Dear parents,
Kenalkah anda siapa diri anda sebagai pribadi? Bukan sebagai istri/suami si X, atau mama/papanya A B C. Tapi sebagai kamu, ya kamu.Puaskah anda mengenai siapa diri anda sebagai pribadi? Merasa banyak kekurangan? Wajar. Bukankah ada banyak juga kelebihan?
Dear parents,
Kenalkah anda siapa anak anda sebagai pribadi? Bukan sebagai anak anda atau adik/kakak anak anda yang lain, tapi sebagai dia, ya dia.
Tidak perlu rasanya bertanya apa anda puas dengan apa yang anda kenal tentang siapa anak anda, karena naturnya rasa cinta kita akan menutupi segala kekurangannya.
Dear parents,
Tahukah anda bahwa dalam parenting sangat sering kita lupa bahwa ada 2 pribadi yang terlibat di sini, anda sebagai orangtua yang adalah satu pribadi unik dan anak anda sebagai satu pribadi unik lainnya. Sebagai orangtua kita cenderung menganggap anak kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari diri kita. Sehingga seringkali kelemahan kita yang tampak (atau baru berpotensi dimiliki) pada anak kita, kita kalang kabut berusaha memperbaikinya, dengan menghukum atau menutupinya, tanpa sadar bahwa yang berusaha kita perbaiki sebenarnya adalah kelemahan kita sendiri dan bukan milik anak kita. Kita cenderung paranoid menganggap anak-anak kita akan mewarisi kelemahan kita, dan dengan dalih "ingin anak kita menjadi lebih baik dari kita" malahan kita menutup potensinya untuk berkembang menjadi pribadinya sendiri yang unik. Terlalu sering kita berusaha mencetak "mini-me" versi 2.0 ketimbang menikmati proses indah yang Tuhan sudah siapkan untuk ditapaki oleh kaki-kaki kecil anak kita bersama Tuhan.
Dear parents,
Anda dan anak anda adalah pribadi-pribadi yang masing2 sedang menapaki jalan Tuhan. Di titik awal perjalanan sang anak dia butuh anda sebagai pribadi yang sudah lebih dahulu mengenal diri, karena ia belum kenal siapa dirinya. Pribadi anak butuh patron dan bimbingan untuk memunculkan kesadaran akan "pribadi". Kesadaran itu akan perlahan terbentuk seiring perkembangan psikologisnya. Jika kesadaran itu bertumbuh di tengah dinding batasan yang terlalu rapat, dihiasi dengan mural2 kesuksesan orangtua dan pathway baku yang sudah digariskan ayah bunda, maka pribadi anak akan sulit menggali potensi dirinya. Kesadaran akan pribadi yang baik membutuhkan bimbingan, bukan tuntutan. Dan terutama, kesadaran akan pribadi yang baik membutuhkan patron/contoh dari pribadi yang sudah memiliki kesadaran diri seutuh, yaitu anda sebagai orangtua, bukan sekedar nasehat dan jargon2 tentang kehidupan yang baik saja.
Dear parents,
Sudah kenalkah anda siapa diri anda sebagai pribadi? Sudahkah anda mencintai pribadi unik anda sendiri?
John Calvin pernah berkata, “Wisdom lies in knowing God and knowing oneself.” Mengenal diri kita melalui mata Allah, akan memberi kita hikmat untuk menuntun anak2 kita mengenal dirinya dan menemukan Tuhan yang mengasihi dirinya sebagai pribadi yang unik di mata Tuhan.
Dear parents,
I urge you to no longer making "mini-me ver 2.0" project with your child, instead do discipleship by first being a committed disciple of Christ. 🙏🙏🙏
--- IR, 19072019


No comments:
Post a Comment