Sunday, May 13, 2018

Ibadah

(Personal Resume dari Khotbah Pdt.Yakobus Tjanu,S.Si.,M.Si.; GMIH Eben Haezar Ternate, Kebaktian Pagi May 13th 2018)


Abodah (Ibr) = berasal dari kata dasar עָבַד - 'ABAD, 'mengabdi' --> ketundukan seorang budak
Latreia (Yun) = λατρεια - latreia berarti 'pengabdian', cinta yang mendalam


Ibadah itu tuntunan
Film bioskop itu tontonan
Jangan dibalik 😁


⭐4 manfaat ibadah⭐

1. Memberi pergaulan yang baik
1 Korintus 15:33 "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik."

2. Memelihara iman, memberi makanan rohani
Titus 1:1 "Dari Paulus, hamba Allah dan rasul Yesus Kristus untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah dan pengetahuan akan kebenaran seperti yang nampak dalam ibadah kita"

3. Memberi sukacita sejati dari rasa syukur
1 Timotius 6:6-8  "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.
Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.
Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah."

4. Memberi kedewasaan rohani
Yakobus 1:26 "Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya."


Ibadah yang dibenci Tuhan:

  1. Ibadah tanpa pengertian
  2. Ibadah tanpa pertobatan
  3. Ibadah sebagai topeng
  4. Ibadah dengan motivasi daging


Kisah Para Rasul 1:14 (TB)  "Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus."

Saat menantikan janji Tuhan untuk mencurahkan Roh Kudus, murid2 senantiasa berkumpul, bertekun sehati dalam doa. Saat menantikan kita dipanggil pulang ke surga, tetaplah setia beribadah.

================================

Sepulang gereja setelah mendengarkan khotbah ini, saya menuju late brunch tinutuan (bubur Manado) di sebuah warung makan di dekat Stadion Kie Raha. Sambil menunggu pesanan dibuat, saya mengeluarkan tab untuk mengetik resume khotbah untuk dibagikan. Televisi sedang menyala, dan ternyata media massa dipenuhi berita tentang pengeboman gereja-gereja di Surabaya. Berita resmi dari kepolisian saat itu pukul 11.00 WIT mengumumkan kepastian 3 gereja yang dibom dan 3 korban meninggal serta belasan luka-luka.
Hati saya bergejolak, sulit mendeskripsikannya dengan kata2... Sedih luar biasa namun juga terkagum dengan akurasi Firman Tuhan tentang persekusi terhadap umatNya di akhir zaman. Saya hanya bisa diam... Mencoba untuk menyelesaikan makanan di depan saya, berdoa agar umat Tuhan di Surabaya diberikan kekuatan untuk teguh dalam iman. Kemudian sy tersadar, di warung itu saya tidak sendiri. Ada seorang bapak di meja belakang saya yang memperhatikan berita dengan saksama. Namun ada pula satu keluarga di meja dekat pintu masuk, seorang bapak, istrinya, dan 2 anak laki-laki.
Naluri saya sebagai psikiater yang gemar mengamati dan membaca bahasa non verbal membuat saya diam-diam mengamati ekspresi mereka.
Bapak di belakang saya menunjukkan ekspresi keras, bahasa tubuhnya mengisyaratkan adanya pertentangan batin dalam dirinya mengenai makna dari peristiwa pengeboman tersebut. Wajar. Sangat wajar. Saya tidak akan membahasnya, karena jelas apa yang mungkin bergelora dalam pikirannya adalah sistem keyakinan baik itu mungkin terkait agama ataukah politik dalam konteks kemanusiaan.
Yang menarik perhatian saya justru adalah respon keluarga 4 orang tersebut. Semuanya tak peduli! Mereka makan dengan lahap, dalam diam, seolah-olah suara televisi tak mencapai meja mereka. Berulang kali saya melirik, dengan harapan ada sepercik respon mereka terhadap berita tersebut, namun tak ada. Saya terkejut. Heran. Sedih.
Apakah kematian dengan kekerasan telah begitu lazim di negara kita sehingga tak lagi mencetuskan reaksi normatif seorang manusia sosial ketika mengetahui ada peristiwa mengerikan yang terjadi di sekitar kita? Ataukah... --pikiran yang mengerikan merasuki otak saya--- ... benar-benar mereka yang di luar lingkaran sosial mereka nyawanya tak lebih berharga dari ayam yang disembelih untuk dimakan?
Segera saya berdoa mohon Tuhan mengampuni saya. Saya berdosa telah berpikiran buruk mengenai orang lain, dan terlebih dari itu saya memberi celah kepada iblis untuk menitipkan benih kepahitan dalam hati saya.

Saya kembali melihat ke tab yang masih menyala di tangan saya. Di sana jelas tertulis resume saya dari khotbah yang saya dengar tadi pagi. Dan bagian penutup yang saya tuliskan seperti membesar di hadapan saya, seolah-olah Yesus berbicara kepada saya melalui Roh-Nya... dan saya menitikkan air mata haru dalam diam...

"Kisah Para Rasul 1:14 (TB)  Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.
Saat menantikan janji Tuhan untuk mencurahkan Roh Kudus, murid2 senantiasa berkumpul, bertekun sehati dalam doa. Saat menantikan kita dipanggil pulang ke surga, tetaplah setia beribadah."

Saudaraku...
Marilah tetap setia beribadah... Nantikanlah Tuhan, nantikanlah Yerusalem Baru, nantikanlah Kerajaan Sorga tanpa ratap tangis dan air mata... dalam persekutuan dan ketaatan.

Tuhan Yesus memberkati.

----
In fervent prayer to us all warriors of the Gospel, keep strong!
Ternate, 13 Mei 2018

No comments: