Sunday, February 10, 2019

Kaya dan Miskin

Lukas 16:19-23 (TB)  "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.  Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.
Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.  Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.

Seorang sahabat saya pernah bertanya, mengapa Tuhan mengizinkan penderitaan, jika Tuhan Maha Kuasa mengapa dia seperti kurang berkuasa mengatur dunia yang penuh dengan penderitaan di mana2.
Jika kita membaca perumpamaan ini dan merenungkan penderitaan Lazarus, ya, mengapa Tuhan mengizinkan Lazarus mengalami kemiskinan, sakit parah, dan kelaparan? Lebih daripada itu, Tuhan entah kenapa dalam perumpamaan ini menaruh Lazarus telantar di depan rumah orang kaya yang jahat! Orang kaya yang kaya raya, suka pamer, dan sama sekali tidak punya kebaikan hati untuk berbagi meskipun melihat penderitaan sesamanya tepat di depan matanya. Mengapa Tuhan tidak membimbing Lazarus duduk di depan rumah orang kaya yang baik hati? Atau mengapa Tuhan tidak segera saja mengakhiri penderitaan Lazarus dengan segera mengambil nyawanya? Apa Tuhan tidak mampu mengubah hati si orang kaya? Apa Tuhan tidak mampu menyembuhkan Lazarus atau segera mengakhiri penderitannya dengan kematian? Apa Tuhan tidak mampu melakukannya?

Yesaya 55:9 (TB)  Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

Keterbatasan otak manusia sebagai ciptaan takkan pernah mampu mencapai pemikiran Sang Pencipta.
Banyak hal yang Tuhan ingin ajarkan kepada kita melalui perumpamaan ini. Namun dalam hal memahami penderitaan Lazarus, ada satu hal yang bisa kita maknai. Lazarus mendapat kehormatan untuk membuka pintu kasih karunia bagi si orang kaya. Tuhan mau menunjukkan kasihNya kepada si orang kaya dengan memberinya kesempatan untuk bertobat dan mendapat keselamatan melalui perbuatan yang sesuai dengan Taurat. Kitab-kitab para nabi yang dipegang oleh orang Yahudi telah memiliki petunjuk keselamatan, janji akan berkat dan kutuk, di antaranya adalah kewajiban terhadap orang miskin.
Imamat 25:35 (TB)  "Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang, supaya ia dapat hidup di antaramu.
Namun sayang, si orang kaya tidak merespon kesempatan yang diberikan Tuhan.
Hingga terlambat.

Di sini tampak perbedaan kualitas antara Lazarus dan si orang kaya. Lazarus dalam kemiskinan dan penderitaannya tidak kehilangan pengharapan dan tekad, ia ingin menghilangkan lapar dan tetap berharap bisa mendapat remah2 dari meja orang kaya tersebut sebagai wujud akan janji pemeliharaan Tuhan. Lazarus mungkin terlalu lemah untuk pindah ke tempat lain, sehingga dalam hati kecilnya Lazarus tampaknya mengerti pula hati Tuhan untuk mengizinkan dirinya menderita dan mendapat bantuan dari orang kaya tersebut agar orang kaya itu menunjukkan buah ketaatan. 

Seperti halnya yang diistilahkan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus bersedia menerima bantuan dari jemaat agar kebaikan jemaat tersebut dapat diperhitungkan sebagai suatu buah yang memperbesar keuntungan mereka (Filipi 4:17. Orang2 yang miskin dan menderita terkadang Tuhan tempatkan di sekeliling kita untuk kebaikan kita sendiri, memberi kita kesempatan untuk menunjukkan buah2 pertobatan dengan melakukan perbuatan baik. Pada waktu Tuhan Ia pun akan menjadikan semua indah pada waktunya bagi mereka yang menderita, meskipun itu tidak dinikmati di dalam dunia melainkan dalam kekekalan, yaitu bagi mereka yang senantiasa berharap dan percaya akan providensia Allah.


- IR, 10022019

Wednesday, January 9, 2019

Harta

Matius 6:21 (TB)  "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."

Harta bukanlah selalu berupa uang atau benda. Harta adalah sesuatu yang berharga. Sesuatu yang kita rawat dan lindungi. Sesuatu yang tanpanya kita akan merasa tiada, rentan, kehilangan makna.
Teori2 psikologi mengenai "attachment" dan "cathexis" pada dasarnya merujuk pada kelekatan dan penggunaan energi mental yang besar terhadap hal yang disebut "harta" ini. Respon mental seseorang terhadap kegagalan proses ini berupa cikal bakal terjadinya neurosis.
Firman Tuhan mengingatkan kita untuk melekatkan diri pada "harta" yang sejati, agar kita terhindar dari emosi negatif. Fokus cinta kepada kefanaan tak ayal akan menyimpan ancaman internal akan potensi suatu kehilangan. Fokus cinta pada yang kekal akan senantiasa mengalirkan damai sejahtera yang datang dari iman dan pengharapan akan sesuatu yang takkan binasa.
Rumah, jabatan, pekerjaan, suami, orangtua, anak, kecantikan, kesehatan, semua adalah kesementaraan, sementara pengenalan akan Allah dan ketaatan pada FirmanNya memiliki buah kekekalan.
Sebagai manusia aktualisasi diri merupakan hal yang sangat penting. Jika dilakukan dengan benar akan membentuk kepribadian yang matang, namun jika tidak, maka akan berbalik menyerang diri sendiri. Kebutuhan aktualisasi diri ini terkadang menjadi "harta" yang salah ketika telah dilakukan secara berlebihan dan tidak pada tempatnya. Firman Tuhan juga menegur ini sebagai suatu wujud dosa kesombongan yang tidak disukai Tuhan.
Amsal 8:13 (TB)  "Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat." 
Saat kita mengejar aktualisasi diri, kita bukan saja merugikan diri sendiri karena melekatkan diri pada kebanggaan yang fana, namun juga berdosa terhadap Tuhan, bahkan berlaku tidak taat pada ketetapan Kristus akan syarat menjadi muridNya, yaitu "menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti jejakNya" (bdk Matius 6:24)!
Aktualisasi diri selalu bersumber dari gambar diri dan konsep diri. Gambar diri dan konsep diri yang benar pasti akan menuntun pada aktualisasi diri yang benar. Sebagai ciptaan yang baru, gambar diri dan konsep diri kita telah diperbaharui seutuhnya, maka sikap aktualisasi diri yang akan muncul pastilah berupa buah Roh (bdk Galatia 5:22-23 kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri) dan bukanlah kebencian, kedengkian, kekuatiran, ketamakan, dan lain sebagainya yang adalah buah kedagingan.
Apabila perilaku kita mulai menampakkan  kedagingan, penting untuk menguji hati apakah kita sedang memelihara "harta" yang salah? Terlebih lagi apabila kita mulai merasa tertekan, kuatir dan sedih, periksa kembali hati kita ke "harta" yang mana kita sedang melekatkan hati kita? Dan segeralah kembalikan segala kemuliaan bagi Allah Bapa di Sorga.

Matius 6:19-20, 25, 27, 31-34 (TB)  
"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.
"Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."
--------

I learned the hard way. The world is really not an easy place to learn and practice humility. So help me Lord.🙏

Thursday, November 1, 2018

Menghormati Orangtua

Efesus 6:2-3 (TB)  Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. 

Ayat ini menegaskan bahwa menghormati ayah dan ibu adalah suatu "perintah yang penting". Di dalam perintah yg lain tidak ada janji, hanya di dalam perintah ke-5: Keluaran 20:12 (TB)  "Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu" ditemukan sebuah janji suatu upah dari ketaatan pada perintah tersebut.

Terkadang kita yang beranjak dewasa atau telah dewasa mulai  menyadari bahwa banyak sekali kekurangan orangtua kita, bahkan tindak tanduknya yang tidak sesuai dengan tuntunan Firman  Allah. Hal ini tidak semestinya menjadi alasan untuk tidak menghormati orangtua kita. Karena kita menghormati orangtua atas status mereka sebagai orangtua kita, orang-orang yang secara khusus dipilih oleh Allah untuk menghadirkan kita ke dunia. Kita bukan diwajibkan menghormati orangtua karena kualitas mereka sebagai orangtua, karena itu adalah bagian Allah untuk menilainya. 

"Respect our parents for their status as parents not by their parenting qualities."

Tuhan yg menetapkan kita menjadi anak dari orangtua kita, maka sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita utk melawan ketetapan Tuhan.

How to respect your parents?

1. Listen

Amsal 1:8 (TB)  Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu 

Amsal 4:1 (TB)  Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, 

2. Appreciate

Amsal 23:22 (TB)  Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua. 

Tidak ada orangtua yang sempurna, tapi kasih sayang orangtua selalu sempurna.

3. Hidup dalam kebenaran

3 Yohanes 1:3-4 (TB)  Sebab aku sangat bersukacita, ketika beberapa saudara datang dan memberi kesaksian tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran. Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.