Saturday, August 29, 2015

Hidup Anak Tuhan

Hidup anak-anak Tuhan bukan hanya sekedar lahir ke dunia, menjalani hari demi hari, kemudian mati dan selesai. Allah menciptakan manusia sedemikian sempurna untuk menjadi milik-Nya, hidup di hadapan-Nya. Ketika kita jatuh di dalam dosa kita kehilangan jati diri kita. Sepanjang sejarah kita mencatat pencarian umat manusia terhadap jati diri "kemanusiaan" kita: dari mana kita datang dan kemana kita akan pergi? Namun orang-orang yang mencari jawabannya di luar Tuhan, takkan pernah menemukannya. Akibatnya hidup bagi mereka hanya sekedar rutinitas saja. Tanpa makna, tanpa tujuan.

Namun orang yang telah ditebus oleh darah Kristus, telah dilepaskan dari kekacauan dosa. Hidup kita kembali terorganisir. Kita tahu dari mana kita datang dan kemana kita akan pergi, sehingga hari-hari hidup kita memiliki arti.

Raja Daud merumuskan pedoman organisasi hidup seorang yang hidup bersama Tuhan dalam sebuah mazmur yang indah:

Mazmur 84:2, 5-7 (TB) (84-3) Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. (84-6) Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! (84-7) Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. (84-8) Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion.

Visi (ay. 3): Merindukan pelataran Tuhan
Misi (ay.6): Mengadakan ziarah
Motivasi (ay.6): Kekuatan di dalam Tuhan
Indikator (ay.7-8):
1. Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air
2. Hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat
3. Mereka berjalan makin lama makin kuat

Saturday, December 20, 2014

Damai Yang Sejati

"Kristus datang ke dunia nyata, ke kota di mana tak ada tempat bagi-Nya, dan ke negeri di mana Herodes, pembunuh orang-orang tak berdosa, menjadi raja. Dia datang kepada kita, bukan untuk melindungi kita dari kekejaman dunia, melainkan untuk memberikan kepada kita keberanian dan kekuatan untuk menanggungnya. Bukan untuk, dengan ajaib, merenggut kita dari konflik kehidupan sehari-hari, melainkan untuk memberi kita rasa damai -- damai-Nya -- di dalam hati kita. Dengan demikian, kita dapat tetap tenang dan tabah pada saat konflik sedang merajalela, dan kita dapat membawa kesembuhan, yaitu kedamaian, bagi dunia yang tercabik." 

Ketika Maria dan Yusuf menyerahkan bayi Yesus kepada Tuhan, Simeon berkata kepada mereka: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan --, dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri --, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang" (Lukas 2:34,35). 

Natal bukan dimaksudkan untuk menjauhkan kita dari kenyataan hidup, melainkan untuk masuk ke dalamnya bersama Sang Raja Damai --DCM (RH)


Saturday, April 26, 2014

The Thing About Parents

Kita adalah produk orangtua kita yang telah digerus dan dipahat oleh lingkungan tempat kita tumbuh dan berkarya. Demikian pula orangtua kita, merupakan kulminasi warisan orangtuanya dan respon terhadap lingkungan.

Ketika masih kanak, orangtua bagaikan dewa2 kecil bagi kita: mahakuasa, mahakasih, mahaadil bagi mata dan otak mungil kita.
Tatkala kita dewasa dan menatap mereka dari ketinggian yang sama, siapakah yang kita lihat disana? Bukankah manusia yang sama yang kita temukan pula dalam diri kita, bukan seseorang yang maha segalanya? Penuh derita dan kepahitan yang telah kita rasakan pula? Sumber gembiranya pun sama dengan yang kita punya.

Jika seseorang menilai Anda berdasar apa yang mereka temukan pada orangtua Anda, maka mereka lupa bahwa kita hanya meminjam rahim bunda, dan bahwa hidup kita di dunia merupakan tanggung jawab masing2 persona dan bukan akibat genetika. Karena itulah esensi menjadi manusia: kita diberi kehendak bebas untuk menentukan pilihan.
Semuanya merupakan pilihan. Tidak ada yang terjadi tanpa Anda berpartisipasi di dalamnya, baik aktif maupun pasif. Karena, hey..., menjadi pasif dan ditundukkan oleh ketakberdayaan pun merupakan sebuah pilihan.
Terlepas dari apa, siapa, dan bagaimana orangtua kita, kita punya pilihan2 untuk menjalani hidup ini sebagaimana Allah menentukan kita. Tujuan hidup kita telah ditetapkan Tuhan, tapi jalan untuk mencapainya penuh persimpangan yang butuh keterlibatan kita dalam pengambilan keputusan.

Berterimakasihlah kepada orangtua, karena secara langsung maupun tidak langsung, sadar atau tidak sadar, telah mengajar kita hidup sebagai manusia.

Terima kasih orangtuaku, karena melalui teladan kekuatan kalian dan pelajaran dari kelemahan kalian, saya ada, dan mampu menerima kemanusiaan saya. Kalian mungkin bukan orang yang sempurna, tapi kalian orangtua yang sempurna untuk saya dalam ketidaksempurnaan kalian. Karena Tuhan tahu apa yang saya butuhkan dan Dia memberikan yang terbaik bagi saya.

God bless you, mom and dad.

Amsal 1:8-9,4:1-2 "Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu, sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu. Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu; janganlah meninggalkan petunjukku."