena jika mereka memberi nasihat kadang kita terlalu galau untuk mendengarkan, namun jika mereka diam kita kecewa karena merasa kurang diperhatikan. Yesus memberi permintaan spesifik kepada sahabat-sahabatNya. Ia meminta mereka berjaga-jaga, yang dalam ayat lain dikaitkanNya dengan "berdoa". Yesus dengan jelas meminta mereka secara fisik hadir (tinggallah di sini) dan secara rohani menopang pelayananNya (berjaga-jagalah dengan Aku), dengan jelas Yesus mengutarakan permintaanNya kepada sahabatNya agar mereka tahu bagaimana harus membantu.
Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa
Yesus tidak cengeng, Ia mengajak sahabat-sahabatNya mendukung Dia, namun Yesus tahu masalah ini adalah masalahNya sendiri, dan hanya [5] Dia sendiri yang harus meminta pertolongan langsung dari Bapa di Sorga. Seringkali kita terjebak dalam dukungan sahabat, dan bantuan mereka justru menjadi bumerang yang mematikan kerohanian kita. Kita menganggap bahwa ketika kita melibatkan teman dan meminta mereka untuk menemani secara fisik dan mendoakan kita, itu sudah cukup. Kita lupa bahwa persoalan kita masing-masing merupakan cara Tuhan yang spesifik untuk mendidik kita, untuk dekat dengan kita secara pribadi. Dukungan teman bukanlah solusi utama, tapi hanya dengan sujud menghadap Tuhan secara pribadi, mengambil jarak dari sahabat dan menghadap langsung muka dengan muka dengan Tuhan, dari situlah terletak kekuatan kita.
Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin,
Yesus tahu kepada siapa Ia berdoa, dan Ia [6] memposisikan diri secara pantas kepada siapa Ia berdoa. Ia menyebut Tuhan sebagai Bapa-Nya. Sebagai seorang anak, kita dimungkinkan untuk mendekati bapa kita dan meminta. Permintaan seorang anak kepada bapanya adalah sesuatu yang wajar, namun pula harus dilakukan dengan sikap hormat, dengan menghargai otoritas seorang bapa yang berhak memutuskan apa yang dianggapnya baik bagi anaknya. Lebih-lebih lagi Bapa kita di Sorga. Saat kita menghadapi masalah, janganlah kita lupa kepada siapa kita berdoa, janganlah menganggap Tuhan seperti tiran yang kejam atau seperti jin botol Aladin yang akan mengabulkan apa saja. Posisikan diri secara benar saat menghadap hadiratNya.
biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki
Yesus [7] meminta dengan jelas apa yang Ia harapkan, namun dengan mengingat posisinya sebagai Anak yang berada di bawah otoritas Bapa. Ketika kita kuatir, sebutkan dengan jelas apa pokok kekuatiran kita. Meminta dengan jelas bukan berarti kita meminta sesuatu secara harafiah seperti mobil, hujan, uang sejumlah sekian, bukan. Meminta dengan jelas adalah dengan mengidentifikasi persoalan kita dengan jelas, karena solusi dari persoalan itu hanyalah milik Tuhan, karena itu Yesus berdoa, agar kehendak Bapa-lah yang jadi.
mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga
Adakalanya sahabat-sahabat kita sibuk pula dengan hidup dan persoalannya sendiri sehingga mereka lupa untuk mendoakan kita. Yesus tidak ragu untuk [8] mengingatkan teman-temanNya untuk terus mendukung Dia. Tidak ada salahnya kita kembali menceritakan perkembangan masalah kita dan kembali meminta agar sahabat-sahabat kita tetap mendukung dalam doa.
Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa
Yesus tidak putus asa dan [9] terus berdoa. Meskipun kita melihat bahwa orang lain tidak terlalu peduli dengan masalah kita, dan kadang kita merasa sendirian, kita tidak boleh berhenti berharap hanya kepada Tuhan dan terus berdoa.
Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!
Doa Yesus yang kedua dan sama pada kali ketiga telah mengandung makna [10] pemahaman dan tekad. Ketika kita berulang kali berdoa dan masalah kita tak juga kunjung selesai atau menghilang, Yesus memberi teladan untuk berdoa dengan mengucapkan dengan jelas pemahaman kita akan apa yang Tuhan izinkan untuk terjadi, dan dengan berani mengucapkan tekad kita untuk menghadapinya bersama dengan Tuhan. Frasa "jadilah kehendakMu!" bukanlah ucapan orang yang pasrah tak berdaya, tapi suatu seruan iman bahwa "dalam kedaulatan Tuhan kuserahkan masa depanku!"
Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa
Kali kedua Yesus kembali, murid-muridNya tertidur, namun [11] Ia tidak lagi membangunkan mereka saat pergi lagi untuk berdoa. Betapa sering kita merasa kecewa karena setelah beberapa kali dimintai dukungan, sahabat-sahabat kita tetap abai dengan kondisi kita atau tak berdaya melakukan yang kita harapkan. Yesus tidak kecewa, karena Ia tahu dengan kehadiran mereka di situ saja mereka sudah memberi topangan moral kepadaNya. Ia memahami natur dari manusia yang mudah berubah setia, namun itu tidak mengurangi sedikitpun rasa persahabatannya kepada mereka. Meski kita merasa kecewa jika sahabat kurang mendukung kita, namun mengucap syukurlah karena dengan merekapun masih menganggap diri sebagai sahabat kita, kita sungguh diberkati.
Tidurlah sekarang dan istirahatlah.
Setelah segala upaya dan doa telah maksimal dilakukan, tips Yesus yang luar biasa bagi kita yang cemas dan berbeban berat: [11] tidur dan beristirahat. Secara fisiologis tidur akan mengembalikan kekuatan kita, tidur akan menormalkan fungsi-fungsi otak, tidur akan memulihkan hormon dan neurotransmitter otak yang bermasalah.
Bangunlah, marilah kita pergi
Langkah terakhir Yesus adalah [12] bangun dan pergi. Setelah berdoa, meminta dukungan sahabat, beristirahat, saatnya untuk menghadapi persoalan dengan berani. Tidak lari dan tidak menyerang, tapi berjalan maju dengan Hikmat Tuhan dalam damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal.
Selamat merayakan hari raya Paskah.
Yesus sudah menang di atas kekuatiran, mari ambil bagian dalam kemenanganNya.
[IR 18042019]
Friday, April 12, 2019
Why Does God Allows So Much Suffering and Evil
Part 1. Evil Emerged
Genesis 1:1-4 (UKJV) In the beginning God created the heaven and the earth. And the earth was without form, and void; and darkness was upon the face of the deep. And the Spirit of God moved upon the face of the waters. And God said, Let there be light: and there was light. And God saw the light, that it was good: and God divided the light from the darkness.
Part 2. God's Revelation
Genesis 1:27-29,31; 2:1 (UKJV) So God created man in his own image, in the image of God created he him; male and female created he them.And God blessed them, and God said unto them, Be fruitful, and multiply, and replenish the earth, and subdue it: and have dominion over the fish of the sea, and over the fowl of the air, and over every living thing that moves upon the earth.And God said, Behold, I have given you every herb bearing seed, which is upon the face of all the earth, and every tree, in the which is the fruit of a tree yielding seed; to you it shall be for food.And God saw every thing that he had made, and, behold, it was very good. And the evening and the morning were the sixth day.Thus the heavens and the earth were finished, and all the host of them.
Wednesday, April 10, 2019
Spiritualitas Kristen
Matius 25:40-43 (TB) Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.
Sangatlah mudah sebenarnya untuk mengukur tingkat spiritualitas kita. Sebagian besar orang yang mengaku relijius atau orang dermawan akan mengatakan "Saya sudah membantu orang miskin, orang yang membutuhkan, bahkan di saat saya pun sedang berkekurangan." Ada yang melakukannya karena kewajiban agama, ada pula yang demi mengekspresikan syukur kepada Allah. Oke, anda baik dan saleh. Tentu Tuhan takkan menutup mata terhadap perbuatan baik anda. Tuhan yang Maha Adil tentu akan memberikan ganjaran yang setimpal dengan perbuatan kita.
Tapi tunggu dulu, apakah berdiakonia atau bersedekah atau membantu teman/kenalan yang membutuhkan telah membuktikan kedalaman spiritualitas? Dalam Firman Tuhan, tingkat spiritualitas tertinggi adalah "kasih Agape". Mayoritas perbuatan baik belum mencerminkan AGAPE, namun hanya di tingkat FILIA. Kita kebanyakan melakukan kebaikan atas dasar KASIHAN dan bukan KASIH. Semua jenis kasih di bawah kasih Agape mengandung makna subyektif, perbuatan baik yang kita lakukan pasti mengandung manfaat bagi diri kita sendiri. Entah itu suatu rasa puas karena telah mampu membantu orang lain yang membutuhkan bantuan, atau bahkan rasa bangga saat menerima ucapan terima kasih. Maaf, jika demikian halnya, maka perbuatan baik anda belum di tingkat spiritualitas yang Tuhan Yesus harapkan.
Kematian Kristus membuktikan suatu kasih dalam suatu perbuatan baik yang diekspresikan kepada manusia yang TIDAK SADAR BAHWA MEREKA (KITA) BUTUH BANTUAN, dan lebih daripada itu, setelah mereka dikasihi MEREKA (KITA) TIDAK BERTERIMAKASIH. Sederhananya, demikianlah suatu kasih yang sejati, tingkat spiritualitas tertinggi.
Sebagai psikiater, saya memandang cukup mudah untuk menguji di mana tingkat spiritualitas kita. Orang-orang di sekeliling kita saat ini yang memenuhi dua syarat tadi adalah "para penderita psikotik". Mereka kehilangan kemampuan untuk memahami konsep bantuan dan mereka jarang mampu mengekspresikan terimakasih.
Saat anda melihat "orang gila" (ODGJ berat) berkeliaran setengah telanjang di jalanan, tak terurus, kehilangan arah dan pemahaman diri, apa yang tercetus dalam pikiran dan emosi anda? Apa anda peduli, atau berpaling, atau tertawa, atau jijik, atau ketakutan?
Bagaimana anda cukup peduli terhadap masalah gangguan mental, sedikit banyak akan dapat mengusik barometer spiritualitas anda.
Mengekspresikan kasih kepada orang-orang yang tidak mampu mengasihi anda adalah tanda spiritualitas yang sehat dan bertumbuh.
-- IR, 2019
Wednesday, March 27, 2019
Jaminan Keselamatan Bukan Cheap Grace
Markus 16:15-16 (TB) Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
Yohanes 1:12-13 (TB)
Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;
orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.
Yohanes 3:3 (TB)
Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah."
1 Yohanes 3:9 (TB)
Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.
1 Petrus 1:3-5 (TB)
Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,
untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.
Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.
Roma 5:1-2 (TB)
Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.
Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.
Ibrani 9:27-28 (TB)
Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,
demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.
1 Petrus 2:1-3 (TB)
Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.
Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan,
jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.
Roma 6:3-6 (TB)
Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?
Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.
Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.
Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.
2 Petrus 1:9-11 (TB)
Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan.
Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.
Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.
Efesus 1:14 (TB)
Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.
2 Korintus 7:1 (TB)
Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.
Kolose 3:12, 16-17 (TB)
Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.
Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.
Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
Filipi 2:12 (TB)
Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,
1 Petrus 1:5 (TB)
Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.
Wahyu 12:10 (TB)
Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita.
Sunday, February 10, 2019
Kaya dan Miskin
Lukas 16:19-23 (TB) "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.
Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.
Seorang sahabat saya pernah bertanya, mengapa Tuhan mengizinkan penderitaan, jika Tuhan Maha Kuasa mengapa dia seperti kurang berkuasa mengatur dunia yang penuh dengan penderitaan di mana2.
Jika kita membaca perumpamaan ini dan merenungkan penderitaan Lazarus, ya, mengapa Tuhan mengizinkan Lazarus mengalami kemiskinan, sakit parah, dan kelaparan? Lebih daripada itu, Tuhan entah kenapa dalam perumpamaan ini menaruh Lazarus telantar di depan rumah orang kaya yang jahat! Orang kaya yang kaya raya, suka pamer, dan sama sekali tidak punya kebaikan hati untuk berbagi meskipun melihat penderitaan sesamanya tepat di depan matanya. Mengapa Tuhan tidak membimbing Lazarus duduk di depan rumah orang kaya yang baik hati? Atau mengapa Tuhan tidak segera saja mengakhiri penderitaan Lazarus dengan segera mengambil nyawanya? Apa Tuhan tidak mampu mengubah hati si orang kaya? Apa Tuhan tidak mampu menyembuhkan Lazarus atau segera mengakhiri penderitannya dengan kematian? Apa Tuhan tidak mampu melakukannya?
Yesaya 55:9 (TB) Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.
Keterbatasan otak manusia sebagai ciptaan takkan pernah mampu mencapai pemikiran Sang Pencipta.
Banyak hal yang Tuhan ingin ajarkan kepada kita melalui perumpamaan ini. Namun dalam hal memahami penderitaan Lazarus, ada satu hal yang bisa kita maknai. Lazarus mendapat kehormatan untuk membuka pintu kasih karunia bagi si orang kaya. Tuhan mau menunjukkan kasihNya kepada si orang kaya dengan memberinya kesempatan untuk bertobat dan mendapat keselamatan melalui perbuatan yang sesuai dengan Taurat. Kitab-kitab para nabi yang dipegang oleh orang Yahudi telah memiliki petunjuk keselamatan, janji akan berkat dan kutuk, di antaranya adalah kewajiban terhadap orang miskin.
Imamat 25:35 (TB) "Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang, supaya ia dapat hidup di antaramu.
Namun sayang, si orang kaya tidak merespon kesempatan yang diberikan Tuhan.
Hingga terlambat.
Di sini tampak perbedaan kualitas antara Lazarus dan si orang kaya. Lazarus dalam kemiskinan dan penderitaannya tidak kehilangan pengharapan dan tekad, ia ingin menghilangkan lapar dan tetap berharap bisa mendapat remah2 dari meja orang kaya tersebut sebagai wujud akan janji pemeliharaan Tuhan. Lazarus mungkin terlalu lemah untuk pindah ke tempat lain, sehingga dalam hati kecilnya Lazarus tampaknya mengerti pula hati Tuhan untuk mengizinkan dirinya menderita dan mendapat bantuan dari orang kaya tersebut agar orang kaya itu menunjukkan buah ketaatan.
Seperti halnya yang diistilahkan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus bersedia menerima bantuan dari jemaat agar kebaikan jemaat tersebut dapat diperhitungkan sebagai suatu buah yang memperbesar keuntungan mereka (Filipi 4:17. Orang2 yang miskin dan menderita terkadang Tuhan tempatkan di sekeliling kita untuk kebaikan kita sendiri, memberi kita kesempatan untuk menunjukkan buah2 pertobatan dengan melakukan perbuatan baik. Pada waktu Tuhan Ia pun akan menjadikan semua indah pada waktunya bagi mereka yang menderita, meskipun itu tidak dinikmati di dalam dunia melainkan dalam kekekalan, yaitu bagi mereka yang senantiasa berharap dan percaya akan providensia Allah.
- IR, 10022019
Wednesday, January 9, 2019
Harta
Matius 6:21 (TB) "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."
Amsal 8:13 (TB) "Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat."
Thursday, November 1, 2018
Menghormati Orangtua
Efesus 6:2-3 (TB) Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.
Ayat ini menegaskan bahwa menghormati ayah dan ibu adalah suatu "perintah yang penting". Di dalam perintah yg lain tidak ada janji, hanya di dalam perintah ke-5: Keluaran 20:12 (TB) "Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu" ditemukan sebuah janji suatu upah dari ketaatan pada perintah tersebut.
Terkadang kita yang beranjak dewasa atau telah dewasa mulai menyadari bahwa banyak sekali kekurangan orangtua kita, bahkan tindak tanduknya yang tidak sesuai dengan tuntunan Firman Allah. Hal ini tidak semestinya menjadi alasan untuk tidak menghormati orangtua kita. Karena kita menghormati orangtua atas status mereka sebagai orangtua kita, orang-orang yang secara khusus dipilih oleh Allah untuk menghadirkan kita ke dunia. Kita bukan diwajibkan menghormati orangtua karena kualitas mereka sebagai orangtua, karena itu adalah bagian Allah untuk menilainya.
"Respect our parents for their status as parents not by their parenting qualities."
Tuhan yg menetapkan kita menjadi anak dari orangtua kita, maka sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita utk melawan ketetapan Tuhan.
How to respect your parents?
1. Listen
Amsal 1:8 (TB) Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu
Amsal 4:1 (TB) Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian,
2. Appreciate
Amsal 23:22 (TB) Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua.
Tidak ada orangtua yang sempurna, tapi kasih sayang orangtua selalu sempurna.
3. Hidup dalam kebenaran
3 Yohanes 1:3-4 (TB) Sebab aku sangat bersukacita, ketika beberapa saudara datang dan memberi kesaksian tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran. Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.
Sunday, May 13, 2018
Ibadah
(Personal Resume dari Khotbah Pdt.Yakobus Tjanu,S.Si.,M.Si.; GMIH Eben Haezar Ternate, Kebaktian Pagi May 13th 2018)
Abodah (Ibr) = berasal dari kata dasar ืขָืַื - 'ABAD, 'mengabdi' --> ketundukan seorang budak
Latreia (Yun) = ฮปฮฑฯฯฮตฮนฮฑ - latreia berarti 'pengabdian', cinta yang mendalam
Ibadah itu tuntunan
Film bioskop itu tontonan
Jangan dibalik ๐
⭐4 manfaat ibadah⭐
1. Memberi pergaulan yang baik
1 Korintus 15:33 "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik."
2. Memelihara iman, memberi makanan rohani
Titus 1:1 "Dari Paulus, hamba Allah dan rasul Yesus Kristus untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah dan pengetahuan akan kebenaran seperti yang nampak dalam ibadah kita"
3. Memberi sukacita sejati dari rasa syukur
1 Timotius 6:6-8 "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.
Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.
Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah."
4. Memberi kedewasaan rohani
Yakobus 1:26 "Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya."
Ibadah yang dibenci Tuhan:
- Ibadah tanpa pengertian
- Ibadah tanpa pertobatan
- Ibadah sebagai topeng
- Ibadah dengan motivasi daging
Kisah Para Rasul 1:14 (TB) "Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus."
Saat menantikan janji Tuhan untuk mencurahkan Roh Kudus, murid2 senantiasa berkumpul, bertekun sehati dalam doa. Saat menantikan kita dipanggil pulang ke surga, tetaplah setia beribadah.
================================
Sepulang gereja setelah mendengarkan khotbah ini, saya menuju late brunch tinutuan (bubur Manado) di sebuah warung makan di dekat Stadion Kie Raha. Sambil menunggu pesanan dibuat, saya mengeluarkan tab untuk mengetik resume khotbah untuk dibagikan. Televisi sedang menyala, dan ternyata media massa dipenuhi berita tentang pengeboman gereja-gereja di Surabaya. Berita resmi dari kepolisian saat itu pukul 11.00 WIT mengumumkan kepastian 3 gereja yang dibom dan 3 korban meninggal serta belasan luka-luka.
Hati saya bergejolak, sulit mendeskripsikannya dengan kata2... Sedih luar biasa namun juga terkagum dengan akurasi Firman Tuhan tentang persekusi terhadap umatNya di akhir zaman. Saya hanya bisa diam... Mencoba untuk menyelesaikan makanan di depan saya, berdoa agar umat Tuhan di Surabaya diberikan kekuatan untuk teguh dalam iman. Kemudian sy tersadar, di warung itu saya tidak sendiri. Ada seorang bapak di meja belakang saya yang memperhatikan berita dengan saksama. Namun ada pula satu keluarga di meja dekat pintu masuk, seorang bapak, istrinya, dan 2 anak laki-laki.
Naluri saya sebagai psikiater yang gemar mengamati dan membaca bahasa non verbal membuat saya diam-diam mengamati ekspresi mereka.
Bapak di belakang saya menunjukkan ekspresi keras, bahasa tubuhnya mengisyaratkan adanya pertentangan batin dalam dirinya mengenai makna dari peristiwa pengeboman tersebut. Wajar. Sangat wajar. Saya tidak akan membahasnya, karena jelas apa yang mungkin bergelora dalam pikirannya adalah sistem keyakinan baik itu mungkin terkait agama ataukah politik dalam konteks kemanusiaan.
Yang menarik perhatian saya justru adalah respon keluarga 4 orang tersebut. Semuanya tak peduli! Mereka makan dengan lahap, dalam diam, seolah-olah suara televisi tak mencapai meja mereka. Berulang kali saya melirik, dengan harapan ada sepercik respon mereka terhadap berita tersebut, namun tak ada. Saya terkejut. Heran. Sedih.
