"Kristus datang ke dunia nyata, ke kota di mana tak ada tempat bagi-Nya, dan ke negeri di mana Herodes, pembunuh orang-orang tak berdosa, menjadi raja. Dia datang kepada kita, bukan untuk melindungi kita dari kekejaman dunia, melainkan untuk memberikan kepada kita keberanian dan kekuatan untuk menanggungnya. Bukan untuk, dengan ajaib, merenggut kita dari konflik kehidupan sehari-hari, melainkan untuk memberi kita rasa damai -- damai-Nya -- di dalam hati kita. Dengan demikian, kita dapat tetap tenang dan tabah pada saat konflik sedang merajalela, dan kita dapat membawa kesembuhan, yaitu kedamaian, bagi dunia yang tercabik."
Ketika Maria dan Yusuf menyerahkan bayi Yesus kepada Tuhan, Simeon berkata kepada mereka: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan --, dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri --, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang" (Lukas 2:34,35).
Natal bukan dimaksudkan untuk menjauhkan kita dari kenyataan hidup, melainkan untuk masuk ke dalamnya bersama Sang Raja Damai --DCM (RH)
Saturday, December 20, 2014
Saturday, April 26, 2014
The Thing About Parents
Kita adalah produk orangtua kita yang telah digerus dan dipahat oleh lingkungan tempat kita tumbuh dan berkarya. Demikian pula orangtua kita, merupakan kulminasi warisan orangtuanya dan respon terhadap lingkungan.
Ketika masih kanak, orangtua bagaikan dewa2 kecil bagi kita: mahakuasa, mahakasih, mahaadil bagi mata dan otak mungil kita.
Tatkala kita dewasa dan menatap mereka dari ketinggian yang sama, siapakah yang kita lihat disana? Bukankah manusia yang sama yang kita temukan pula dalam diri kita, bukan seseorang yang maha segalanya? Penuh derita dan kepahitan yang telah kita rasakan pula? Sumber gembiranya pun sama dengan yang kita punya.
Jika seseorang menilai Anda berdasar apa yang mereka temukan pada orangtua Anda, maka mereka lupa bahwa kita hanya meminjam rahim bunda, dan bahwa hidup kita di dunia merupakan tanggung jawab masing2 persona dan bukan akibat genetika. Karena itulah esensi menjadi manusia: kita diberi kehendak bebas untuk menentukan pilihan.
Semuanya merupakan pilihan. Tidak ada yang terjadi tanpa Anda berpartisipasi di dalamnya, baik aktif maupun pasif. Karena, hey..., menjadi pasif dan ditundukkan oleh ketakberdayaan pun merupakan sebuah pilihan.
Terlepas dari apa, siapa, dan bagaimana orangtua kita, kita punya pilihan2 untuk menjalani hidup ini sebagaimana Allah menentukan kita. Tujuan hidup kita telah ditetapkan Tuhan, tapi jalan untuk mencapainya penuh persimpangan yang butuh keterlibatan kita dalam pengambilan keputusan.
Berterimakasihlah kepada orangtua, karena secara langsung maupun tidak langsung, sadar atau tidak sadar, telah mengajar kita hidup sebagai manusia.
Terima kasih orangtuaku, karena melalui teladan kekuatan kalian dan pelajaran dari kelemahan kalian, saya ada, dan mampu menerima kemanusiaan saya. Kalian mungkin bukan orang yang sempurna, tapi kalian orangtua yang sempurna untuk saya dalam ketidaksempurnaan kalian. Karena Tuhan tahu apa yang saya butuhkan dan Dia memberikan yang terbaik bagi saya.
God bless you, mom and dad.
Amsal 1:8-9,4:1-2 "Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu, sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu. Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu; janganlah meninggalkan petunjukku."
Ketika masih kanak, orangtua bagaikan dewa2 kecil bagi kita: mahakuasa, mahakasih, mahaadil bagi mata dan otak mungil kita.
Tatkala kita dewasa dan menatap mereka dari ketinggian yang sama, siapakah yang kita lihat disana? Bukankah manusia yang sama yang kita temukan pula dalam diri kita, bukan seseorang yang maha segalanya? Penuh derita dan kepahitan yang telah kita rasakan pula? Sumber gembiranya pun sama dengan yang kita punya.
Jika seseorang menilai Anda berdasar apa yang mereka temukan pada orangtua Anda, maka mereka lupa bahwa kita hanya meminjam rahim bunda, dan bahwa hidup kita di dunia merupakan tanggung jawab masing2 persona dan bukan akibat genetika. Karena itulah esensi menjadi manusia: kita diberi kehendak bebas untuk menentukan pilihan.
Semuanya merupakan pilihan. Tidak ada yang terjadi tanpa Anda berpartisipasi di dalamnya, baik aktif maupun pasif. Karena, hey..., menjadi pasif dan ditundukkan oleh ketakberdayaan pun merupakan sebuah pilihan.
Terlepas dari apa, siapa, dan bagaimana orangtua kita, kita punya pilihan2 untuk menjalani hidup ini sebagaimana Allah menentukan kita. Tujuan hidup kita telah ditetapkan Tuhan, tapi jalan untuk mencapainya penuh persimpangan yang butuh keterlibatan kita dalam pengambilan keputusan.
Berterimakasihlah kepada orangtua, karena secara langsung maupun tidak langsung, sadar atau tidak sadar, telah mengajar kita hidup sebagai manusia.
Terima kasih orangtuaku, karena melalui teladan kekuatan kalian dan pelajaran dari kelemahan kalian, saya ada, dan mampu menerima kemanusiaan saya. Kalian mungkin bukan orang yang sempurna, tapi kalian orangtua yang sempurna untuk saya dalam ketidaksempurnaan kalian. Karena Tuhan tahu apa yang saya butuhkan dan Dia memberikan yang terbaik bagi saya.
God bless you, mom and dad.
Amsal 1:8-9,4:1-2 "Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu, sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu. Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu; janganlah meninggalkan petunjukku."
Wednesday, April 23, 2014
Sama
Setiap hari saya bertemu tukang sapu yang sama. Kadang sesekali dia membawa anaknya yang masih berusia 4 tahun. Saya menyapanya setiap hari, dimulai dengan sekedar senyum, mengucap salam, hingga tadi sempat menanyakan anaknya. Saya memperhatikannya menyapu melalui pintu poliklinik yang terbuka.
Orang sederhana. Orang-orang sederhana yang melakukan pekerjaan besar. Menyaksikannya larut dalam rutinitasnya membuat saya malu memandang diri terlalu besar.
Kita bukan siapa2 tanpa manusia lain.
Terkadang kesombonganlah yang membuatku haus akan pengetahuan, dan pengetahuan bagaikan nektar yang memabukkan makin melambungkan egoku. Tatkala pengetahuan itu lenyap yang ada hanyalah orang yang sama.
Orang yang sedang menyapu agar pasien melewati koridor RS dengan nyaman dan orang yang sedang duduk di poliklinik untuk membantu pasien menghadapi penyakitnya, adalah orang yang sama.
Keduanya merupakan ciptaan yang mulia dari materi yang sama dan oleh Sumber yang sama, yang terpisah hanya oleh setapak yang berbeda.
Apakah ujungnya kan sama?
Orang sederhana. Orang-orang sederhana yang melakukan pekerjaan besar. Menyaksikannya larut dalam rutinitasnya membuat saya malu memandang diri terlalu besar.
Kita bukan siapa2 tanpa manusia lain.
Terkadang kesombonganlah yang membuatku haus akan pengetahuan, dan pengetahuan bagaikan nektar yang memabukkan makin melambungkan egoku. Tatkala pengetahuan itu lenyap yang ada hanyalah orang yang sama.
Orang yang sedang menyapu agar pasien melewati koridor RS dengan nyaman dan orang yang sedang duduk di poliklinik untuk membantu pasien menghadapi penyakitnya, adalah orang yang sama.
Keduanya merupakan ciptaan yang mulia dari materi yang sama dan oleh Sumber yang sama, yang terpisah hanya oleh setapak yang berbeda.
Apakah ujungnya kan sama?
Subscribe to:
Posts (Atom)


