Saturday, April 26, 2014

The Thing About Parents

Kita adalah produk orangtua kita yang telah digerus dan dipahat oleh lingkungan tempat kita tumbuh dan berkarya. Demikian pula orangtua kita, merupakan kulminasi warisan orangtuanya dan respon terhadap lingkungan.

Ketika masih kanak, orangtua bagaikan dewa2 kecil bagi kita: mahakuasa, mahakasih, mahaadil bagi mata dan otak mungil kita.
Tatkala kita dewasa dan menatap mereka dari ketinggian yang sama, siapakah yang kita lihat disana? Bukankah manusia yang sama yang kita temukan pula dalam diri kita, bukan seseorang yang maha segalanya? Penuh derita dan kepahitan yang telah kita rasakan pula? Sumber gembiranya pun sama dengan yang kita punya.

Jika seseorang menilai Anda berdasar apa yang mereka temukan pada orangtua Anda, maka mereka lupa bahwa kita hanya meminjam rahim bunda, dan bahwa hidup kita di dunia merupakan tanggung jawab masing2 persona dan bukan akibat genetika. Karena itulah esensi menjadi manusia: kita diberi kehendak bebas untuk menentukan pilihan.
Semuanya merupakan pilihan. Tidak ada yang terjadi tanpa Anda berpartisipasi di dalamnya, baik aktif maupun pasif. Karena, hey..., menjadi pasif dan ditundukkan oleh ketakberdayaan pun merupakan sebuah pilihan.
Terlepas dari apa, siapa, dan bagaimana orangtua kita, kita punya pilihan2 untuk menjalani hidup ini sebagaimana Allah menentukan kita. Tujuan hidup kita telah ditetapkan Tuhan, tapi jalan untuk mencapainya penuh persimpangan yang butuh keterlibatan kita dalam pengambilan keputusan.

Berterimakasihlah kepada orangtua, karena secara langsung maupun tidak langsung, sadar atau tidak sadar, telah mengajar kita hidup sebagai manusia.

Terima kasih orangtuaku, karena melalui teladan kekuatan kalian dan pelajaran dari kelemahan kalian, saya ada, dan mampu menerima kemanusiaan saya. Kalian mungkin bukan orang yang sempurna, tapi kalian orangtua yang sempurna untuk saya dalam ketidaksempurnaan kalian. Karena Tuhan tahu apa yang saya butuhkan dan Dia memberikan yang terbaik bagi saya.

God bless you, mom and dad.

Amsal 1:8-9,4:1-2 "Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu, sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu. Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu; janganlah meninggalkan petunjukku."


No comments: