Wednesday, October 29, 2008

Welcome Our Baby Boy!

Chrysopras Tecza Elijah Rompas, lahir di Manado 29 Okt 2008 jam 04.22. BBL 3200 gram, PBL 49 cm. All praise be unto God!

Sunday, October 26, 2008

PERSONAL REVIEW ON “HIS DARK MATERIAL” TRILOGY

“Suatu upaya yang menyedihkan untuk meniadakan TUHAN.”
Suatu sensasi yang menegangkan akan menjalari tengkuk dan mengaduk-aduk nalar ketika membaca lembar-lembar awal The Golden Compass, buku yang mengawali trilogi ini. Bagaimana tidak? Ternyata hati nurani—jiwa—yang diperdebatkan oleh ribuan cendekiawan sepanjang masa di seluruh dunia adalah sesuatu yang nyata, bahkan sesuatu yang fisik di dunia Lyra. Semua istilah, penamaan, dan analogi dilahirkan dari pemikiran yang mendalam akan tujuan atau kesan yang ingin dicapai oleh pengarangnya.

Saya terutama merasa tertantang dengan ide brilian yang ditawarkan Phillip Pullman melalui penggambaran kondisi ‘manusia’ di dunia Lyra dan Pantalaimon. Lyra dan Pantalaimon adalah satu ‘manusia’ dengan dua eksistensi. Lyra adalah tubuh fisik manusia, dan Pantalaimon adalah jiwanya. Bayangkan bagaimana menggembirakannya dapat bercakap-cakap sambil bertatap muka dengan jiwamu! It’s all poets’ wildest dreams come true!

Dengan jenius Pullman menggambarkan bagaimana daemon—jiwa—seseorang mengambil wujud hewan yang menyerupai sifat manusianya, bagaimana wujud daemon anak-anak dapat berubah-ubah dan daemon orang dewasa telah mengambil wujud yang tetap, bagaimana tubuh dan jiwa akan saling merindukan dengan kerinduan yang hebat bila terentang oleh jarak, dan bagaimana tubuh tanpa jiwa—yang diceritakannya dengan sangat baik melalui analogi ‘pemotongan’ ikatan tak terlihat antara manusia dengan daemonnya—akan menjadi makhluk kosong tanpa motivasi yang hampir-hampir dapat disebut gila.

Itu barulah permulaannya. Dalam buku bagian pertama kita diantar melihat dari dekat dunia Lyra, dunia yang tidak pernah kita kenal, dan dipaksa untuk melihat di dalamnya banyak kemiripan dengan dunia yang kita tinggali ini. Namun disini saya harus mengatakan, kemiripannya menyimpang! Di dunia Lyra dan Pantalaimon, segala sendi kehidupan manusianya diatur dengan ketat oleh gereja. Bahkan cabang-cabang sainsnya pun dinamai dengan istilah ‘gerejawi’, misalnya saja ilmu ‘teologia percobaan’. Cabang teologia percobaan inilah yang kemudian meneliti sesuatu yang dianggap tabu oleh ‘gereja’ dan menjadi pusat segala kejadian yang berlangsung di sepanjang ketiga buku ini, sesuatu yang disebut sebagai ‘debu’.

Buku pertama saya tutup dengan puas, meskipun sedikit terusik dengan ide evil church-nya Pullman, dengan menyimpan rasa penasaran akan misteri yang dititipkan oleh penulis akan petualangan Lyra dan Pantalaimon selanjutnya ketika mereka memutuskan akan memasuki dunia lain yang dibuka oleh ayahnya, Lord Asriel. Di akhir buku satu, saya menyempatkan diri untuk merenungkan tentang ‘debu’ yang diajukan oleh Pullman. Menurut penuturan Lord Asriel, ‘debu’ adalah partikel dasar jenis baru yang diteliti oleh Rusakov yang banyak menempel pada orang dewasa namun sangat sedikit pada anak-anak. Rusakov kemudian membuat ‘gereja’ sangat ketakutan dengan penelitiannya dan melakukan upacara pengusiran setan terhadapnya. ‘Debu’ menurut Lord Asriel adalah bukti fisik dosa asal, bahwa menurut ‘alkitab’ versi dunia Lyra ketika Hawa memakan buah pohon di tengah-tengah taman, mereka melihat bentuk sejati daemon mereka, bahwa ketika Tuhan berkata pada Adam ia akan kembali menjadi debu yang dimaksud sesungguhnya adalah bahwa debu akan menguasainya dan bahwa secara tidak langsung Tuhan mengakui sendiri bahwa sifatNya sebagian mengandung dosa—yang mana saya rasa awal dari istilah His Dark Material atau Materi GelapNya. Inilah yang saya maksud dengan kemiripan yang menyimpang! Pullman melakukan analogi dengan menyimpangkannya menurut pemahamannya yang disini mulai saya lihat skeptis—kalau tidak bisa disebut membenci—terhadap gereja yang sejati.

Ketika membaca The Subtle Knife, ke-absurd-an ide anti gereja Pullman makin membengkak, dan meledak menjadi ide anti eksistensi Tuhan pada momen kematian Tuhan—yang disebutnya sebagai Otoritas—dan kroni-kroninya dalam buku ketiga, The Amber Spyglass. Anti klimaks kekonyolan ateistik ini mencapai simpulannya pada saat Lyra, yang ternyata merupakan Hawa kedua, kembali ‘jatuh dalam dosa’ ketika jatuh cinta pada Roger dan melewati masa akil baliq sehingga Pantalaimon secara tetap mengambil wujud burung, simbol kebebasan.

Upaya Pullman lewat trilogi ini untuk membunuh Tuhan yang tidak dipercayainya sepintas tampak berhasil. Idenya bahwa ‘kalaupun Tuhan ada Ia pasti telah sangat uzur sehingga tidak lagi mampu mengurusi dunia’ adalah ide tipikal kaum ateis. Tokoh Mary Malone, si ‘ular’ yang menggoda Lyra dengan kisah tentang daya tarik seksual, seorang ilmuwan dari dunia kita yang adalah seorang mantan biarawati, mengungkapkan buah pikiran Pullman tentang Tuhan yang berhenti dipercayainya namun hidupnya tetap bertujuan karena adanya ‘debu’. Di akhir trilogi ini tersingkap ide yang disamar-samarkan Pullman bahwa kemanusiaan itu ada karena ‘debu’, ‘debu’ itu seks. Adam dan Hawa tidak menyadari mereka telanjang sampai mereka memakan buah pohon pengetahuan baik dan buruk, ketelanjangan yang dipahami Pullman sebagai kesadaran akan adanya daya tarik seksual—hal yang tidak dimiliki oleh anak-anak namun sangat banyak melekat pada orang dewasa, ‘debu’.

Sayangnya ide-ide sesat ini terbungkus dengan manis oleh gula-gula petualangan yang seru dan permainan kata-kata yang menjungkirbalikkan fakta kekristenan, sehingga oleh pihak yang entah sengaja atau karena ketidaktahuannya mengkategorikan edisi terjemahan bahasa Indonesia sebagai Novel Remaja! Bayangkan kerusakan yang akan ditimbulkan apabila novel ini dibaca oleh remaja kristen, yang bahkan saya rasa orang dewasa yang masih remaja rohani-pun akan sedikit goyah oleh ide-ide menyimpang Pullman. Buku ini justru dapat menimbulkan kerusakan yang lebih besar dibandingkan dengan yang dapat ataupun telah ditimbulkan oleh The Da Vinci Code milik Dan Brown, sebab Dan Brown memaksakan ‘fakta’ yang dapat diuji melalui pembuktian ilmiah dan penggalian fakta, namun Pullman menyajikan fiksi yang melambungkan imaji pembaca ke tingkat yang tidak dapat diuji melalui pembuktian ilmiah, hanya dengan nurani.

Awaskah kita menghadapi penyusup-penyusup iman yang halus seperti ini?

