Hey!
Cinta tak sederhana. Hidup juga tak sederhana.
Dahulu di awal masa, cinta itu sederhana, hidup pun sederhana. Sesederhana memuja dan balas dicinta, meminta dan balas dijaga, memberi dan balas dipahami.
Manusia dicipta indah penuh dengan estetika. Keindahan itulah yang melahirkan hasrat, "passion", dorongan cinta yang besar, yang dulunya murni bersumber dari mata air cinta kasih Allah. Namun sejak sang ular tua yang licik memperdaya Hawa, hasrat manusia pun ternoda. Manusia tak lagi menatap ke atas dan merentang tangan ke luar, namun menatap ke dalam dan merengkuh mengambil. Passion tetaplah hasrat untuk mencinta, bahkan hingga rela meregang nyawa, namun hasrat terdalam yang dicinta adalah dirinya, bukan sesama. Dosa telah mencemarkan konsep cinta.
Passion of Christ juga cinta. Hasrat yang menggelora hingga pula akhirnya meregang nyawa. Namun cinta yang dimiliki Sang Hamassiah adalah cinta yang mula-mula, tidak ternoda oleh rayu si ular tua. KasihNya terentang dari awal dunia hingga akhir segala. Kasih yang melihat ke atas dan merentang tangan memberi seutuhnya.
Cinta semestinya sesederhana itu. Tak mesti pudar jika dia tak mau mendengar, atau padam jika dia tak lagi memberi ciuman, atau goyah jika dia membuat gigimu patah, atau berubah seiring masa yang bertambah.
Cinta itu sederhana, sesederhana mematuhi perintah tak terbantah. Dan memang itulah esensinya! Cinta adalah titah Allah, Sang Empunya Kehidupan. Maka cinta adalah nafas, kita berhenti hidup bila kita berhenti mencinta. Seperti Adam mati karena cintanya yang ternoda. Dia terpaksa menyambung nafasnya dengan darah beberapa ekor domba.
Namun bagi kita yang telah ditahirkan oleh Darah Anak Domba Allah, bukankah menjadi sederhana?
Simply loving, simply living, day by day, looking up, stretching outward.
Happy Sunday,
Gbu all.
"We know that we have passed from death unto life, because we love the brethren. He that loveth not his brother abideth in death." (1 John 3:14).
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment