Satu masalah besar yang dihadapi manusia adalah
kecenderungan membenci diri sendiri. Oh, ya. We all hate ourselves! Yang
membedakan kita (yang menyebut diri “normal”) dengan mereka yang menderita
depresi atau menyalahgunakan narkoba adalah pengekspresian kebencian itu.
Siapakah manusia yang kita sebut berbahagia? Para artis?
Bukankah justru mereka memiliki kecenderungan kebiasaan yang merusak diri
sendiri? Kalau begitu siapa? Orang kaya? Dokter? Hah! Pada kenyataannya
kekayaan tidak mampu membahagiakan seseorang atau mengisi relung kosong yang
selalu terasa sepi dalam hati. Bahkan seseorang yang dianggap terpandang dan
pekerjaannya dipandang mulia, sebut saja seperti seorang dokter, membenci diri
mereka sendiri karena tak ada seorang dokterpun yang mampu mengatasi persoalan
seorang pasien sampai benar-benar tuntas. Pengobatan dan penatalaksanaan yang
diberikan bagaimanapun baiknya tak lain hanyalah screensaver, yang tatkala riuh
kesibukannya mereda dan dia merenungkan pasien-pasiennya satu demi satu, dia
akan membenci dirinya hingga taraf tertentu karena tidak mampu memberi apa yang
sesungguhnya dibutuhkan pasien. Bahkan dokter-dokter yang materialistis pun sesungguhnya
sedang menghukum diri mereka sendiri dengan cara meminta bayaran yang tidak
wajar dan mengizinkan diri mereka dibenci oleh masyarakat—dia membenci diri tanpa
disadari oleh dirinya yang puas hati dengan kefanaannya.
Manusia selalu tampak egois dan mau memuaskan diri. Apakah karena terlalu mencintai diri? Berhenti di sini. Tanyakan diri Anda. Apakah upaya kita memuaskan diri yang tiada puasnya--bagaikan melempar benda-benda ke lubang hitam galaksi--bukankah justru berasal dari perasaan rendah diri yang terselubung? Ya. Kita cenderung membenci diri kita yang tak berdaya ini, kita ingin menyangkali kenistaan diri kita, betapa kita tak ingin orang lain merendahkan diri kita, kita harus agung! Karena betapa bencinya kita akan keburukan diri kita yang sesungguhnya! Akibatnya kita menghalalkan berbagai cara untuk membuat diri kita terasa berharga, termasuk dengan membuat orang lain merasa tak berarti.

Kebencian terhadap diri sendiri ini sesungguhnya bersumber
dari gambar Allah yang rusak saat kita jatuh ke dalam dosa. Tanpa kita sadari
alam bawah sadar kita merindukan kedekatan kita dengan TUHAN. Beberapa peneliti
bahkan dengan berani menyebut titik ini sebagai “the God Spot”. Kelekatan yang
direnggut itulah yang menyisakan ruang kosong yang hanya bisa diisi oleh Dia.
Selama Kristus belum menjembatani kita dengan Bapa, ruang kosong itu akan tetap
terbuka, kosong, busuk, perih, dan sepi. Tanpa kita sadari kita membawa
perasaan tak layak yang disebabkan oleh rusaknya gambar Allah yang sempurna
dalam diri kita. Kita akan selalu merasa tidak layak, tidak berharga, tidak
dicintai, meskipun kita di mata dunia sesungguhnya adalah seorang yang
cantik/tampan, kaya, pintar, berkuasa, dicintai karena baik dan murah hati, bahkan
dihargai karena taat beragama, karena yang kita rindukan cinta, pengakuan, dan
penghargaannya, adalah yang datang dari TUHAN. Seperti dulu, ketika kita masih
berjalan bersisian denganNYA di tamanNYA, bercakap-cakap dan merasakan sukacita
dan bahagia sejati, perasaan eksaltasi yang murni.
Pergumulan inilah yang dibawa oleh keturunan Adam di segala tempat
dan abad. Manusia mencari-cari dimana bisa menemukan rasa cinta dan penghargaan
yang bisa membuatnya merasa “ada”.
Dalam sejarah gereja, Allah selalu rindu membuat jembatan
itu. Namun Ia tak dapat menyangkali kekudusanNya. Kita telah berdosa dan
kehilangan kemuliaan Allah, kita telah rusak dan tidak kudus, dan betapapun
besarnya cinta TUHAN pada kita, DIA adalah kudus, dan segala yang tidak kudus
akan binasa jika mendekati kekudusanNya. TUHAN memilih bangsa Israel untuk
dikuduskan bagi DIA, menjadi perantara untuk rencana pemulihan agung yang sudah
dirancangnya sedemikian cermat. TUHAN menurunkan Taurat sebagai bayangan dari
apa yang sesungguhnya merupakan kunci keselamatan, diberikanNya serangkaian
aturan yang mengikat dan merinci apa yang dosa yang harus dihukum serta apa
yang tidak kudus dan bagaimana menguduskannya. Namun dalam nubuat-nubuat
melalui nabi-nabiNya TUHAN selalu menyuruh umatNya bersabar dan menantikan
keselamatan yang sejati yang masih akan datang bagi seluruh umat manusia
melalui bangsa Israel.
Dan ketika Yesus datang, haleluya, kita paham.
Roma 10:4 “Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat,
sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.” Siapakah Yesus?
Yesus adalah kegenapan hukum Taurat, dan Roma 13:10 mengatakan bahwa “kasih
adalah kegenapan hukum Taurat”, jadi berarti Yesus = Kasih!
Yesus membuat Kesepuluh Hukum dan semua aturan dalam Taurat
Musa menjadi demikian “sederhana” dengan berkata: (Matius 22:37-40) "Kasihilah
Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan
segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum
yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti
dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan
kitab para nabi."
Kunci dari keselamatan, kunci dari keutuhan manusia seperti
keadaan mula-mula, adalah menyatu kembali dengan TUHAN dengan cara menjadi
kudus kembali. Jika Taurat Musa mengajarkan kekudusan, dan seluruh hukum Taurat
berintikan KASIH, dan dalam KASIH Kristus telah mati menjadi penebusan bagi
dosa-dosa kita, maka benarlah logika berputar bahwa hanya dengan PERCAYA saja
dan MENERIMA Dia sebagai TUHAN dan Juruselamat akan membuat kita dikuduskan.
Melakukan hukum Taurat -- Kudus -- Layak diterima TUHAN
Inti dari Taurat = KASIH
KASIH = YESUS KRISTUS
Menerima Yesus (Melakukan ajaran Yesus) -- Kudus -- Layak diterima
TUHAN!!!
“Sesederhana” itulah logika kebenaran Kristus.
Dan Yesus mengajarkan kesimpulan dari hukum Taurat sebagai
kunci kesempurnaan kita sebagai manusia baru yang telah dikuduskan olehnya:
- Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu
dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
- Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu
sendiri.
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap
jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Bagaimana kita mengasihi Tuhan?
Dengan TOTALITAS. Hati adalah
segenap emosi, senang, sedih, marah, semuanya ditujukan untuk kemuliaan Tuhan.
Jika kita senang, itu karena ada jiwa yang diselamatkan, ada firman yang
menguatkan, ada sukacita persekutuan. Jika kita sedih, itu karena ada jiwa yang
menolak Tuhan dan terhilang, ada kerinduan kepadaNya yang tak terpuaskan, ada perbuatan
kita yang menyakiti hati Tuhan. Jika kita marah, itu karena kekudusan Allah
kita dinodai, ada yang menyesatkan umat Tuhan, ada ketidakadilan bagi
orang-orang yang haknya perlu kita bela. Jiwa
yang dimaksud disini lebih tepat dalam terjemahan bahasa inggrisnya “soul”,
yang berarti semangat atau niat atau inti dari suatu ekspresi. Kita perlu
mengasihi Tuhan dari inti niat untuk mengekspresikannya dalam perbuatan, disini
artinya segala dorongan hati kita dalam melakukan apapun harus berdasar dari
cinta kita kepada Kristus.
Berbicara tentang emosi, dikaitkan dengan proses biologi
otak, merupakan hal yang normal jika emosi akan mudah berubah. Proses emosi
merupakan impuls sesaat yang melibatkan sebagian kecil saja bagian otak untuk
memprosesnya. Penatalaksanaan pasien dengan gangguan ekspresi emosi cenderung
lebih mudah ketimbang pasien dengan gangguan isi pikir yang kita sebut “waham”.
Pengobatan secara kimia tidak dapat mengobati waham yang adalah keyakinan yang
salah atau bahkan aneh mengenai sesuatu hal. Proses pembentukan isi pikir
melibatkan seluruh bagian otak mulai dari bagian otak yang menerima impuls
pancaindera, proses persepsi dan kognisi, respon emosi, hingga fungsi luhur
yang lebih tinggi yang melibatkan pengambilan keputusan, eksekusi tindakan, dan
fungsi memori. Karena itulah Tuhan tidak ingin kita mengasihi Dia hanya dengan
emosi kita saja, tapi dengan segenap akal
budi kita. Mindset kita harus diubahkan sedemikian rupa dalam pemahaman
yang benar akan eksistensi Tuhan. Mengasihi Dia berarti kita berusaha mengenal
Dia, mengetahui siapa Dia, sifat-sifatNya, dan mengerti isi hatiNya.
Mengasihi Tuhan, Allah kita, dengan segenap HATI, dan dengan
segenap JIWA, dan dengan segenap AKAL BUDI, berarti kita mengasihi TUHAN dengan
segenap totalitas eksistensi diri kita.
Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Seringkali
bagian ayat ini hanya kita fokuskan pada potongan awal kalimat ini, “kasihilah
sesamamu manusia”. Padahal hal yang mendasarinya, yang jauh lebih penting yang
ingin Yesus sampaikan pada kita sebelum kita mengasihi sesama adalah “mengasihi
diri sendiri”. Kalimat “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”
berarti kita harus mengasihi diri sendiri dulu barulah kita bisa memiliki
standar dan perspektif yang benar dalam mengasihi sesama. Bagaimana mungkin
kita mengatakan pada suami/istri kita, anak kita, kekasih kita, “Aku
mencintaimu”, tanpa kita punya konsep yang jelas apa itu cinta sebenarnya?
Bukankan itu sebenarnya hanya merupakan ungkapan egois semata yang didalamnya
terkandung kehausan kita untuk dicintai kembali sebagai balasannnya, menerima
perhatian, penghargaan, dan bahkan kekaguman dari obyek yang kita katakan kita
cintai?
Yesus yang adalah perwujudan CINTA, menunjukkan ini kepada
kita. Dia adalah manusia yang sempurna, karena hatinya melekat kepada Allah.
Tidak ada lubang kosong dalam hatinya yang dipenuhi borok dan ulat dosa
berkeriapan seperti hati kita. Yesus dalam kesempurnaanNya sanggup mengasihi
diriNya dengan sempurna karena Dia merasa berharga, dengan bangga Dia
menyatakan bahwa Dia dikasihi Allah dan karena itulah dia merasa sempurna.
Dalam cintaNya yang sempurna terhadap diriNya, Dia sanggup mencintai kita yang
berdosa ini tanpa mengharapkan imbal.
Disinilah terletak persoalan kita.
Jika tidak mungkin kita mencintai sesama sebelum mencintai diri kita, sanggupkah kita mengasihi diri kita tanpa sebelumnya merasakan kasih yang sejati dari Sang Sumber Cinta?
Membenci diri mencintai kekasih? Mustahil.