ORGANISASI DIRI

What ?
Organisasi adalah "pengaturan" (Ing. "to organize" = mengatur, menyusun)

Why ?
Pengaturan itu penting. Take example from how God works :

KETERATURAN
Ketika Allah menciptakan langit dan bumi, bumi masih belum berbentuk dan kosong, dan Allah memulai “proyek” raksasa untuk mengatur bumi. Allah memisahkan terang dari gelap, Ia menempatkan cakrawala di atas bumi, Ia membuat daratan dan lautan. Kemudian Ia menciptakan benda-benda penerang yang dengan keteraturan yang sempurna menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap (Kej 1:14).Allah menyukai keteraturan! Kita dapat menelusuri seluruh kitab perjanjian lama dan baru, dan kita akan menemukan betapa teratur, rapih, dan tertibnya Allah kita bekerja. Allah kita adalah Arsitek Agung. Ibrani 3:4 berkata “Sebab setiap rumah dibangun oleh seorang ahli bangunan, tetapi ahli bangunan segala sesuatu ialah Allah”. Dialah yang telah mengatur segala sesuatu dengan sempurna dan tepat. Tubuh kita adalah Bait Allah. Maka bila kita ingin diri kita dibangun menjadi sempurna oleh Dia, maka kita harus bekerja sama dengan Dia, Sang Arsitek Agung, dalam ritme keteraturanNya, sebab Allah menginginkan agar dalam tubuh yang dibangunNya terdapat keteraturan. Efesus 2:21 berkata “Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan”. Kita dapat menyenangkan hati Allah yang menyukai keteraturan dengan mengatur hidup kita sesuai dengan kehendak Allah.

SCHEDULING
Allah tidak segera mengirimkan Yesus Kristus untuk menebus manusia setelah dilihatnya bahwa bumi penuh dengan kejahatan (Kejadian 6), mengapa? Karena Allah punya RENCANA. Allah menyusun schedule yang tepat. Yesus Kristus lahir untuk membawa penebusan pada waktu yang tepat. Tepat secara Sosial, Budaya, dan Politik. Ia lahir setelah mind revolution oleh para filsuf yang membuat manusia saat itu telah lebih siap dan terbuka dengan gaya hidup yang menelaah segala sesuatu. Ia lahir saat bahasa Yunani digunakan sebagai bahasa pengantar di seluruh dunia. Ia lahir ketika dunia bersatu di bawah pemerintahan Romawi yang memudahkanNya dalam hal transportasi dalam pelayananNya. Semua kepingan jatuh di tempat yang tepat, karena Allah membuat perencanaan dengan melakukan hal yang tepat pada saat yang tepat.Dalam organisasi diri, kita perlu melakukan hal yang tepat pada saat yang tepat pula seperti Allah. Tapi terkadang kita tidak tahu hal mana yang tepat untuk dilakukan kapan, maka dalam melakukan scheduling, kita perlu mencari kehendak Allah, agar rencana kita dapat sinkron dengan rencana Allah bagi kita. Yesaya 55:8-9 "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu."

How ?
Agar sebuah pengorganisasian berjalan dengan baik, yang terutama dibutuhkan adalah VISI, MISI, dan MOTIVASI. Masing-masing kita perlu menetapkan VMM pribadi. Hal ini tidak mudah dilakukan. Hanya dengan pertolongan Tuhan baru kita bisa sungguh-sungguh menemukan apa sebenarnya maksud Tuhan memungkinkan kita menjalani hidup ini. Visi adalah apa yang kita harapkan untuk kita wujudkan dalam hidup ini. Visi adalah impian, cita-cita, kerinduan, panggilan. Visi adalah apa yang kita lihat sebagai wallpaper maya ketika kita melihat orang sakit, teman-teman, dosen, orang-orang yang tidak kita kenal. Visi menjadi dasar bagi kita dalam menetapkan Misi hidup ini. Misi untuk membawa kemuliaan bagi nama Tuhan lewat hal spesifik yang kita tahu Tuhan bebankan bagi kita. Misi membawa kita menyusun poin-poin tindakan yang harus kita kerjakan dan tidak boleh lalukan. Dalam Misi kita menerapkan prinsip keteraturan dan scheduling dalam mengatur kerja dan tanggung jawab sehari-hari. Dan kita butuh Motivasi iman yang tepat untuk menjalankan semuanya itu.

So, perlukah kita berorganisasi? Perlu! Terutama dengan organisasi kecil : ORGANISASI DIRI.