Thursday, April 7, 2011

(menoleh)

Tigapuluhdua tahun. Belum melakukan apapun untuk membalas kebaikan Tuhan. Jika hati tidak merasa damai sejahtera berada di sini, apakah menjadi indikator untuk pack up my bags and leave? Ataukah ini salah satu dari seribu wajah tantangan yang mesti dihadapi?

Pengaturan Tuhan sungguh sempurna. His punctuality is perfect as perfect as HIS Divine Existance. Namun menahankan diri untuk tidak menanyakan yang tak tersingkapkan di saat jiwa dan raga tengah kelelahan diterpa badai, sungguh makin menguras daya. Kakiku makin berat melangkah, hatiku makin berat menerima, telingaku makin tuli, mataku makin buta, tanganku tak mengerjakan apa yang ada di dalamnya untuk kurajut, terbungkuk lemas aku berjalan di tengah kebun anggur...
Aku butuh Engkau Tuhan... SuaraMu kudengar sayup, hangatMu semakin redup. Aku ingin bersimpuh di kakiMu, Bapa, mendengar lantang suaraMu, meleleh dalam dekapMu. Aku anakMu, ingin dimanja....

Sekuat inikah aku Bapa hingga Kau mengizinkanku hidup di dunia seperti ini? Dunia yang bukan diriku, tempat aku tidak bisa menyatakanMu dengan apa yang Kau taruh dalam diriku? Engkau yang menilaiku ya Kekasih Jiwaku, betapa rindu aku melayaniMu. Bukan pengakuan dunia ini yang kuinginkan, pengakuan dunia terhadapMu yang kudambakan lewat kesaksianku. Tapi ketidakmampuanku menjalani hidupku kerap membuat mereka mencemoohMu Yesus....! Tak sanggup aku menahankan!

Aku ingin melihat wajah-wajah yang diberkati, jiwa-jiwa yang dilengkapi, tangan-tangan yang memuji, dan hati yang mengakui kebesaranMu! Jika masih panjang jalanku, akankah itu menjadi bagian pelayananku kelak? Ataukah dengan menahankan perih ini akan berbuah menjadi hormatMu?


Selidiki aku Bapa. Hancurkan aku lebih lagi apabila Kau mendapati kesombongan itu masih berakar dalam hatiku. Remukkan aku bila bejana ini rusak oleh egoku. Murnikan aku dalam apiMu. Jadikan aku baru, Bapa. Dan pakailah aku jadi alat yang berguna di RumahMu, tempat yang kutuju...


(rindu RumahMu... 07042011)

No comments: