jalan ini begitu panjang dan bebatuannya begitu tajam?
Aku lelah
lelah
Sekujur tubuhku perih
hatiku merintih
Pengetahuan ini yang membuatku merana tak ternyana
Andaikan Bapa, andaikan
andaikan aku tak tahu kesudahan bagi mereka
betapa siksa neraka seribu kali lipat sudah menanti di depan mata
Andaikan aku hidup dalam abai seperti mereka,
buta seperti mereka
berpesta pora di tebing Hades yang menganga
pasti cawan itu tlah kutepis
Tapi mengapa
mengapa aku harus mampu melihat betapa sia-sianya dunia
mengapa aku harus tahu betapa ngerinya roh yang binasa
mengapa aku mesti berduka akan kesudahan mereka yang berdosa
mengapa aku mesti demikian taat pada panggilan cinta???
Masih jauhkah bukit itu, Bapa?
Mataku bengkak oleh tangis dan cidera
tak dapat kulihat arah dengan mata dan indera
Namun hatiku terang melihatMu disana
menuntunku dengan cinta
Perih
Sakit
Lemah
Tapi lihatlah! Aku masih berjalan
Ya, tersungkur. Tapi bangkit.
Ya, terbeban. Tapi bernafas.
Ya, merintih. Bukan mengutuk.
Ya, menangis. Bukan menyerah.
Bapa,
tunggu
tunggu aku
Jalan ini berat
namun aku berjalan
pulang
ke rumahMu
(akupun via dolorosa bersamaMu, Yesusku.
Give me strength.)
14-3-2012
minggu-minggu sengsara
Published with Blogger-droid v2.0.4
