Tuesday, August 9, 2011

Key to A Full Life

Kolose 1:4  karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus,
Kolose 1:9-12  Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang.




Setelah memiliki iman, what's important next to live as christians?


menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna




WHY?




1. Agar "hidupmu layak di hadapan-Nya" (10)


2. Agar "berkenan kepada-Nya dalam segala hal" (10)


3. Agar dapat "memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik" (10)


4. Agar terus "bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah" (10)


5. Agar olehnya kita dapat "dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar" (11)


6. Agar kita mampu senantiasa dalam segala hal dan dalam segala situasi "mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa" (12)···· why? Because Bapa telah "melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang"




Hallelujah!!! Praise the Lord!!!


I'm sooooooo loved

Thursday, April 7, 2011

(menoleh)

Tigapuluhdua tahun. Belum melakukan apapun untuk membalas kebaikan Tuhan. Jika hati tidak merasa damai sejahtera berada di sini, apakah menjadi indikator untuk pack up my bags and leave? Ataukah ini salah satu dari seribu wajah tantangan yang mesti dihadapi?

Pengaturan Tuhan sungguh sempurna. His punctuality is perfect as perfect as HIS Divine Existance. Namun menahankan diri untuk tidak menanyakan yang tak tersingkapkan di saat jiwa dan raga tengah kelelahan diterpa badai, sungguh makin menguras daya. Kakiku makin berat melangkah, hatiku makin berat menerima, telingaku makin tuli, mataku makin buta, tanganku tak mengerjakan apa yang ada di dalamnya untuk kurajut, terbungkuk lemas aku berjalan di tengah kebun anggur...
Aku butuh Engkau Tuhan... SuaraMu kudengar sayup, hangatMu semakin redup. Aku ingin bersimpuh di kakiMu, Bapa, mendengar lantang suaraMu, meleleh dalam dekapMu. Aku anakMu, ingin dimanja....

Sekuat inikah aku Bapa hingga Kau mengizinkanku hidup di dunia seperti ini? Dunia yang bukan diriku, tempat aku tidak bisa menyatakanMu dengan apa yang Kau taruh dalam diriku? Engkau yang menilaiku ya Kekasih Jiwaku, betapa rindu aku melayaniMu. Bukan pengakuan dunia ini yang kuinginkan, pengakuan dunia terhadapMu yang kudambakan lewat kesaksianku. Tapi ketidakmampuanku menjalani hidupku kerap membuat mereka mencemoohMu Yesus....! Tak sanggup aku menahankan!

Aku ingin melihat wajah-wajah yang diberkati, jiwa-jiwa yang dilengkapi, tangan-tangan yang memuji, dan hati yang mengakui kebesaranMu! Jika masih panjang jalanku, akankah itu menjadi bagian pelayananku kelak? Ataukah dengan menahankan perih ini akan berbuah menjadi hormatMu?


Selidiki aku Bapa. Hancurkan aku lebih lagi apabila Kau mendapati kesombongan itu masih berakar dalam hatiku. Remukkan aku bila bejana ini rusak oleh egoku. Murnikan aku dalam apiMu. Jadikan aku baru, Bapa. Dan pakailah aku jadi alat yang berguna di RumahMu, tempat yang kutuju...


(rindu RumahMu... 07042011)

Thursday, March 17, 2011

Keep Me From Wrath

From:
Our Daily Bread
March 18, 2011
by David H. Roper

Read: Psalm 37:8-11

Cease from anger, and forsake wrath. —Psalm 37:8

I have a friend whose note cards are imprinted with a picture of Rodin’s The Thinker, the famous sculpture depicting a man in sober reflection. Below the picture is this inscription: “Life is not fair.”
Indeed, it is not. And any theory that insists that this life is fair is illusory and deceptive.
Despite the overwhelming unfairness of life, however, David in Psalm 37 prays that he will not retaliate but will instead rest in the Lord and wait patiently for Him to bring justice to the earth in due time (v.7). “For evildoers shall be cut off; but those who wait on the Lord, they shall inherit the earth” (v.9).
Our wrath tends to be vindictive and punitive. God’s wrath is untainted by self-interest and tempered by mercy. His wrath can even be His relentless love that brings our antagonists to repentance and faith. We must not then avenge ourselves, “for it is written, ‘Vengeance is Mine, I will repay,’ says the Lord . . . . Do not be overcome by evil, but overcome evil with good” (Rom. 12:19,21).
This must begin in the heart, the wellspring from which the issues of our lives flow. May we cease from anger, forsake wrath, and wait patiently for the Lord.

Lord, help me not retaliate
When someone wants to pick a fight;
Instead, give me the strength and faith
To show Your love and do what’s right. —Sper
Revenge restrained is a victory gained.