Thursday, February 13, 2014

The Gate to Prophecy

The Gate to Prophecy
"Why is the Eastern Gate to the Old City of Jerusalem closed,
and what does it have to do with Bible prophecy?"
Pamela Edwards on Facebook

The Eastern Gate in the old walled city of Jerusalem has a very special place in my heart, for it was that gate which God used to open my eyes to His Prophetic Word.
The year was 1967. The occasion was the Six Day War. As the fate of the new state of Israel hung in the balance, I searched the newspapers daily for any information I could find about the war. The turning point came on June 7 when the Israeli army broke through the Lion's Gate and returned control of the ancient city of Jerusalem to the Jewish people for the first time in 1,897 years.

A Mysterious Remark

The next day I read a fascinating news account about one of the Jewish commando groups that had been involved in the assault on the city. The article stated that some members of the group had suggested catching the Jordanian defenders of the city off guard by blowing open the sealed Eastern Gate. But the leader of the group, an Orthodox Jew, had vehemently protested the idea, stating that "the Eastern Gate can be opened only when the Messiah comes."
That statement caught my eye. I wondered what the fellow was talking about. I knew nothing about the Eastern Gate except that it was the only gate of the city that led directly onto the Temple Mount. I was not aware that it was sealed, nor did I know that its opening was in any way biblically linked to the return of the Messiah.

A Remarkable Prophecy

I decided to do some research on the matter, and that decision initiated my study of Bible prophecy. I had been attending church for 30 years, but like most Christians, I knew nothing about Bible prophecy. The topic was generally ignored by the preachers in the church I grew up in.
My concordance quickly directed me to the passage that the Orthodox Jew had alluded to. I found it in Ezekiel 44. The context is a supernatural tour the Lord is giving Ezekiel of the future Millennial Temple (40:1-3).
In chapter 43 the Lord gives Ezekiel a vision of God's glory entering the Millennial Temple from the east, through the Eastern Gate. The Lord then says to Ezekiel: "Son of Man, this is the place of My throne and the place of the soles of my feet where I will dwell among the sons of Israel forever" (43:7).
The Lord then reveals to Ezekiel that the Eastern Gate will be closed and will not be reopened until the Messiah returns in glory (44:1-3).

A Momentous Decision

This prophecy was partially fulfilled more than 400 years ago in 1517 when the Turks conquered Jerusalem under the leadership of Suleiman the Magnificent. He commanded that the city's ancient walls be rebuilt, and in the midst of this rebuilding project, for some unknown reason, he ordered that the Eastern Gate be sealed up with stones.
Legends abound as to why Suleiman closed the Gate. The most believable one is that while the walls were being rebuilt, a rumor swept Jerusalem that the Messiah was coming. Suleiman called together some Jewish rabbis and asked them to tell him about the Messiah. They described the Messiah as a great military leader who would be sent by God from the east. He would enter the Eastern Gate and liberate the city from foreign control.
Suleiman then decided to put an end to Jewish hopes by ordering the Eastern Gate sealed. He also put a Muslim cemetery in front of the Gate, believing that no Jewish holy man would defile himself by walking through a Muslim cemetery.

A Prophetic Symbol

The Gate has remained sealed since that time. The Muslim cemetery still blocks the entrance. The old walled city has eight gates, and the Eastern Gate, and it alone, is sealed — just as prophesied in Ezekiel 44. The world would call that an "amazing coincidence." I call it a "God-incidence."
The Eastern Gate is proof positive that the Bible is the Word of God. Its sealing is clear evidence that we are living in the end times. The Gate awaits the return of the Messiah. Then and only then, will it be opened.

An Exciting Vision

I have a vision of what that glorious day will be like. It is related to the Lord's First Coming. I believe Jesus is going to replay His triumphal entry into Jerusalem when He returns.
When He came the first time, Jesus rode a donkey from the Mount of Olives down into the Kidron Valley and up to the Eastern Gate where He entered the Temple Mount for His last days of teaching. As He made that ride, the Valley of Kidron was filled with thousands of admirers who had heard about the resurrection of Lazarus. They waved palm branches and chanted, "Hosanna to the Son of David!" Within a few days that same fickle crowd was shouting, "Crucify Him!"
We are told in Revelation 19 that when Jesus returns He will come as a victorious military conqueror, riding through the air on a supernatural white horse. In Isaiah 61 we are told that He will come from the east, and in Zechariah 14 we are told that he will touch ground on the Mount of Olives.
Revelation 19:14 says that all the Redeemed will come with the Lord. Think of it! You and I will be there to witness the Lord's return. Zechariah 14 says He will speak a word that will supernaturally destroy the Anti-Christ and his forces.
Then, I believe we will witness a replay of the Lord's triumphant entry into Jerusalem. With angels hovering above and millions of the Redeemed filling the Kidron Valley, Jesus will ride up to the Eastern Gate on His white horse, and as He approaches the Gate, it will blow open. He will then enter the City of David, and to the triumphant shouts of "Hosanna to the Son of David," He will be crowned the Kings of kings and the Lord of lords.
I believe that's what Psalm 24 is all about when it says:
Lift up your heads, O gates, and be lifted up, O ancient doors, that the King of glory may come in! Who is the King of glory? The Lord strong and mighty, The Lord mighty in battle . . . The Lord of hosts, He is the King of glory.

