Thursday, November 1, 2018

Menghormati Orangtua

Efesus 6:2-3 (TB)  Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. 

Ayat ini menegaskan bahwa menghormati ayah dan ibu adalah suatu "perintah yang penting". Di dalam perintah yg lain tidak ada janji, hanya di dalam perintah ke-5: Keluaran 20:12 (TB)  "Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu" ditemukan sebuah janji suatu upah dari ketaatan pada perintah tersebut.

Terkadang kita yang beranjak dewasa atau telah dewasa mulai  menyadari bahwa banyak sekali kekurangan orangtua kita, bahkan tindak tanduknya yang tidak sesuai dengan tuntunan Firman  Allah. Hal ini tidak semestinya menjadi alasan untuk tidak menghormati orangtua kita. Karena kita menghormati orangtua atas status mereka sebagai orangtua kita, orang-orang yang secara khusus dipilih oleh Allah untuk menghadirkan kita ke dunia. Kita bukan diwajibkan menghormati orangtua karena kualitas mereka sebagai orangtua, karena itu adalah bagian Allah untuk menilainya. 

"Respect our parents for their status as parents not by their parenting qualities."

Tuhan yg menetapkan kita menjadi anak dari orangtua kita, maka sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita utk melawan ketetapan Tuhan.

How to respect your parents?

1. Listen

Amsal 1:8 (TB)  Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu 

Amsal 4:1 (TB)  Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, 

2. Appreciate

Amsal 23:22 (TB)  Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua. 

Tidak ada orangtua yang sempurna, tapi kasih sayang orangtua selalu sempurna.

3. Hidup dalam kebenaran

3 Yohanes 1:3-4 (TB)  Sebab aku sangat bersukacita, ketika beberapa saudara datang dan memberi kesaksian tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran. Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran. 

Sunday, May 13, 2018

Ibadah

(Personal Resume dari Khotbah Pdt.Yakobus Tjanu,S.Si.,M.Si.; GMIH Eben Haezar Ternate, Kebaktian Pagi May 13th 2018)


Abodah (Ibr) = berasal dari kata dasar עָבַד - 'ABAD, 'mengabdi' --> ketundukan seorang budak
Latreia (Yun) = λατρεια - latreia berarti 'pengabdian', cinta yang mendalam


Ibadah itu tuntunan
Film bioskop itu tontonan
Jangan dibalik 😁


⭐4 manfaat ibadah⭐

1. Memberi pergaulan yang baik
1 Korintus 15:33 "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik."

2. Memelihara iman, memberi makanan rohani
Titus 1:1 "Dari Paulus, hamba Allah dan rasul Yesus Kristus untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah dan pengetahuan akan kebenaran seperti yang nampak dalam ibadah kita"

3. Memberi sukacita sejati dari rasa syukur
1 Timotius 6:6-8  "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.
Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.
Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah."

4. Memberi kedewasaan rohani
Yakobus 1:26 "Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya."


Ibadah yang dibenci Tuhan:

  1. Ibadah tanpa pengertian
  2. Ibadah tanpa pertobatan
  3. Ibadah sebagai topeng
  4. Ibadah dengan motivasi daging


Kisah Para Rasul 1:14 (TB)  "Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus."

Saat menantikan janji Tuhan untuk mencurahkan Roh Kudus, murid2 senantiasa berkumpul, bertekun sehati dalam doa. Saat menantikan kita dipanggil pulang ke surga, tetaplah setia beribadah.