Apakah kematian dengan kekerasan telah begitu lazim di negara kita sehingga tak lagi mencetuskan reaksi normatif seorang manusia sosial ketika mengetahui ada peristiwa mengerikan yang terjadi di sekitar kita? Ataukah... --pikiran yang mengerikan merasuki otak saya--- ... benar-benar mereka yang di luar lingkaran sosial mereka nyawanya tak lebih berharga dari ayam yang disembelih untuk dimakan?
Segera saya berdoa mohon Tuhan mengampuni saya. Saya berdosa telah berpikiran buruk mengenai orang lain, dan terlebih dari itu saya memberi celah kepada iblis untuk menitipkan benih kepahitan dalam hati saya.
Saya kembali melihat ke tab yang masih menyala di tangan saya. Di sana jelas tertulis resume saya dari khotbah yang saya dengar tadi pagi. Dan bagian penutup yang saya tuliskan seperti membesar di hadapan saya, seolah-olah Yesus berbicara kepada saya melalui Roh-Nya... dan saya menitikkan air mata haru dalam diam...
"Kisah Para Rasul 1:14 (TB) Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.
Saat menantikan janji Tuhan untuk mencurahkan Roh Kudus, murid2 senantiasa berkumpul, bertekun sehati dalam doa. Saat menantikan kita dipanggil pulang ke surga, tetaplah setia beribadah."
Saudaraku...
Marilah tetap setia beribadah... Nantikanlah Tuhan, nantikanlah Yerusalem Baru, nantikanlah Kerajaan Sorga tanpa ratap tangis dan air mata... dalam persekutuan dan ketaatan.
Tuhan Yesus memberkati.
----
In fervent prayer to us all warriors of the Gospel, keep strong!
Ternate, 13 Mei 2018
Tuesday, March 6, 2018
Word of God
Deuteronomy 4:7,11-12
"What other nation is so great as to have their gods near them the way the Lord our God is near us whenever we pray to him?
You came near and stood at the foot of the mountain while it blazed with fire to the very heavens, with black clouds and deep darkness. Then the Lord spoke to you out of the fire. You heard the sound of words but saw no form; there was only a voice."
Ponder...
Why is our Lord God is so near whenever we pray to Him? Because He reveals no form, but only the sound of WORDS.
We cannot have carved or moulded gods everywhere, but the sound of words are part of our lives. We have it since we were born and to the graves, we have it with our friends and within ourselves. We cannot see or touch words, but we know and live with it. Human made idols, but words are from God, we simply use it.
That's why the Lord God never wanted us to worship any man-made image of Him, because it will limit His omnipresence and divine manifestation. Jesus Christ is the WORD became flesh, and that's the only physical manifestation of God that necessarily to be done for the sake of our atonement.
John 1:14 "And the Word became flesh and lived among us, and we have seen his glory, the glory as of a father's only son, full of grace and truth."
But after the fulfilment of the prophecy, and men had seen the glory of the Father through His Son, He dwells among us forevermore in WORDS that's the manifestation of the Holy Spirit.
John 6:63 "It is the spirit that gives life; the flesh is useless. The words that I have spoken to you are spirit and life."
1 Corinthians 2:13 "And we speak of these things in words not taught by human wisdom but taught by the Spirit, interpreting spiritual things to those who are spiritual."
Praise God for His wonders! His Words are true and may we forever worship Him in His Truth.
- IR
Wednesday, February 21, 2018
Shadow
Sunday, September 17, 2017
In His Ideal Image
Seyogyanyalah ego boundaries kita bersifat semi permeabel, untuk mengizinkan beberapa materi id lolos demi mempertahankan integritas diri yang alamiah, tentu saja di bawah pengawasan superego yang matur.
Keinginan akan suatu kesempurnaan hendaknya diletakkan pada kerinduan pada Sang Sempurna, karena dengan mendapat perkenananNyalah kita beroleh Mata Air Hikmat yang mampu menyempurnakan kita dalam ketidaksempurnaan kita. Ego ideal yang diletakkan dalam kesadaran tersebut akan mampu menghalau frustasi maupun konflik apapun yang menyerang ego. Izinkanlah diri kita untuk merasa inferior, terutamanya di bawah Tangan Tuhan Yang Kuat.
Think broadly, do humbly, feel grateful for His infinite providence.
Happy Sunday
#learntobehumble
Sunday, August 13, 2017
How to Live in Plurality
1 Korintus 9:19-23 (TB)
Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.
Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.
Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.
Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.
Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.
Menjadi seperti ---> Berarti tidak menghakimi mereka, tidak risih untuk duduk/bergaul dengan mereka, berusaha memahami mereka menurut pandangan Kristus
Siapa mereka?
1 Korintus 9:20-22 (TB)
1. menjadi seperti orang Yahudi
--> satu bangsa/warganegara; Paulus adalah seorang Yahudi, tapi ia tidak menganggap lagi silsilah kebangsaan dan hak kewarganegaraannya di dunia tersebut sebagai hal yang berarti, Paulus telah menjadi warga Kerajaan Sorga
2. menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat
--> satu pandangan; Paulus menghafal dan menjalankan hukum Taurat lebih dari siapapun, tapi ia tidak lagi mengelompokkan dirinya sebagai orang yang hidup di bawah hukum Taurat
3. menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat
--> sesama manusia yang memiliki pandangan lain; Paulus memandang semua manusia adalah sama naturnya dengan dirinya, sama2 berdosa dan kehilangan kemuliaan sebagai ciptaan Allah yang paling mulia, tapi ia yakin bahwa ia tidak lagi termasuk dalam golongan orang yang dimurkai Tuhan oleh karena kuasa darah Kristus
4. menjadi seperti orang yang lemah
--> sesama pengikut Kristus; Paulus mengidentifikasi kelemahan dalam diri semua pengikut Kristus, karena roh memang penurut tapi daging lemah, namun Paulus tidak lagi menjadi orang yang lemah karena ia memahami bahwa di dalam kelemahanlah Kuasa Kristus menjadi nyata dan ia menjadi kuat di dalamnya.
Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka --> Paulus mengidentifikasikan dirinya dengan berbagai jenis kelompok manusia, ia bisa menerima keragaman itu dan bersedia hidup di tengah2 mereka.
Bagaimana caranya?
1 Korintus 9:20-21 (TB)
"aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, ... karena aku hidup di bawah hukum Kristus"
Paulus berbeda meski ia mau "menjadi seperti". Ia tidak berdosa meski berada di tengah2 kaum berdosa.
Mengapa?
Karena ia hidup di bawah hukum Kristus.
Dan hukum Kristus adalah:
Matius 22:37-40 (TB) Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."
Apa tujuan hidup Paulus di tengah2 pluralitas dunia?
1 Korintus 9:22-23 (TB)
supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. ... Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.
Fokus hidup Paulus jelas, segala sesuatu dilakukan demi kemuliaan nama Tuhan. Pekabaran injil tidak bertujuan untuk menyeragamkan orang (conformity) tapi memperbaharui orang (reformity) dalam segala keragamannya (plurality).
#personalSundayReflection
#toGodbetheGlory
Tuesday, October 25, 2016
Merespon Jawaban Doa
Sering kita berdoa untuk kesuksesan, namun mengabaikan ketika peluang itu datang atau kita tidak mampu melakukan tantangan dari peluang untuk sukses semata-mata karena kita malas memotivasi dan mengasah ketrampilan diri.
Kita berdoa untuk pemulihan kesehatan, namun menyerah pada tantangan mengubah pola hidup dan mengabaikan bantuan profesional medis yang Tuhan kirimkan untuk membantu kita.
Kita berdoa untuk dipakai Tuhan membawa jiwa-jiwa, namun tidak sanggup mempertanggungjawabkan iman di depan orang yang menuntut jawab dan haus akan kebenaran, bahkan melemparkan tanggungjawab pekabaran injil pada Tuhan yang tidak membuat perkara ajaib untuk mempermudah kesaksian kita.
Kita berdoa bagi keselamatan bangsa dan negara kita namun bersikap tertutup bahkan bermusuhan dengan mereka yang menuntut kesaksian iman kita dalam hidup bernegara terutama saat kita diberi Tuhan kesempatan untuk menunjukkannya di tengah-tengah kekacauan politik dan ketidakstabilan sosial, kita menolak menjadi injil yang terbuka dan dengan bebal menunggu Allah turun tangan langsung menjaga kedamaian bangsa kita.
Syafaat dan doa-doa kita sedang dijawab olehNya, adakah kita menyadarinya? Mampukah kita meresponinya?
IR, 26102016





