Saturday, November 30, 2019

Membangun dan Merenovasi

Ground Zero Hiroshima Atomic Bomb, Japan, October 2019


Gedung yang megah tidak mungkin berdiri tegak tanpa fondasi yang kokoh.
Jangan menilai hasil kerja seseorang berdasar apa yang tampak, karena mungkin saja itu dibangun di atas keringat lelah bergenerasi2 pendahulunya yang membangun fondasi namun tak pernah tampak di permukaan.
Gedung yang indah bisa hancur dalam sekejap mata, tapi mudah dibangun lebih indah lagi jika fondasinya tak turut lenyap. Sebaliknya fondasi yang lemah akan membuat bangunan yang megah sekalipun runtuh dengan sendirinya.

It's far more harder to create from zero than to modify and build from what already exist. But it's far more proud to have people notice on the hard work we've done on developing what's already established.

Both are good.

Me myself prefer to work as foundation setter, it's more challenging to me. But above all, it prevents me to fall being arrogant upon people's praises, and so all glory shall really be unto God. Tapi adakalanya Tuhan menyiapkan misi di tempat yang pernah digarap namun kini penuh belukar, disitulah tantangannya menjadi berbeda. Sebuah bangunan sudah berdiri namun tidak dirawat dan dibiarkan terbengkalai? Butuh effort lebih untuk merenovasi, atau jika Tuhan berkenan menghancurkan bangunan lama dan membangun yang baru, itupun butuh kerelaan dan ketaatan tinggi untuk bisa memahami rencana dan kehendak Tuhan.

Apapun itu Pengkhotbah 9:10 mengingatkan "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi." 

#blessed #content #fulllife

Thursday, July 18, 2019

Parenting and Discipleship

Dear parents,
Kenalkah anda siapa diri anda sebagai pribadi? Bukan sebagai istri/suami si X, atau mama/papanya A B C. Tapi sebagai kamu, ya kamu.
Puaskah anda mengenai siapa diri anda sebagai pribadi? Merasa banyak kekurangan? Wajar. Bukankah ada banyak juga kelebihan?
Dear parents,
Kenalkah anda siapa anak anda sebagai pribadi? Bukan sebagai anak anda atau adik/kakak anak anda yang lain, tapi sebagai dia, ya dia.
Tidak perlu rasanya bertanya apa anda puas dengan apa yang anda kenal tentang siapa anak anda, karena naturnya rasa cinta kita akan menutupi segala kekurangannya.
Dear parents,
Tahukah anda bahwa dalam parenting sangat sering kita lupa bahwa ada 2 pribadi yang terlibat di sini, anda sebagai orangtua yang adalah satu pribadi unik dan anak anda sebagai satu pribadi unik lainnya. Sebagai orangtua kita cenderung menganggap anak kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari diri kita. Sehingga seringkali kelemahan kita yang tampak (atau baru berpotensi dimiliki) pada anak kita, kita kalang kabut berusaha memperbaikinya, dengan menghukum atau menutupinya, tanpa sadar bahwa yang berusaha kita perbaiki sebenarnya adalah kelemahan kita sendiri dan bukan milik anak kita. Kita cenderung paranoid menganggap anak-anak kita akan mewarisi kelemahan kita, dan dengan dalih "ingin anak kita menjadi lebih baik dari kita" malahan kita menutup potensinya untuk berkembang menjadi pribadinya sendiri yang unik. Terlalu sering kita berusaha mencetak "mini-me" versi 2.0 ketimbang menikmati proses indah yang Tuhan sudah siapkan untuk ditapaki oleh kaki-kaki kecil anak kita bersama Tuhan.
Dear parents,
Anda dan anak anda adalah pribadi-pribadi yang masing2 sedang menapaki jalan Tuhan. Di titik awal perjalanan sang anak dia butuh anda sebagai pribadi yang sudah lebih dahulu mengenal diri, karena ia belum kenal siapa dirinya. Pribadi anak butuh patron dan bimbingan untuk memunculkan kesadaran akan "pribadi". Kesadaran itu akan perlahan terbentuk seiring perkembangan psikologisnya. Jika kesadaran itu bertumbuh di tengah dinding batasan yang terlalu rapat, dihiasi dengan mural2 kesuksesan orangtua dan pathway baku yang sudah digariskan ayah bunda, maka pribadi anak akan sulit menggali potensi dirinya. Kesadaran akan pribadi yang baik membutuhkan bimbingan, bukan tuntutan. Dan terutama, kesadaran akan pribadi yang baik membutuhkan patron/contoh dari pribadi yang sudah memiliki kesadaran diri seutuh, yaitu anda sebagai orangtua, bukan sekedar nasehat dan jargon2 tentang kehidupan yang baik saja.
Dear parents,
Sudah kenalkah anda siapa diri anda sebagai pribadi? Sudahkah anda mencintai pribadi unik anda sendiri?
John Calvin pernah berkata, “Wisdom lies in knowing God and knowing oneself.” Mengenal diri kita melalui mata Allah, akan memberi kita hikmat untuk menuntun anak2 kita mengenal dirinya dan menemukan Tuhan yang mengasihi dirinya sebagai pribadi yang unik di mata Tuhan.
Dear parents,
I urge you to no longer making "mini-me ver 2.0" project with your child, instead do discipleship by first being a committed disciple of Christ. ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™
--- IR, 19072019


Wednesday, April 17, 2019

Damai Sejahtera Allah

Matius 26:51-52, 55-56 (TB)  
Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya. Maka kata Yesus kepadanya: "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.
Pada saat itu Yesus berkata kepada orang banyak: "Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi." Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri. 


Ancaman membuat otak kita bereaksi dengan dua macam pilihan: fight or flight.

Reaksi pengikut Yesus untuk menghunus pedang saat melihat Guru-nya hendak diperlakukan dengan tidak adil adalah respon sistem saraf otonom yang normal. Reaksi semua murid yang mendadak melarikan diri saat melihat Sang Guru tidak berniat mempertahankan diri juga adalah reaksi sistem saraf otonom yang sangat normal.

Menghadapi ancaman, sangat wajar melakukan salah satu di antara kedua hal tersebut. Tapi, mengapa Yesus bisa bereaksi berbeda? Yesus pun merasa gentar, bahkan sebelumnya Ia berdoa dengan peluh yang bercampur darah, menunjukkan sistem saraf otonom bekerja hingga titik maksimal. Tapi Ia tidak lari, tidak pula melawan, namun maju terus menuju salib dengan pikiran jernih dan emosi yang terkendali.

Kondisi ini hanya bisa tercapai oleh keselarasan yang bersumber dari damai sejahtera Allah, suatu damai sejahtera yang melampaui segala akal, dan hanya bisa kita alami apabila kita berfokus hanya kepada Allah saja sebagai Yang Awal dan Yang Akhir, percaya dan mempercayakan diri pada kedaulatan-Nya sebagai Sang Khalik.

Sering dalam kehidupan kita, banyak hal yang membuat kita cemas dan takut sehingga merampas damai sejahtera yang sejatinya adalah hak kita sebagai anak-anak Allah. Kekuatiran tentang penghidupan maupun ketakutan akan bahaya membuat kita tidak dapat berpikir dengan jernih dan mencoba melawan dengan segala cara, atau berpura-pura masalah itu tidak ada dan mengabaikannya, sampai akhirnya sistem saraf kita mengalami disfungsi akibat ketegangan terus menerus yang tidak mencapai resolusinya.

Sesungguhnya kita bisa belajar dari cara Yesus menghadapi rasa takut yang timbul dari ancaman akan sesuatu yg buruk. Sebagai manusia Yesus merasa takut, dan ketakutanNya bukan hanya sesuatu yang terjadi di alam pikiranNya saja, namun bermanifestasi secara fisik. Sebagai Tuhan, Yesus memiliki Roh Hikmat yang luar biasa yang menuntun Dia melewati ketakutanNya, dan Roh yang sama sesungguhnya telah Ia berikan juga bagi kita.


Metode Yesus Menghadapi Rasa Takut

Matius 26:36-40, 42, 44-46 (TB)  
Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa."
Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, 
lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku."
Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?
Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"
Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga.
Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.
Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat."
Aku pergi ke sana untuk berdoa

Yesus pergi ke tempat sunyi untuk berdoa. Langkah pertamanya menghadapi rasa takut adalah [1] berdoa. Ketika kita terlalu dikuasai oleh rasa takut sehingga emosi kita meninggi dan marah, doa adalah hal yang paling tidak mungkin dilakukan. Ketika rasa takut menimbulkan perasaan tertekan dan sedih, kita sering berdoa namun doa kita sering tanpa iman dan pasrah begitu saja. Yesus memberi contoh bahwa respon pertama terhadap suatu masalah yang menimbulkan rasa takut haruslah "doa di tempat sunyi". Di manakah tempat yang sunyi itu? Tempat yang sunyi, Getsemani kita, adalah momen sejenak ketika kita memutuskan diri dari semua input indera yang dapat memberi tambahan tekanan kepada sistem saraf kita: mata yang melihat persoalan, telinga yang mendengar komentar negatif, kulit yang berkeringat dingin, dan setiap hal yang bisa menambah kecemasan. Hentikan semua itu sejenak dari sistem kita agar otak kita bisa fokus menaikkan doa yang benar. Tempat yang sunyi tidak selalu harus merupakan tempat khusus, dalam berdiri diam dan tenang kita sudah bisa berada di sana.

Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya

Yesus membawa sahabat-sahabatNya menemani. Hal yang kedua setelah doa adalah [2] melibatkan teman. Teman adalah orang yang kita sayangi, dan kita percaya mereka pun menyayangi kita. Tidak ada alasan persis mengapa kita dan teman kita bisa saling menyayangi, namun rasa sayang itu mampu memberi kita kekuatan dan dukungan secara moril. Dalam keadaan yang menakutkan, kehadiran teman sangatlah berharga. Teman yang seperti itu hanya bisa kita miliki jika kita pernah tulus menyayangi orang lain, sehingga rasa sayang dan percaya akan saling mengalir timbal balik memberi kekuatan.

lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih

Langkah Yesus selanjutnya adalah [3] membuka hati. Yesus tidak ragu menyatakan perasaannya yang gundah gulana. Sebagai Guru mereka Ia bisa saja merasa superior dan gengsi, tidak mau dianggap lemah oleh orang lain. Kita seringkali ragu berbagi perasaan dengan teman karena takut dicap lemah, takut menyusahkan orang lain, takut dicerca balik, takut dikhianati. Tapi Yesus mempercayai sahabatNya, dan Yesus tahu bahwa dengan melakukan ventilasi, ketegangan yang Ia rasakan dapat sedikit mereda, hanya dengan membuka hati kepada sahabat yang Ia percaya.

Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku

Ini hal yang sangat menarik. Yesus mengajak sahabat-sahabatNya terlibat dalam peperangan batinNya, ia dengan jelas mengatakan apa yang Ia rasakan, namun Ia juga [4] dengan spesifik mengatakan apa yang Dia harapkan dilakukan oleh teman-temanNya. Yesus meminta agar mereka "tinggal dan berjaga-jaga". Seringkali ketika kita "curhat" ke sahabat-sahabat kita, mereka dibuat bingung oleh kondisi kita, karena jika mereka memberi nasihat kadang kita terlalu galau untuk mendengarkan, namun jika mereka diam kita kecewa karena merasa kurang diperhatikan. Yesus memberi permintaan spesifik kepada sahabat-sahabatNya. Ia meminta mereka berjaga-jaga, yang dalam ayat lain dikaitkanNya dengan "berdoa". Yesus dengan jelas meminta mereka secara fisik hadir (tinggallah di sini) dan secara rohani menopang pelayananNya (berjaga-jagalah dengan Aku), dengan jelas Yesus mengutarakan permintaanNya kepada sahabatNya agar mereka tahu bagaimana harus membantu.

Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa

Yesus tidak cengeng, Ia mengajak sahabat-sahabatNya mendukung Dia, namun Yesus tahu masalah ini adalah masalahNya sendiri, dan hanya [5] Dia sendiri yang harus meminta pertolongan langsung dari Bapa di Sorga. Seringkali kita terjebak dalam dukungan sahabat, dan bantuan mereka justru menjadi bumerang yang mematikan kerohanian kita. Kita menganggap bahwa ketika kita melibatkan teman dan meminta mereka untuk menemani secara fisik dan mendoakan kita, itu sudah cukup. Kita lupa bahwa persoalan kita masing-masing merupakan cara Tuhan yang spesifik untuk mendidik kita, untuk dekat dengan kita secara pribadi. Dukungan teman bukanlah solusi utama, tapi hanya dengan sujud menghadap Tuhan secara pribadi, mengambil jarak dari sahabat dan menghadap langsung muka dengan muka dengan Tuhan, dari situlah terletak kekuatan kita.

Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, 

Yesus tahu kepada siapa Ia berdoa, dan Ia [6] memposisikan diri secara pantas kepada siapa Ia berdoa. Ia menyebut Tuhan sebagai Bapa-Nya. Sebagai seorang anak, kita dimungkinkan untuk mendekati bapa kita dan meminta. Permintaan seorang anak kepada bapanya adalah sesuatu yang wajar, namun pula harus dilakukan dengan sikap hormat, dengan menghargai otoritas seorang bapa yang berhak memutuskan apa yang dianggapnya baik bagi anaknya. Lebih-lebih lagi Bapa kita di Sorga. Saat kita menghadapi masalah, janganlah kita lupa kepada siapa kita berdoa, janganlah menganggap Tuhan seperti tiran yang kejam atau seperti jin botol Aladin yang akan mengabulkan apa saja. Posisikan diri secara benar saat menghadap hadiratNya.

biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki

Yesus [7] meminta dengan jelas apa yang Ia harapkan, namun dengan mengingat posisinya sebagai Anak yang berada di bawah otoritas Bapa. Ketika kita kuatir, sebutkan dengan jelas apa pokok kekuatiran kita. Meminta dengan jelas bukan berarti kita meminta sesuatu secara harafiah seperti mobil, hujan, uang sejumlah sekian, bukan. Meminta dengan jelas adalah dengan mengidentifikasi persoalan kita dengan jelas, karena solusi dari persoalan itu hanyalah milik Tuhan, karena itu Yesus berdoa, agar kehendak Bapa-lah yang jadi.

mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga

Adakalanya sahabat-sahabat kita sibuk pula dengan hidup dan persoalannya sendiri sehingga mereka lupa untuk mendoakan kita. Yesus tidak ragu untuk [8] mengingatkan teman-temanNya untuk terus mendukung Dia. Tidak ada salahnya kita kembali menceritakan perkembangan masalah kita dan kembali meminta agar sahabat-sahabat kita tetap mendukung dalam doa.

Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa

Yesus tidak putus asa dan [9] terus berdoa. Meskipun kita melihat bahwa orang lain tidak terlalu peduli dengan masalah kita, dan kadang kita merasa sendirian, kita tidak boleh berhenti berharap hanya kepada Tuhan dan terus berdoa.

Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!

Doa Yesus yang kedua dan sama pada kali ketiga telah mengandung makna [10] pemahaman dan tekad. Ketika kita berulang kali berdoa dan masalah kita tak juga kunjung selesai atau menghilang, Yesus memberi teladan untuk berdoa dengan mengucapkan dengan jelas pemahaman kita akan apa yang Tuhan izinkan untuk terjadi, dan dengan berani mengucapkan tekad kita untuk menghadapinya bersama dengan Tuhan. Frasa "jadilah kehendakMu!" bukanlah ucapan orang yang pasrah tak berdaya, tapi suatu seruan iman bahwa "dalam kedaulatan Tuhan kuserahkan masa depanku!"

Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa

Kali kedua Yesus kembali, murid-muridNya tertidur, namun [11] Ia tidak lagi membangunkan mereka saat pergi lagi untuk berdoa. Betapa sering kita merasa kecewa karena setelah beberapa kali dimintai dukungan, sahabat-sahabat kita tetap abai dengan kondisi kita atau tak berdaya melakukan yang kita harapkan. Yesus tidak kecewa, karena Ia tahu dengan kehadiran mereka di situ saja mereka sudah memberi topangan moral kepadaNya. Ia memahami natur dari manusia yang mudah berubah setia, namun itu tidak mengurangi sedikitpun rasa persahabatannya kepada mereka. Meski kita merasa kecewa jika sahabat kurang mendukung kita, namun mengucap syukurlah karena dengan merekapun masih menganggap diri sebagai sahabat kita, kita sungguh diberkati.

Tidurlah sekarang dan istirahatlah.

Setelah segala upaya dan doa telah maksimal dilakukan, tips Yesus yang luar biasa bagi kita yang cemas dan berbeban berat: [11] tidur dan beristirahat. Secara fisiologis tidur akan mengembalikan kekuatan kita, tidur akan menormalkan fungsi-fungsi otak, tidur akan memulihkan hormon dan neurotransmitter otak yang bermasalah.

Bangunlah, marilah kita pergi

Langkah terakhir Yesus adalah [12] bangun dan pergi. Setelah berdoa, meminta dukungan sahabat, beristirahat, saatnya untuk menghadapi persoalan dengan berani. Tidak lari dan tidak menyerang, tapi berjalan maju dengan Hikmat Tuhan dalam damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal.


Selamat merayakan hari raya Paskah.

Yesus sudah menang di atas kekuatiran, mari ambil bagian dalam kemenanganNya.


[IR 18042019]