Thursday, February 27, 2014

PADA AWALNYA — ALLAH

PENCIPTA KITA

Bacaan: Kejadian 1
NATS: Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (Kejadian 1:1)

Bab pertama Alkitab membahas tentang persoalan hidup yang paling mendasar. Bagian ini menyatakan bahwa Allah mengadakan segala sesuatu. Hal ini seharusnya memengaruhi cara kita menjalani hidup.

Penulis kitab Kejadian membuat pernyataan radikal bahwa ada satu Allah. Tentunya kebenaran ini bertentangan tajam dengan politeisme dan penyembahan berhala pada zaman kuno. Gambaran masing-masing hari penciptaan mencela berbagai dewa yang dipuja oleh para penyembah berhala di zaman Musa, dan menyatakan bahwa semua itu bukanlah allah sama sekali. Mereka hanyalah ciptaan satu-satunya Allah tunggal yang benar dan hidup.

Pada hari yang pertama, dewa terang dan kegelapan disingkirkan; hari kedua, dewa laut dan langit; hari ketiga, dewa bumi dan tumbuh- tumbuhan; pada hari keempat, dewa matahari, bulan, dan bintang; hari kelima dan keenam, dewa binatang. Dan kemudian akhirnya, manusia. Meskipun semua orang dikaruniai oleh citra ilahi, mereka sebenarnya hanyalah makhluk ciptaan dan tidak boleh dipuja.

Penjelasan ini kemudian mendasari perjanjian bangsa Israel dengan Allah. Misalnya, mengapa Sepuluh Perintah Allah melarang penyembahan terhadap allah-allah yang lain? Karena hanya Allah yang menciptakan langit dan bumi. Mengapa pembunuhan tidak dapat dibenarkan? Karena manusia telah diciptakan serupa dengan gambar Allah.

Marilah kita menjadikan pengenalan terhadap Allah yang benar dan hidup menjadi tujuan kita —Haddon Robinson

Tuesday, February 25, 2014

Membenci Diri Mencintai Kekasih?

Satu masalah besar yang dihadapi manusia adalah kecenderungan membenci diri sendiri. Oh, ya. We all hate ourselves! Yang membedakan kita (yang menyebut diri “normal”) dengan mereka yang menderita depresi atau menyalahgunakan narkoba adalah pengekspresian kebencian itu.

Siapakah manusia yang kita sebut berbahagia? Para artis? Bukankah justru mereka memiliki kecenderungan kebiasaan yang merusak diri sendiri? Kalau begitu siapa? Orang kaya? Dokter? Hah! Pada kenyataannya kekayaan tidak mampu membahagiakan seseorang atau mengisi relung kosong yang selalu terasa sepi dalam hati. Bahkan seseorang yang dianggap terpandang dan pekerjaannya dipandang mulia, sebut saja seperti seorang dokter, membenci diri mereka sendiri karena tak ada seorang dokterpun yang mampu mengatasi persoalan seorang pasien sampai benar-benar tuntas. Pengobatan dan penatalaksanaan yang diberikan bagaimanapun baiknya tak lain hanyalah screensaver, yang tatkala riuh kesibukannya mereda dan dia merenungkan pasien-pasiennya satu demi satu, dia akan membenci dirinya hingga taraf tertentu karena tidak mampu memberi apa yang sesungguhnya dibutuhkan pasien. Bahkan dokter-dokter yang materialistis pun sesungguhnya sedang menghukum diri mereka sendiri dengan cara meminta bayaran yang tidak wajar dan mengizinkan diri mereka dibenci oleh masyarakat—dia membenci diri tanpa disadari oleh dirinya yang puas hati dengan kefanaannya.

