Lukas 4:25-27 (TB) Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu."
What?? Sangat mengejutkan! Mengapa bukan perempuan janda Israel yang ditolong Elia pada saat bencana kekeringan? Mengapa tidak ada orang kusta di Israel yang disembuhkan nabi Elisa?
Allah melakukan pendekatan berbeda terhadap orang-orang yang ingin dipanggilNya. Mujizat diperlukan oleh orang-orang yang belum mengenal Tuhan untuk mengakui ke-Tuhanannya. Perlu hal yang di luar kemampuan manusia fana untuk membuka mata orang akan kebenaran dan menerimanya, bertekuk lutut dan mengaku kebesaranNya.
Bagi umat pilihan yang sejak kecil telah menerima pengajaran dan kisah kebesaran Tuhan yang telah menyelamatkan nenek moyang mereka dari penindasan dengan kuasa mujizat yang besar, Allah menunjukkan "mujizat" dalam pemeliharaan dan jaminan akan kasih dan kesetiaanNya yang tak akan berkesudahan. Orang-orang yang sudah hidup dalam pemeliharaan Tuhan tidak perlu berburu mujizat kemana-mana. Allah akan menyediakan kesembuhan ketika Dia berkenan memberikannya dan kita hidup setia dalam iman dan pengharapan di dalam ke-Maha Baik-anNya.
Saturday, September 10, 2016
Living in Fears
Most of our behaviour reflects our hidden fear. Fear of poverty makes us pursue wealth in every possible ways. Fear of lonesomeness makes us crawl for approval. Fear of death makes us eagerly protect ourselves from harm and sicknesses. These fears are disabling. We were so afraid of being took for granted, so we aggressively showing off our achievements or bully others who don't meet our standards. We were so afraid of being failed, so we passively and indifferently live our lives and even sarcastic about the world. And the most horrible thing was when we're afraid of ourselves, hallucinations and delusive thoughts haunts us to the grounds. How exhausting it is to live in fears!
God always greet human with: "Fear not!" (Gen 15:1 God to Abram, Mat 14:27 Jesus to the disciples). But at the same time He allows us to experience tremble and fear to Him (Job 28:28, Acts 9:31). The kind of fear that liberating not suffocating. The fear upon His mighty deeds that guarantee us with salvation and protection, in which we can live assured upon His providence.
Things may come and go, but "The Great I AM" will always endure forever.
To what will you fear today?
May we overcome our unholy fears and submit to Him with tremble in awe upon His Greatness.
========================================

Sebagian besar perilaku kita merefleksikan ketakutan kita yang terdalam. Takut akan kemiskinan membuat kita mati2an mencari uang. Takut akan kesendirian membuat kita mati2an berusaha disukai teman. Takut akan kematian membuat kita berusaha keras melindungi diri dari sakit dan bahaya. Ketakutan2 ini membelenggu kita. Kita takut disepelekan, membuat kita agresif melakukan pembuktian diri, entah melalui pamer prestasi atau perundungan terhadap yang lemah. Takut gagal membuat kita pasif dan seolah tak peduli dan sarkastik terhadap dunia. Dan yang paling mengerikan, ketika kita takut pada diri kita sendiri, halusinasi, ilusi, dan delusi menguasai benak kita.
Alangkah melelahkannya hidup dalam ketakutan.
Allah selalu menyapa kita dengan, "Jangan takut." Namun Ia mengizinkan kita mengalami rasa gentar yang membebaskan, bukan takut yang membelenggu, yaitu takut dan gentar akan kemahakuasaanNya. Rasa gentar yang bersumber dari penghormatan tertinggi akan karya keselamatanNya. Sehingga di dalamnya kita hidup dengan jaminan perlindungan dan penyertaan. Segala hal datang dan pergi, tetapi Dia adalah Sang "Aku Adalah Aku" yang tinggal tetap dulu, sekarang, sampai selama2nya.
Enyahkan rasa takut yang tidak kudus, dan hiduplah dalam kegentaran terhadap Allah.
God always greet human with: "Fear not!" (Gen 15:1 God to Abram, Mat 14:27 Jesus to the disciples). But at the same time He allows us to experience tremble and fear to Him (Job 28:28, Acts 9:31). The kind of fear that liberating not suffocating. The fear upon His mighty deeds that guarantee us with salvation and protection, in which we can live assured upon His providence.
Things may come and go, but "The Great I AM" will always endure forever.
To what will you fear today?
May we overcome our unholy fears and submit to Him with tremble in awe upon His Greatness.
========================================

Sebagian besar perilaku kita merefleksikan ketakutan kita yang terdalam. Takut akan kemiskinan membuat kita mati2an mencari uang. Takut akan kesendirian membuat kita mati2an berusaha disukai teman. Takut akan kematian membuat kita berusaha keras melindungi diri dari sakit dan bahaya. Ketakutan2 ini membelenggu kita. Kita takut disepelekan, membuat kita agresif melakukan pembuktian diri, entah melalui pamer prestasi atau perundungan terhadap yang lemah. Takut gagal membuat kita pasif dan seolah tak peduli dan sarkastik terhadap dunia. Dan yang paling mengerikan, ketika kita takut pada diri kita sendiri, halusinasi, ilusi, dan delusi menguasai benak kita.
Alangkah melelahkannya hidup dalam ketakutan.
Allah selalu menyapa kita dengan, "Jangan takut." Namun Ia mengizinkan kita mengalami rasa gentar yang membebaskan, bukan takut yang membelenggu, yaitu takut dan gentar akan kemahakuasaanNya. Rasa gentar yang bersumber dari penghormatan tertinggi akan karya keselamatanNya. Sehingga di dalamnya kita hidup dengan jaminan perlindungan dan penyertaan. Segala hal datang dan pergi, tetapi Dia adalah Sang "Aku Adalah Aku" yang tinggal tetap dulu, sekarang, sampai selama2nya.
Enyahkan rasa takut yang tidak kudus, dan hiduplah dalam kegentaran terhadap Allah.
Saturday, August 13, 2016
Hikmat Atas Kelimpahan
Matius 14:16 (TB) Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan."
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Yesus memahami, menjamin, dan menyediakan segala kebutuhan, rohani maupun fisik. Dialah Sumber segala sesuatu, bersama dia kita tak butuh yang lain, karena pasti akan Dia cukupkan. Kita, sebagai pelayan Tuhan dan pengikut Kristus, sepantasnya mencontoh Kristus dalam hal memperhatikan setiap aspek kebutuhan orang yang kita layani.
Matius 14:17-18 (TB) Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan."
Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku."
Dengan sumber daya yang ada, walaupun sedikit, tapi jika dibawa kepada Kristus, maka akan cukup, bahkan berlimpah!!
Tuhan mampu melipatgandakan apa yang kita miliki, jika digunakan sesuai dengan tujuannya, yaitu untuk digunakan dalam pekerjaan Tuhan, memuliakan Tuhan melalui melayani sesama.
Jika kita melakukan pekerjaan Tuhan, apakah kita akan membatasi Dia dengan ukuran manusia yang ada pada kita? Tidak mungkin. Pekerjaan Tuhan akan terlaksana dengan ukuran dan sumber daya Tuhan, maka sekecil apapun yang ada pada kita maka itu akan memberi dampak karena Tuhan bekerja atasnya dan di dalamnya untuk mencapai tujuanNya.
Matius 14:19 (TB) Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.
Kristus memberi contoh bagi kita bagaimana menyerahkan apa yang kita miliki dalam doa kepada Tuhan.
Sebelum Yesus memakai makanan yang Dia miliki saat itu untuk melayani/melakukan pekerjaan Tuhan, Ia berdoa, baru kemudian memecah-mecahkannya! Maka sebelum kita memakai uang yang kita miliki, hendaknyalah kita berdoa mengucap syukur dan menyerahkannya kepada Tuhan, sebelum membagi2nya sesuai dengan alokasi kebutuhan penghidupan sehari2 dalam perjalanan hidup kita melayani Tuhan.
Bapa kita di Sorga adalah Pemilik Semesta yang Maha Kaya, namun Maha Murah. Ia sanggup memberi dengan segala kelimpahan. Yesus terus menerus memberi dengan limpah segala kebaikanNya, namun Ia hidup dalam kesederhanaan. Kekayaan identik dengan keegoisan, karena dalam kelimpahannya seorang kaya menutup saluran berkat Tuhan yang semestinya disebarkan kepada orang banyak.
Kiranya Tuhan memberi kita ketulusan dan kemurahan hati untuk senantiasa menjadi saluran berkatNya, serta iman yang teguh atas penggenapan janji pemeliharaanNya, agar kita dapat menjadi cermin Kristus yang sederhana dalam segala kemuliaanNya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Yesus memahami, menjamin, dan menyediakan segala kebutuhan, rohani maupun fisik. Dialah Sumber segala sesuatu, bersama dia kita tak butuh yang lain, karena pasti akan Dia cukupkan. Kita, sebagai pelayan Tuhan dan pengikut Kristus, sepantasnya mencontoh Kristus dalam hal memperhatikan setiap aspek kebutuhan orang yang kita layani.
Matius 14:17-18 (TB) Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan."
Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku."
Dengan sumber daya yang ada, walaupun sedikit, tapi jika dibawa kepada Kristus, maka akan cukup, bahkan berlimpah!!
Tuhan mampu melipatgandakan apa yang kita miliki, jika digunakan sesuai dengan tujuannya, yaitu untuk digunakan dalam pekerjaan Tuhan, memuliakan Tuhan melalui melayani sesama.
Jika kita melakukan pekerjaan Tuhan, apakah kita akan membatasi Dia dengan ukuran manusia yang ada pada kita? Tidak mungkin. Pekerjaan Tuhan akan terlaksana dengan ukuran dan sumber daya Tuhan, maka sekecil apapun yang ada pada kita maka itu akan memberi dampak karena Tuhan bekerja atasnya dan di dalamnya untuk mencapai tujuanNya.
Matius 14:19 (TB) Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.
Kristus memberi contoh bagi kita bagaimana menyerahkan apa yang kita miliki dalam doa kepada Tuhan.
Sebelum Yesus memakai makanan yang Dia miliki saat itu untuk melayani/melakukan pekerjaan Tuhan, Ia berdoa, baru kemudian memecah-mecahkannya! Maka sebelum kita memakai uang yang kita miliki, hendaknyalah kita berdoa mengucap syukur dan menyerahkannya kepada Tuhan, sebelum membagi2nya sesuai dengan alokasi kebutuhan penghidupan sehari2 dalam perjalanan hidup kita melayani Tuhan.
Bapa kita di Sorga adalah Pemilik Semesta yang Maha Kaya, namun Maha Murah. Ia sanggup memberi dengan segala kelimpahan. Yesus terus menerus memberi dengan limpah segala kebaikanNya, namun Ia hidup dalam kesederhanaan. Kekayaan identik dengan keegoisan, karena dalam kelimpahannya seorang kaya menutup saluran berkat Tuhan yang semestinya disebarkan kepada orang banyak.
Kiranya Tuhan memberi kita ketulusan dan kemurahan hati untuk senantiasa menjadi saluran berkatNya, serta iman yang teguh atas penggenapan janji pemeliharaanNya, agar kita dapat menjadi cermin Kristus yang sederhana dalam segala kemuliaanNya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