Copied words from - David Reagan

Wednesday, February 12, 2014

Monster itu Bernama : Guilt

Seorang sahabat yang sedang dirundung duka atas meninggalnya ayahnya beberapa minggu yang lalu masih berurai air mata menyalahkan diri atas kematian ayahnya. Dia menganggap dirinya bertanggungjawab dalam beberapa kesalahan pengambilan keputusan yang berujung pada kematian mendadak ayahnya akibat beberapa komplikasi penyakit: multiple myeloma yang sudah dikemoterapi, heart failure, DHF.

Rasa bersalah merupakan tanda peringatan emosional yang dipelajari kebanyakan orang melalui perkembangan sosial masa kanak yang normal. Tujuannya adalah agar kita tahu ketika kita telah melakukan sesuatu yang salah, untuk membantu kita mengembangkan kepekaan yang lebih baik terhadap perilaku kita dan bagaimana hal itu mempengaruhi diri kita sendiri dan orang lain. Ini mendorong kita untuk memeriksa kembali perilaku sehingga kita tidak berakhir membuat kesalahan yang sama dua kali.

Rasa bersalah pasti akan ada, karena itu adalah bagian dari natur kita sebagai manusia, sebagai salah satu komponen penting dalam struktur ego. Namun sungguh menakjubkan betapa rasa bersalah tersebut dapat timbul karena hal yang tidak rasional, sepele, bahkan sebenarnya tidak bermanfaat dalam hidup kita. Bagaimana kita dapat berdamai dengan perasaan bersalah kita, serta menerimanya ketika perasaan ini penting dan tidak boleh diabaikan, tapi membiarkannya pergi lebih mudah ketika perasaan ini tak lain sekedar monster dari neraka?

1.     Kenali jenis rasa bersalah yang Anda miliki dan tujuannya

Rasa bersalah yang terbaik adalah yang mampu membantu kita tumbuh dan menjadi dewasa ketika terbukti ada perilaku kita telah menyinggung atau menyakiti orang lain atau diri kita sendiri. Jika kita merasa bersalah karena telah mengatakan sesuatu yang menyinggung orang lain, atau karena terlalu berfokus pada karir sehingga mengabaikan keluarga maupun interrelasi lainnya yang penting, maka itu adalah suatu tanda peringatan dengan tujuan agar kita mengubah perilaku jika tidak mau kehilangan teman atau keluarga. Hal ini dapat disebut sebagai rasa bersalah yang "sehat" atau "sesuai" karena memiliki tujuan dalam berusaha untuk membantu mengarahkan kompas moral atau perilaku kita.
Masalah muncul ketika rasa bersalah terjadi pada saat semestinya perilaku kita bukan sesuatu yang perlu dikaji kembali, juga bukan sesuatu yang perlu diubah. Sebagai contoh, banyak ibu pertama kali merasa bersalah tentang akan kembali bekerja dan meninggalkan anaknya pada pengasuhan orang lain, takut dapat menyebabkan kerenggangan dalam hubungan dengan anak mereka ataupun takut dianggap sebagai orangtua yang mengabaikan anaknya. Tentu saja dengan tindakan dan pola transaksi keluarga yang sepantasnya, hal ini tidak semestinya menimbulkan rasa bersalah. Sebagian besar anak-anak memiliki perkembangan yang sehat yang normal bahkan ketika kedua orangtuanya bekerja. Hal ini dikenal sebagai rasa bersalah yang "tidak sehat" atau "tidak pantas" karena tidak melayani tujuan yang rasional.
Jika Anda merasa bersalah karena makan lima batang coklat berturut-turut, itu cara otak Anda mencoba untuk mengirimkan pesan kepada Anda tentang perilaku Anda yang mungkin dikenali oleh otak sebagai tindakan yang sedikit ekstrim. Perilaku tersebut dapat merusak diri sendiri dan pada akhirnya berbahaya bagi kesehatan Anda. Jadi tujuan rasional rasa bersalah ini hanya untuk mencoba dan meyakinkan Anda untuk mengubah perilaku ini. Tentu saja kita masih bisa memilih untuk mengabaikan rasa bersalah tersebut, tapi tentu saja kita melakukannya dengan risiko kita sendiri yaitu timbulnya rasa bersalah yang lebih besar yang bersumber dari penyesalan karena kita menuai konsekuensi dari pola perilaku kita yang semestinya diubah.

2.     Menebus kesalahan atau melakukan perubahan lebih awal

Jika rasa bersalah kita telah kita kaji dan ternyata memiliki tujuan tertentu dan rasional, maka perlu segera diambil tindakan untuk memperbaiki masalah perilaku. Kebanyakan kita secara tak sadar senang menghukum diri sendiri, padahal si monster terus menerus memegangi kaki kita saat kita mencoba bergerak maju dalam kehidupan.
Merupakan hal yang cukup mudah untuk meminta maaf kepada seseorang yang telah kita buat tersinggung oleh suatu pernyataan ceroboh, misalnya, ketimbang hidup dengan monster guilt yang menyeringai setiap kali kita berpapasan dengan orang tersebut. Rasa bersalah yang sehat mengatakan kepada kita bahwa kita perlu melakukan sesuatu yang berbeda dalam rangka untuk memperbaiki hubungan interrelasi manusiawi yang penting maupun untuk membawa kesejahteraan bagi diri kita sendiri. Di sisi lain, tujuan dari rasa bersalah yang tidak sehat itu hanya untuk membuat kita merasa buruk untuk sedikit alasan yang terkadang irasional, dan terpicu oleh pembenaran emosional semata.
Meskipun kadang-kadang kita sudah tahu rasa bersalah sedang mencoba untuk memberi kita pelajaran, rasa bersalah itu seringkali kita berusaha abaikan dan biasanya terjadi berulang kali waktu sampai kita menebusnya, atau hingga akhirnya kita mendapat pelajaran dari konsekuensinya, atau bahkan hingga kita mengkompensasinya dengan menganggap hal itu tidak menjadi masalah buat kita. Pada beberapa orang dengan respons mental yang masih baik, rasa bersalah sehat akan terus mengetuk hati nurani dan menggelisahkan jiwa. Semakin cepat kita "belajar pelajaran" – misalnya dengan menebus kesalahan, memodifikasi perilaku – semakin cepat rasa bersalah itu akan hilang. Jika berhasil, ia tidak akan pernah kembali untuk masalah itu lagi.

3.     Menerima kenyataan bahwa kita telah melakukan sesuatu yang salah, dan melanjutkan hidup.

Jika kita melakukan kesalahan, kita harus bisa menerima bahwa kita tidak dapat mengubah masa lalu. Tapi yang bisa kita lakukan adalah menebus perilaku kita, pada saat dan metode yang tepat. Sahabat saya yang saya ceritakan di atas jelas tidak mungkin menghidupkan ayahnya kembali. Terlepas dari konteks apakah memang dia telah melakukan kesalahan dengan pilihan-pilihan yang salah, rasa bersalah yang dialaminya kini jika diuji dengan tujuan rasa bersalah tersebut adalah termasuk dalam jenis rasa bersalah yang tidak sehat. Rasa bersalah yang dimilikinya menjadi monster yang menggerayangi kehidupan kekiniannya yang semestinya harus dia tata sepeninggal ayahnya. Rasa bersalah itu juga bukannya mendewasakan dia tapi membuatnya menjadi ragu-ragu dalam mengambil keputusan.
Menebus kesalahan – jika memang telah terjadi suatu kesalahan – tidak selamanya ditujukan pada obyek yang bersangkutan. Dalam hal rasa bersalah yang diakibatkan oleh duka atas kehilangan seseorang yang disayangi, apalagi jika orang tersebut tak mungkin kembali, kompensasi rasa bersalah itu dapat kita salurkan dalam konsep hidup yang lebih dimatangkan oleh pengalaman, dan kita implementasikan kepada mereka yang ada dekat dengan kita dan layak untuk mendapat kasih sayang yang setara dengan dia yang telah pergi. Pengasuhan yang lebih baik, hubungan yang lebih intens, pencegahan dini tanda-tanda awal, dapat kita lakukan dalam kekinian tanpa melupakan pelajaran dari kesalahan di masa lampau, namun dengan meninggalkan beban rasa bersalah menjadi bagian kenangan masa lampau. Menerima dan mengakui kesalahan, menebusnya, dan kemudian melanjutkan.