Manusia selalu tampak egois dan mau memuaskan diri. Apakah karena terlalu mencintai diri? Berhenti di sini. Tanyakan diri Anda. Apakah upaya kita memuaskan diri yang tiada puasnya--bagaikan melempar benda-benda ke lubang hitam galaksi--bukankah justru berasal dari perasaan rendah diri yang terselubung? Ya. Kita cenderung membenci diri kita yang tak berdaya ini, kita ingin menyangkali kenistaan diri kita, betapa kita tak ingin orang lain merendahkan diri kita, kita harus agung! Karena betapa bencinya kita akan keburukan diri kita yang sesungguhnya! Akibatnya kita menghalalkan berbagai cara untuk membuat diri kita terasa berharga, termasuk dengan membuat orang lain merasa tak berarti.

Kebencian terhadap diri sendiri ini sesungguhnya bersumber dari gambar Allah yang rusak saat kita jatuh ke dalam dosa. Tanpa kita sadari alam bawah sadar kita merindukan kedekatan kita dengan TUHAN. Beberapa peneliti bahkan dengan berani menyebut titik ini sebagai “the God Spot”. Kelekatan yang direnggut itulah yang menyisakan ruang kosong yang hanya bisa diisi oleh Dia. Selama Kristus belum menjembatani kita dengan Bapa, ruang kosong itu akan tetap terbuka, kosong, busuk, perih, dan sepi. Tanpa kita sadari kita membawa perasaan tak layak yang disebabkan oleh rusaknya gambar Allah yang sempurna dalam diri kita. Kita akan selalu merasa tidak layak, tidak berharga, tidak dicintai, meskipun kita di mata dunia sesungguhnya adalah seorang yang cantik/tampan, kaya, pintar, berkuasa, dicintai karena baik dan murah hati, bahkan dihargai karena taat beragama, karena yang kita rindukan cinta, pengakuan, dan penghargaannya, adalah yang datang dari TUHAN. Seperti dulu, ketika kita masih berjalan bersisian denganNYA di tamanNYA, bercakap-cakap dan merasakan sukacita dan bahagia sejati, perasaan eksaltasi yang murni.

Pergumulan inilah yang dibawa oleh keturunan Adam di segala tempat dan abad. Manusia mencari-cari dimana bisa menemukan rasa cinta dan penghargaan yang bisa membuatnya merasa “ada”.
Dalam sejarah gereja, Allah selalu rindu membuat jembatan itu. Namun Ia tak dapat menyangkali kekudusanNya. Kita telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah, kita telah rusak dan tidak kudus, dan betapapun besarnya cinta TUHAN pada kita, DIA adalah kudus, dan segala yang tidak kudus akan binasa jika mendekati kekudusanNya. TUHAN memilih bangsa Israel untuk dikuduskan bagi DIA, menjadi perantara untuk rencana pemulihan agung yang sudah dirancangnya sedemikian cermat. TUHAN menurunkan Taurat sebagai bayangan dari apa yang sesungguhnya merupakan kunci keselamatan, diberikanNya serangkaian aturan yang mengikat dan merinci apa yang dosa yang harus dihukum serta apa yang tidak kudus dan bagaimana menguduskannya. Namun dalam nubuat-nubuat melalui nabi-nabiNya TUHAN selalu menyuruh umatNya bersabar dan menantikan keselamatan yang sejati yang masih akan datang bagi seluruh umat manusia melalui bangsa Israel.

Dan ketika Yesus datang, haleluya, kita paham.

Roma 10:4 “Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.” Siapakah Yesus? Yesus adalah kegenapan hukum Taurat, dan Roma 13:10 mengatakan bahwa “kasih adalah kegenapan hukum Taurat”, jadi berarti Yesus = Kasih!

Yesus membuat Kesepuluh Hukum dan semua aturan dalam Taurat Musa menjadi demikian “sederhana” dengan berkata: (Matius 22:37-40) "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Kunci dari keselamatan, kunci dari keutuhan manusia seperti keadaan mula-mula, adalah menyatu kembali dengan TUHAN dengan cara menjadi kudus kembali. Jika Taurat Musa mengajarkan kekudusan, dan seluruh hukum Taurat berintikan KASIH, dan dalam KASIH Kristus telah mati menjadi penebusan bagi dosa-dosa kita, maka benarlah logika berputar bahwa hanya dengan PERCAYA saja dan MENERIMA Dia sebagai TUHAN dan Juruselamat akan membuat kita dikuduskan.

Melakukan hukum Taurat -- Kudus -- Layak diterima TUHAN
Inti dari Taurat = KASIH
KASIH = YESUS KRISTUS
Menerima Yesus (Melakukan ajaran Yesus) -- Kudus  -- Layak diterima TUHAN!!!
“Sesederhana” itulah logika kebenaran Kristus.

Dan Yesus mengajarkan kesimpulan dari hukum Taurat sebagai kunci kesempurnaan kita sebagai manusia baru yang telah dikuduskan olehnya:

  • Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
  • Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.


Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Bagaimana kita mengasihi Tuhan? Dengan TOTALITAS. Hati adalah segenap emosi, senang, sedih, marah, semuanya ditujukan untuk kemuliaan Tuhan. Jika kita senang, itu karena ada jiwa yang diselamatkan, ada firman yang menguatkan, ada sukacita persekutuan. Jika kita sedih, itu karena ada jiwa yang menolak Tuhan dan terhilang, ada kerinduan kepadaNya yang tak terpuaskan, ada perbuatan kita yang menyakiti hati Tuhan. Jika kita marah, itu karena kekudusan Allah kita dinodai, ada yang menyesatkan umat Tuhan, ada ketidakadilan bagi orang-orang yang haknya perlu kita bela. Jiwa yang dimaksud disini lebih tepat dalam terjemahan bahasa inggrisnya “soul”, yang berarti semangat atau niat atau inti dari suatu ekspresi. Kita perlu mengasihi Tuhan dari inti niat untuk mengekspresikannya dalam perbuatan, disini artinya segala dorongan hati kita dalam melakukan apapun harus berdasar dari cinta kita kepada Kristus.

Berbicara tentang emosi, dikaitkan dengan proses biologi otak, merupakan hal yang normal jika emosi akan mudah berubah. Proses emosi merupakan impuls sesaat yang melibatkan sebagian kecil saja bagian otak untuk memprosesnya. Penatalaksanaan pasien dengan gangguan ekspresi emosi cenderung lebih mudah ketimbang pasien dengan gangguan isi pikir yang kita sebut “waham”. Pengobatan secara kimia tidak dapat mengobati waham yang adalah keyakinan yang salah atau bahkan aneh mengenai sesuatu hal. Proses pembentukan isi pikir melibatkan seluruh bagian otak mulai dari bagian otak yang menerima impuls pancaindera, proses persepsi dan kognisi, respon emosi, hingga fungsi luhur yang lebih tinggi yang melibatkan pengambilan keputusan, eksekusi tindakan, dan fungsi memori. Karena itulah Tuhan tidak ingin kita mengasihi Dia hanya dengan emosi kita saja, tapi dengan segenap akal budi kita. Mindset kita harus diubahkan sedemikian rupa dalam pemahaman yang benar akan eksistensi Tuhan. Mengasihi Dia berarti kita berusaha mengenal Dia, mengetahui siapa Dia, sifat-sifatNya, dan mengerti isi hatiNya.

Mengasihi Tuhan, Allah kita, dengan segenap HATI, dan dengan segenap JIWA, dan dengan segenap AKAL BUDI, berarti kita mengasihi TUHAN dengan segenap totalitas eksistensi diri kita.

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Seringkali bagian ayat ini hanya kita fokuskan pada potongan awal kalimat ini, “kasihilah sesamamu manusia”. Padahal hal yang mendasarinya, yang jauh lebih penting yang ingin Yesus sampaikan pada kita sebelum kita mengasihi sesama adalah “mengasihi diri sendiri”. Kalimat “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” berarti kita harus mengasihi diri sendiri dulu barulah kita bisa memiliki standar dan perspektif yang benar dalam mengasihi sesama. Bagaimana mungkin kita mengatakan pada suami/istri kita, anak kita, kekasih kita, “Aku mencintaimu”, tanpa kita punya konsep yang jelas apa itu cinta sebenarnya? Bukankan itu sebenarnya hanya merupakan ungkapan egois semata yang didalamnya terkandung kehausan kita untuk dicintai kembali sebagai balasannnya, menerima perhatian, penghargaan, dan bahkan kekaguman dari obyek yang kita katakan kita cintai?

Yesus yang adalah perwujudan CINTA, menunjukkan ini kepada kita. Dia adalah manusia yang sempurna, karena hatinya melekat kepada Allah. Tidak ada lubang kosong dalam hatinya yang dipenuhi borok dan ulat dosa berkeriapan seperti hati kita. Yesus dalam kesempurnaanNya sanggup mengasihi diriNya dengan sempurna karena Dia merasa berharga, dengan bangga Dia menyatakan bahwa Dia dikasihi Allah dan karena itulah dia merasa sempurna. Dalam cintaNya yang sempurna terhadap diriNya, Dia sanggup mencintai kita yang berdosa ini tanpa mengharapkan imbal.

Disinilah terletak persoalan kita.

Jika tidak mungkin kita mencintai sesama sebelum mencintai diri kita, sanggupkah kita mengasihi diri kita tanpa sebelumnya merasakan kasih yang sejati dari Sang Sumber Cinta?
Membenci diri mencintai kekasih? Mustahil.

Sunday, February 23, 2014

ETIKA KABAR BAIK

ETIKA KABAR BAIK

Bacaan: 2 Raja-raja 7:3-9
NATS: Tidak patut yang kita lakukan ini. Hari ini ialah hari kabar baik, tetapi kita ini tinggal diam saja (2 Raja-raja 7:9)

Apabila seorang ilmuwan berhasil menemukan obat kanker, kita pasti mengharapkan obat tersebut disebarkan ke seluruh dunia. Etika dasar menuntut agar kabar baik tidak disimpan sebagai rahasia.

Ketika raja Siria mengepung kota Samaria, persediaan makanan dihentikan. Dan empat laki-laki penderita kusta memutuskan bahwa mereka lebih baik mati di tangan bangsa Siria daripada harus mati menahan lapar. Mereka pun akhirnya menyerahkan diri kepada musuh. Akan tetapi, ketika mereka tiba di perkemahan musuh, ternyata tidak ada orang di sana. Rupanya pasukan musuh sudah melarikan diri di malam hari.

Makanan tersebar di mana-mana. Keempat orang itu makan dan minum serta mengumpulkan barangbarang bagi diri mereka sendiri. Mereka sebenarnya tergoda untuk merahasiakan kabar baik ini. Tetapi kemudian mereka ingat terhadap penduduk Samaria yang kelaparan. Mereka berkata satu kepada yang lain, “Tidak patut yang kita lakukan ini” (2 Raja-raja 7:9). Maka mereka pun menjadi penginjil, yaitu pembawa kabar baik. Pada akhirnya, inti penginjilan adalah: satu orang yang kelaparan memberitahukan kepada orang kelaparan yang lain di mana dapat menemukan makanan.

Anda dan saya sudah menemukan bahwa keselamatan itu ada di dalam Yesus Kristus. Menyimpan kebenaran ini bagi diri sendiri merupakan pelanggaran terhadap integritas dasar. Jika kita sudah menemukan obat bagi hati nurani yang bersalah, jika kita telah menemukan makanan kehidupan, kita wajib membagikannya kepada orang lain —Haddon Robinson


PENGINJILAN BAGAIKAN SEORANG PENGEMIS YANG MEMBERI TAHU
PENGEMIS LAIN DI MANA ROTI DAPAT DITEMUKAN