Sunday, August 13, 2017

How to Live in Plurality

1 Korintus 9:19-23 (TB) 
Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.
Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.
Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.
Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.
Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.

Menjadi seperti ---> Berarti tidak menghakimi mereka, tidak risih untuk duduk/bergaul dengan mereka, berusaha memahami mereka menurut pandangan Kristus

Siapa mereka?
1 Korintus 9:20-22 (TB) 
1. menjadi seperti orang Yahudi
--> satu bangsa/warganegara; Paulus adalah seorang Yahudi, tapi ia tidak menganggap lagi silsilah kebangsaan dan hak kewarganegaraannya di dunia tersebut sebagai hal yang berarti, Paulus telah menjadi warga Kerajaan Sorga
2. menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat
--> satu pandangan; Paulus menghafal dan menjalankan hukum Taurat lebih dari siapapun, tapi ia tidak lagi mengelompokkan dirinya sebagai orang yang hidup di bawah hukum Taurat
3. menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat
--> sesama manusia yang memiliki pandangan lain; Paulus memandang semua manusia adalah sama naturnya dengan dirinya, sama2 berdosa dan kehilangan kemuliaan sebagai ciptaan Allah yang paling mulia, tapi ia yakin bahwa ia tidak lagi termasuk dalam golongan orang yang dimurkai Tuhan oleh karena kuasa darah Kristus
4. menjadi seperti orang yang lemah
--> sesama pengikut Kristus; Paulus mengidentifikasi kelemahan dalam diri semua pengikut Kristus, karena roh memang penurut tapi daging lemah, namun Paulus tidak lagi menjadi orang yang lemah karena ia memahami bahwa di dalam kelemahanlah Kuasa Kristus menjadi nyata dan ia menjadi kuat di dalamnya.

Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka --> Paulus mengidentifikasikan dirinya dengan berbagai jenis kelompok manusia, ia bisa menerima keragaman itu dan bersedia hidup di tengah2 mereka.

Bagaimana caranya?
1 Korintus 9:20-21 (TB) 
"aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, ... karena aku hidup di bawah hukum Kristus"

Paulus berbeda meski ia mau "menjadi seperti". Ia tidak berdosa meski berada di tengah2 kaum berdosa.

Mengapa?

Karena ia hidup di bawah hukum Kristus.

Dan hukum Kristus adalah:
Matius 22:37-40 (TB)  Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Apa tujuan hidup Paulus di tengah2 pluralitas dunia?

1 Korintus 9:22-23 (TB)
supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.  ... Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.

Fokus hidup Paulus jelas, segala sesuatu dilakukan demi kemuliaan nama Tuhan. Pekabaran injil tidak bertujuan untuk menyeragamkan orang (conformity) tapi memperbaharui orang (reformity) dalam segala keragamannya (plurality).

#personalSundayReflection
#toGodbetheGlory

Tuesday, October 25, 2016

Merespon Jawaban Doa

Kita sering berdoa kepada Tuhan meminta Dia membuka jalan bagi sesuatu yang kita inginkan. Tapi ketika Tuhan akhirnya menjawab doa kita, seringkali kita tidak siap untuk menanggapinya dengan tindakan, apakah karena kurangnya keterampilan atau bahkan yang lebih buruk, karena kemalasan kita memupuk khayalan semu bahwa Allah selalu menjawab doa-doa secara instan dengan suatu keajaiban mujizat sehingga gagal untuk mengenali bahwa jawaban doa kita telah dibentangkanNya tepat di depan mata kita untuk kita meraihnya.

Sering kita berdoa untuk kesuksesan, namun mengabaikan ketika peluang itu datang atau kita tidak mampu melakukan tantangan dari peluang untuk sukses semata-mata karena kita malas memotivasi dan mengasah ketrampilan diri.

Kita berdoa untuk pemulihan kesehatan, namun menyerah pada tantangan mengubah pola hidup dan mengabaikan bantuan profesional medis yang Tuhan kirimkan untuk membantu kita.

Kita berdoa untuk dipakai Tuhan membawa jiwa-jiwa, namun tidak sanggup mempertanggungjawabkan iman di depan orang yang menuntut jawab dan haus akan kebenaran, bahkan melemparkan tanggungjawab pekabaran injil pada Tuhan yang tidak membuat perkara ajaib untuk mempermudah kesaksian kita.

Kita berdoa bagi keselamatan bangsa dan negara kita namun bersikap tertutup bahkan bermusuhan dengan mereka yang menuntut kesaksian iman kita dalam hidup bernegara terutama saat kita diberi Tuhan kesempatan untuk menunjukkannya di tengah-tengah kekacauan politik dan ketidakstabilan sosial, kita menolak menjadi injil yang terbuka dan dengan bebal menunggu Allah turun tangan langsung menjaga kedamaian bangsa kita.

Syafaat dan doa-doa kita sedang dijawab olehNya, adakah kita menyadarinya? Mampukah kita meresponinya?

IR, 26102016

Saturday, September 10, 2016

Berburu Mujizat

Lukas 4:25-27 (TB)  Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu."

What?? Sangat mengejutkan! Mengapa bukan perempuan janda Israel yang ditolong Elia pada saat bencana kekeringan? Mengapa tidak ada orang kusta di Israel yang disembuhkan nabi Elisa?

Allah melakukan pendekatan berbeda terhadap orang-orang yang ingin dipanggilNya. Mujizat diperlukan oleh orang-orang yang belum mengenal Tuhan untuk mengakui ke-Tuhanannya. Perlu hal yang di luar kemampuan manusia fana untuk membuka mata orang akan kebenaran dan menerimanya, bertekuk lutut dan mengaku kebesaranNya.
Bagi umat pilihan yang sejak kecil telah menerima pengajaran dan kisah kebesaran Tuhan yang telah menyelamatkan nenek moyang mereka dari penindasan dengan kuasa mujizat yang besar, Allah menunjukkan "mujizat" dalam pemeliharaan dan jaminan akan kasih dan kesetiaanNya yang tak akan berkesudahan. Orang-orang yang sudah hidup dalam pemeliharaan Tuhan tidak perlu berburu mujizat kemana-mana. Allah akan menyediakan kesembuhan ketika Dia berkenan memberikannya dan kita hidup setia dalam iman dan pengharapan di dalam ke-Maha Baik-anNya.