4.     Belajar dari perilaku kita.

Tujuan rasa bersalah yang sehat bukanlah untuk membuat kita merasa buruk hanya semata-mata karena perasaan itu sendiri. Perasaan bersalah sedang mencoba untuk mendapatkan perhatian kita sehingga kita bisa belajar sesuatu dari pengalaman. Jika kita belajar dari perilaku kita, kita akan cenderung tidak melakukannya lagi di masa depan. Jika saya sudah tidak sengaja mengatakan sesuatu yang menghina orang lain, rasa bersalah saya mengatakan bahwa saya harus (a) meminta maaf kepada orang tersebut dan (b) berpikir sedikit lebih sebelum saya membuka mulut saya.
Jika rasa bersalah kita tidak membuat kita mencoba untuk melakukan sesuatu yang lebih baik di masa depan, maka tidak ada yang kita pelajari dari pengalaman internal kita, dan proses menuju kedewasaan kita akan mandeg bahkan mundur.

5.     Kesempurnaan tidak ada pada siapa pun

Tidak ada manusia yang sempurna dan hidup bebas dari rasa bersalah. Rasa bersalah merupakan salah satu alarm alami yang Tuhan berikan bagi kita untuk dapat mempertahankan hubungan yang seimbang antar sesama manusia bahkan dengan Tuhan. Rasa bersalah menandakan kita berjuang untuk mencapai kesempurnaan, dan meskipun kesempurnaan itu tidak ada pada siapa pun, upaya untuk mencapainya itulah yang menandai eksistensi manusia dalam sejarah. Tanpa dorongan untuk mencapai kesempurnaan, orang tidak akan memiliki ambisi sehat yang membuat manusia mampu melakukan pencapain-pencapaian besar.
Meskipun demikian, dalam perjuangan mencapai kesempurnaan itulah kita menemui kegagalan demi kegagalan. Kita semua pernah membuat kesalahan dalam suatu waktu di perjalanan hidup kita yang kemudian membuat kita merasa bersalah dan akhirnya tersiksa olehnya. Kuncinya adalah untuk menyadari kesalahan dan menerima bahwa ada hal-hal yang di luar kontrol kita sebagai manusia. Jangan menghabiskan hari, minggu, bulan, bahkan tahun menyalahkan dan menghukum diri sendiri karena merasa bahwa semestinya Anda harus sudah tahu, Anda seharusnya bertindak secara berbeda, atau merasa harus menjadi orang yang ideal. Tidak demikian. Itulah hidup.

***
Rasa bersalah adalah salah satu emosi yang kita rasakan mengatakan kepada kita sesuatu yang penting. Sadarilah bahwa tidak setiap emosi, dan tentu saja tidak setiap perasaan bersalah, adalah sesuatu yang rasional yang memiliki tujuan. Fokus pada rasa bersalah akan membahayakan orang-orang tercinta atau teman-teman, bahkan kehidupan anda sendiri secara keseluruhan. Dan ingat untuk menjadi skeptis waktu berikutnya Anda merasa bersalah, apakah rasa bersalah itu mencoba untuk mengajarkan Anda sesuatu yang rasional dan membantu tentang perilaku Anda, atau itu hanya sebuah respon irasional emosional terhadap situasi? Jawaban atas pertanyaan itu akan menjadi langkah pertama Anda untuk membantu Anda lebih baik dalam menghadapi monster yang bernama : Guilt.


Inspired by GR's grief and guilt, and by JM Grohol's article on guilt.

Sunday, February 9, 2014

Sahabat Sejati, Siapakah Yang Memilikinya?

At times of turmoils we can see who really are true friends and who are the ones that always ready to spit and mock with accusation if they found the reason to.

Hidup hanya sementara. Pemerintah bangsa2 datang dan pergi bagai debu tertiup angin. Tapi Pemerintahan Tuhan kekal selama2nya. Bagi mereka yang berlindung di balik harta dan kekuasaan dunia, akan ada masanya semuanya tak akan lagi punya arti.
Cinta, persahabatan, dan kesetiaan, bukanlah jargon tanpa makna yang secara dungu membutakan nalar, namun hubungan yang terjalin atas dasar PERCAYA harus dibangun di atas pemahaman dan pemakluman. Jika kasih memicu keraguan, maka tanyakanlah hatimu benarkah kasih yang ada dalam hati dan bukan sekedar kebutuhan akan hubungan mutualisma.
Jika harta dan peristiwa mengubah pandanganmu akan seseorang, cobalah untuk kembali telanjang sebagaimana kita dihantar masuk ke dalam dunia. Tanpa apa2, tanpa sesiapa, tanpa prasangka.... Sebab dengan cara demikianlah pula kita akan meninggalkan kefanaan ini. Kita semua kaum papa di hadapanNya, telah kehilangan kemulian Allah, maka tak ada alasan yang cukup bagi kita untuk menunjuk pada sesama dengan curiga. Tidak ada apapun pada kita yang dapat kita klaim sebagai "Aku punya", baik itu kerja, materi, keluarga, bahkan waktu yang demikian berharga.

Semoga Tuhan mengampuni kita atas pikiran tamak kita yang penuh dosa.