Sunday, August 7, 2022

Merdeka dari Tanya


Sepanjang sejarah manusia selalu mencari "makna kehidupan". Para filsuf dan ilmuwan selama berabad-abad berusaha memaknai "manusia" dan "kemanusiaan" dengan berbagai definisi dan pendekatan. Dalam pencarian itu konsep "Tuhan" selalu lekat dengan pemaknaan "manusia". 

Apakah manusia diciptakan? Apakah manusia merupakan produk kebetulan dari alam yang berevolusi? Mengapa manusia berbeda dari makhluk bumi lainnya? Mengapa manusia memiliki kesadaran? Apa itu penderitaan? Apa itu kebahagiaan? Bagaimana menjalani waktu di antara kelahiran dan kematian? Apakah Tuhan mengatur kita? Ataukah kita semua adalah Tuhan? Dan... Mengapa kita selalu gelisah dan bertanya?

Kita terbelenggu.

Dengan tanya dan logika.

Menjawab berbagai tanya kita mulai melahirkan berbagai konsep dan teori, memberi label terhadap berbagai hal, bahkan terhadap peran yang kita mainkan dalam hidup sehari-hari. "Orang baik" "pengkhianat" "ibu kandung" "orang cacat" "penderita sakit jiwa" "ketua perkumpulan" dan lain sebagainya. Kita menyebut orang dengan labelnya yang kita buat berdasarkan konsep kita terhadap peran.

Bagi manusia, Tuhan adalah konsep. Yang lahir dari tanya dan logika. Tapi kita sesungguhnya mencoba lupa, bahwa konsep terhebat kita tentang Tuhan tak dapat menjawab seluruh tanya kita tentang semesta. Maka satu-satunya jawaban adalah ya, Tuhan bukan ide, bukan konsep, bukan objek, namun adalah realita itu sendiri. Realita tak dapat dikonsepkan, hanya dialami dan diterima. Konsep tak dapat mengubah realita karena konsep hanya cara pandang kita terhadap realita. Kita tak bisa mengubah realita, hanya bisa mengubah perspektif kita terhadapnya. 

Realita-lah yang mengubah kita. 

Perspektif melahirkan konsep dan konsep melahirkan respon. Kita merespon realita dan tanpa sadar beradaptasi dengannya. Jika kenyataan hidup kita pandang buruk, maka buruk pulalah konsep kita tentang Tuhan bukan? Bukankah itu berarti kita yang secara sepihak memaknai Tuhan dan lupa bahwa realita yang kita pandang buruk sesungguhnya adalah baik dari perspektif semesta?

Definisi ini menjawab segalanya:

Keluaran 3:13-14 (TB) Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? — apakah yang harus kujawab kepada mereka?" 

Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." 

AKU ADALAH AKU - merupakan definisi Tuhan tentang dirinya, sebagai realita yang ada, yang dahulu ada, sekarang ada, dan tetap ada sampai akhir masa.

Bebaskanlah diri dari belenggu cemas dan depresi karena berbagai tanya, dan terimalah realita. Terimalah Tuhan sebagaimana adanya, yaitu yang SATU-SATUNYA bisa menjawab pertanyaan semesta: semua karena kehendakNya, dan rancanganNya baik adanya.

Merdeka!


Menyambut kemerdekaan RI - August 2022, eRain@

Saturday, November 30, 2019

Membangun dan Merenovasi

Ground Zero Hiroshima Atomic Bomb, Japan, October 2019


Gedung yang megah tidak mungkin berdiri tegak tanpa fondasi yang kokoh.
Jangan menilai hasil kerja seseorang berdasar apa yang tampak, karena mungkin saja itu dibangun di atas keringat lelah bergenerasi2 pendahulunya yang membangun fondasi namun tak pernah tampak di permukaan.
Gedung yang indah bisa hancur dalam sekejap mata, tapi mudah dibangun lebih indah lagi jika fondasinya tak turut lenyap. Sebaliknya fondasi yang lemah akan membuat bangunan yang megah sekalipun runtuh dengan sendirinya.

It's far more harder to create from zero than to modify and build from what already exist. But it's far more proud to have people notice on the hard work we've done on developing what's already established.

Both are good.

