Sunday, February 9, 2014

Sahabat Sejati, Siapakah Yang Memilikinya?

At times of turmoils we can see who really are true friends and who are the ones that always ready to spit and mock with accusation if they found the reason to.

Hidup hanya sementara. Pemerintah bangsa2 datang dan pergi bagai debu tertiup angin. Tapi Pemerintahan Tuhan kekal selama2nya. Bagi mereka yang berlindung di balik harta dan kekuasaan dunia, akan ada masanya semuanya tak akan lagi punya arti.
Cinta, persahabatan, dan kesetiaan, bukanlah jargon tanpa makna yang secara dungu membutakan nalar, namun hubungan yang terjalin atas dasar PERCAYA harus dibangun di atas pemahaman dan pemakluman. Jika kasih memicu keraguan, maka tanyakanlah hatimu benarkah kasih yang ada dalam hati dan bukan sekedar kebutuhan akan hubungan mutualisma.
Jika harta dan peristiwa mengubah pandanganmu akan seseorang, cobalah untuk kembali telanjang sebagaimana kita dihantar masuk ke dalam dunia. Tanpa apa2, tanpa sesiapa, tanpa prasangka.... Sebab dengan cara demikianlah pula kita akan meninggalkan kefanaan ini. Kita semua kaum papa di hadapanNya, telah kehilangan kemulian Allah, maka tak ada alasan yang cukup bagi kita untuk menunjuk pada sesama dengan curiga. Tidak ada apapun pada kita yang dapat kita klaim sebagai "Aku punya", baik itu kerja, materi, keluarga, bahkan waktu yang demikian berharga.

Semoga Tuhan mengampuni kita atas pikiran tamak kita yang penuh dosa.

Wednesday, February 5, 2014

milikMU

Bahagia
tak seindah lara yang tertahankan akibat cinta dari sesama
Bulir air mata lega
karena membuncah rasa berharga
sangat manis terasa terkecap di jiwa

Allah tak menjauhkan kita dari duka
malah diberikannya senantiasa
bahkan sesekali bencana dan petaka
Karena Dia ingin kita terus mendamba kehadiranNya
dan tak menafikan bahwa dia Sang ADA

Terima kasih ya Allah
Atas bulir-bulir air mata
Tanda aku manusia yang berharga
dalam rancanganMu yang semesta

Maha Besar Engkau
Maha Suci Engkau
Maha Kasih Engkau

Aku
Kau punya

Selamanya

Sunday, February 2, 2014

Iman Dalam Perpuluhan

Yohanes 6:9-11  "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?"
Kata Yesus: "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya.
Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.

Masalah perpuluhan selalu menjadi pergumulan buat saya. Namun kisah lama yang demikian seringnya kita ulang baca dan ceritakan tentang seorang anak yang merelakan bekal makan siangnya untuk Yesus pakai memberi makan lebih dari 5000 orang, ternyata hari ini mampu menohok ulu hati saya dan membuat saya malu...

Bagaimana mungkin seorang anak dalam kepolosannya dan iman yang sederhana mampu mempercayakan MAKANANnya (we're not talking about money here..! Uang memang penting, namun uang hanya sarana. Food is essential, without food we cannot live). Bahkan SELURUH bekal makan siangnya, tanpa mempertimbangkan sedikitpun risiko bahwa jika Yesus ini, Orang yang dia percayai untuk MENGELOLA makanannya demi membantu org banyak, mungkin saja tidak sanggup berbuat apa2 dengan makanan itu dan hanya akan memakannya sendiri, dan anak itu ditinggal dalam keadaan kelaparan seperti 5000 orang lainnya!
Jika anak itu sedikit saja memiliki sifat yang egois, dia pasti akan berpikir demikian. Karena toh dia pasti akan makan, salah sendiri orang2 banyak itu mengikut Yesus tanpa membawa bekal! Tapi anak itu.... MEMBERI SEMUANYA.

Betapa sering saya, dalam pemikiran manusiawi yang materialistis, mencemaskan apa yang akan saya makan jika saya memberikan sepersepuluh saja dari yang "sedikit" yang Tuhan berikan... Saya mencemaskan betapa makin sedikitnya yang tersisa dan harus saya kelola untuk kebutuhan hidup sehari2 yang pas2an saja.
Disitulah saya salah membuat konsep!
Konsep iman anak kecil itu membuka mata rohani saya yang buta oleh egoisme! Sikap hati yang benar bukanlah memberi sedikit pada Tuhan dan mengelola yang "kita punya", tapi memberikan apa yang "Dia punya" dan mempercayaiNya mengelola sisanya.
Duaratus limapuluhribu dari 2,5 juta bagi sebagian orang nilainya kecil, 700ribu dari 7 juta mungkin masih kecil pula, tapi sebagian besar orang akan merasa berat mengisi kantong perpuluhan dengan 1juta setiap bulannya karena mereka tidak memandang 9juta yang masih Tuhan percayakan untuk Dia kelola dan mencukupkan kebutuhan kita lebih dari yang kita bayangkan!

Dalam masa penuh bencana ini saya mendapat perspektif baru, adakah dengan memberikan segala yang saya punya untuk membantu saudara yang menderita Tuhan akan melipatkaligandakan apa yang saya berikan dan tetap mencukupkan kebutuhan saya pula?
Saya yakin demikian. Jika Dia sanggup melakukannya dulu hanya dengan 5 roti dan 2 ikan (segalanya yang dimiliki anak itu), maka mujizatNya pasti masih berlaku kini dengan uang yang "sedikit" yang saya miliki. Karena Dia tak berubah, dahulu, sekarang, sampai selama-lamanya.