================================

Sepulang gereja setelah mendengarkan khotbah ini, saya menuju late brunch tinutuan (bubur Manado) di sebuah warung makan di dekat Stadion Kie Raha. Sambil menunggu pesanan dibuat, saya mengeluarkan tab untuk mengetik resume khotbah untuk dibagikan. Televisi sedang menyala, dan ternyata media massa dipenuhi berita tentang pengeboman gereja-gereja di Surabaya. Berita resmi dari kepolisian saat itu pukul 11.00 WIT mengumumkan kepastian 3 gereja yang dibom dan 3 korban meninggal serta belasan luka-luka.
Hati saya bergejolak, sulit mendeskripsikannya dengan kata2... Sedih luar biasa namun juga terkagum dengan akurasi Firman Tuhan tentang persekusi terhadap umatNya di akhir zaman. Saya hanya bisa diam... Mencoba untuk menyelesaikan makanan di depan saya, berdoa agar umat Tuhan di Surabaya diberikan kekuatan untuk teguh dalam iman. Kemudian sy tersadar, di warung itu saya tidak sendiri. Ada seorang bapak di meja belakang saya yang memperhatikan berita dengan saksama. Namun ada pula satu keluarga di meja dekat pintu masuk, seorang bapak, istrinya, dan 2 anak laki-laki.
Naluri saya sebagai psikiater yang gemar mengamati dan membaca bahasa non verbal membuat saya diam-diam mengamati ekspresi mereka.
Bapak di belakang saya menunjukkan ekspresi keras, bahasa tubuhnya mengisyaratkan adanya pertentangan batin dalam dirinya mengenai makna dari peristiwa pengeboman tersebut. Wajar. Sangat wajar. Saya tidak akan membahasnya, karena jelas apa yang mungkin bergelora dalam pikirannya adalah sistem keyakinan baik itu mungkin terkait agama ataukah politik dalam konteks kemanusiaan.
Yang menarik perhatian saya justru adalah respon keluarga 4 orang tersebut. Semuanya tak peduli! Mereka makan dengan lahap, dalam diam, seolah-olah suara televisi tak mencapai meja mereka. Berulang kali saya melirik, dengan harapan ada sepercik respon mereka terhadap berita tersebut, namun tak ada. Saya terkejut. Heran. Sedih.
Apakah kematian dengan kekerasan telah begitu lazim di negara kita sehingga tak lagi mencetuskan reaksi normatif seorang manusia sosial ketika mengetahui ada peristiwa mengerikan yang terjadi di sekitar kita? Ataukah... --pikiran yang mengerikan merasuki otak saya--- ... benar-benar mereka yang di luar lingkaran sosial mereka nyawanya tak lebih berharga dari ayam yang disembelih untuk dimakan?
Segera saya berdoa mohon Tuhan mengampuni saya. Saya berdosa telah berpikiran buruk mengenai orang lain, dan terlebih dari itu saya memberi celah kepada iblis untuk menitipkan benih kepahitan dalam hati saya.

Saya kembali melihat ke tab yang masih menyala di tangan saya. Di sana jelas tertulis resume saya dari khotbah yang saya dengar tadi pagi. Dan bagian penutup yang saya tuliskan seperti membesar di hadapan saya, seolah-olah Yesus berbicara kepada saya melalui Roh-Nya... dan saya menitikkan air mata haru dalam diam...

"Kisah Para Rasul 1:14 (TB)  Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.
Saat menantikan janji Tuhan untuk mencurahkan Roh Kudus, murid2 senantiasa berkumpul, bertekun sehati dalam doa. Saat menantikan kita dipanggil pulang ke surga, tetaplah setia beribadah."

Saudaraku...
Marilah tetap setia beribadah... Nantikanlah Tuhan, nantikanlah Yerusalem Baru, nantikanlah Kerajaan Sorga tanpa ratap tangis dan air mata... dalam persekutuan dan ketaatan.

Tuhan Yesus memberkati.

----
In fervent prayer to us all warriors of the Gospel, keep strong!
Ternate, 13 Mei 2018

Tuesday, March 6, 2018

Word of God

Deuteronomy 4:7,11-12

"What other nation is so great as to have their gods near them the way the Lord our God is near us whenever we pray to him?
You came near and stood at the foot of the mountain while it blazed with fire to the very heavens, with black clouds and deep darkness. Then the Lord spoke to you out of the fire. You heard the sound of words but saw no form; there was only a voice."

Ponder...
Why is our Lord God is so near whenever we pray to Him? Because He reveals no form, but only the sound of WORDS.
We cannot have carved or moulded gods everywhere, but the sound of words are part of our lives. We have it since we were born and to the graves, we have it with our friends and within ourselves. We cannot see or touch words, but we know and live with it. Human made idols, but words are from God, we simply use it.

That's why the Lord God never wanted us to worship any man-made image of Him, because it will limit His omnipresence and divine manifestation. Jesus Christ is the WORD became flesh, and that's the only physical manifestation of God that necessarily to be done for the sake of our atonement.

John 1:14 "And the Word became flesh and lived among us, and we have seen his glory, the glory as of a father's only son, full of grace and truth."

But after the fulfilment of the prophecy, and men had seen the glory of the Father through His Son, He dwells among us forevermore in WORDS that's the manifestation of the Holy Spirit.

John 6:63 "It is the spirit that gives life; the flesh is useless. The words that I have spoken to you are spirit and life."
1 Corinthians 2:13 "And we speak of these things in words not taught by human wisdom but taught by the Spirit, interpreting spiritual things to those who are spiritual."

Praise God for His wonders! His Words are true and may we forever worship Him in His Truth.
- IR