Me myself prefer to work as foundation setter, it's more challenging to me. But above all, it prevents me to fall being arrogant upon people's praises, and so all glory shall really be unto God. Tapi adakalanya Tuhan menyiapkan misi di tempat yang pernah digarap namun kini penuh belukar, disitulah tantangannya menjadi berbeda. Sebuah bangunan sudah berdiri namun tidak dirawat dan dibiarkan terbengkalai? Butuh effort lebih untuk merenovasi, atau jika Tuhan berkenan menghancurkan bangunan lama dan membangun yang baru, itupun butuh kerelaan dan ketaatan tinggi untuk bisa memahami rencana dan kehendak Tuhan.

Apapun itu Pengkhotbah 9:10 mengingatkan "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi." 

#blessed #content #fulllife

Thursday, July 18, 2019

Parenting and Discipleship

Dear parents,
Kenalkah anda siapa diri anda sebagai pribadi? Bukan sebagai istri/suami si X, atau mama/papanya A B C. Tapi sebagai kamu, ya kamu.
Puaskah anda mengenai siapa diri anda sebagai pribadi? Merasa banyak kekurangan? Wajar. Bukankah ada banyak juga kelebihan?
Dear parents,
Kenalkah anda siapa anak anda sebagai pribadi? Bukan sebagai anak anda atau adik/kakak anak anda yang lain, tapi sebagai dia, ya dia.
Tidak perlu rasanya bertanya apa anda puas dengan apa yang anda kenal tentang siapa anak anda, karena naturnya rasa cinta kita akan menutupi segala kekurangannya.
Dear parents,
Tahukah anda bahwa dalam parenting sangat sering kita lupa bahwa ada 2 pribadi yang terlibat di sini, anda sebagai orangtua yang adalah satu pribadi unik dan anak anda sebagai satu pribadi unik lainnya. Sebagai orangtua kita cenderung menganggap anak kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari diri kita. Sehingga seringkali kelemahan kita yang tampak (atau baru berpotensi dimiliki) pada anak kita, kita kalang kabut berusaha memperbaikinya, dengan menghukum atau menutupinya, tanpa sadar bahwa yang berusaha kita perbaiki sebenarnya adalah kelemahan kita sendiri dan bukan milik anak kita. Kita cenderung paranoid menganggap anak-anak kita akan mewarisi kelemahan kita, dan dengan dalih "ingin anak kita menjadi lebih baik dari kita" malahan kita menutup potensinya untuk berkembang menjadi pribadinya sendiri yang unik. Terlalu sering kita berusaha mencetak "mini-me" versi 2.0 ketimbang menikmati proses indah yang Tuhan sudah siapkan untuk ditapaki oleh kaki-kaki kecil anak kita bersama Tuhan.
Dear parents,
Anda dan anak anda adalah pribadi-pribadi yang masing2 sedang menapaki jalan Tuhan. Di titik awal perjalanan sang anak dia butuh anda sebagai pribadi yang sudah lebih dahulu mengenal diri, karena ia belum kenal siapa dirinya. Pribadi anak butuh patron dan bimbingan untuk memunculkan kesadaran akan "pribadi". Kesadaran itu akan perlahan terbentuk seiring perkembangan psikologisnya. Jika kesadaran itu bertumbuh di tengah dinding batasan yang terlalu rapat, dihiasi dengan mural2 kesuksesan orangtua dan pathway baku yang sudah digariskan ayah bunda, maka pribadi anak akan sulit menggali potensi dirinya. Kesadaran akan pribadi yang baik membutuhkan bimbingan, bukan tuntutan. Dan terutama, kesadaran akan pribadi yang baik membutuhkan patron/contoh dari pribadi yang sudah memiliki kesadaran diri seutuh, yaitu anda sebagai orangtua, bukan sekedar nasehat dan jargon2 tentang kehidupan yang baik saja.
Dear parents,
Sudah kenalkah anda siapa diri anda sebagai pribadi? Sudahkah anda mencintai pribadi unik anda sendiri?
John Calvin pernah berkata, “Wisdom lies in knowing God and knowing oneself.” Mengenal diri kita melalui mata Allah, akan memberi kita hikmat untuk menuntun anak2 kita mengenal dirinya dan menemukan Tuhan yang mengasihi dirinya sebagai pribadi yang unik di mata Tuhan.
Dear parents,
I urge you to no longer making "mini-me ver 2.0" project with your child, instead do discipleship by first being a committed disciple of Christ. ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™
--- IR, 19072019